Wawancara: Jonas Folger, sensasi rookie Yamaha Tech 3

Johann Zarco boleh saja mencuri perhatian di Qatar, tapi rekan setimnya di Yamaha Tech 3, Jonas Folger, juga tampak bakal membuat gebrakan besar pada debutnya di MotoGP.

Dari empat rookie di MotoGP, Folger mungkin satu-satunya pembalap yang tidak diperhitungkan ketika naik ke kelas premier. Apalagi jika melihat Alex Rins dan Sam Lowes yang berlabuh di tim pabikan, sedangkan Zarco begitu disorot karena statusnya sebagai dua kali juara dunia Moto2.

Meski berhasil meraih kemenangan di Brno 2016 dan mengoleksi beberapa podium, Folger tetap tidak dianggap sebagai sosok rookie yang perlu diperhitungkan. Belum lagi ditambah performanya di kelas 125cc/Moto3 – dua kali menang balapan tapi tak pernah di atas peringkat kelima pada klasemen.

“Ya, saya berharap demikian. Saya berharap untuk meningkat, terutama konsistensi sepanjang musim,” ucap Folger, ketika ditanya debut di MotoGP 2017, kepada Motorsport.com.

“Di kelas lebih bawah, saya selalu dalam situasi sulit. Mungkin saya akan mampu bertarung untuk gelar juara pada motor berbeda atau jika saya mengubah banyak hal.

“Tahun lalu, saya cepat di awal dan entah bagaimana kami kehilangan kepercayaan diri. Sulit untuk bekerja di luar apa yang harus saya ubah dan apa yang harus diubah tim pada motor.

“Kami banyak kesulitan sepanjang musim, tapi saya senang itu telah berakhir dan sangat bersyukur untuk berada di sini.

“Anda selalu bisa melihat bahwa Yamaha memiliki motor paling komplet sepanjang musim. Jadi, saya sangat bangga dan itu kenikmatan besar bagi saya untuk mengendarai Yamaha. Saya sangat beruntung.”

Sempat berpikir lelucon

Satu orang yang tidak perlu meyakinkan akan potensi Folger adalah bos Tech 3, Herve Poncharal, yang telah lama mengagumi pembalap berusia 23 tahun itu.

“Beberapa tahun lalu, saya berkomunikasi dengan Herve, dan dia selalu bercanda – atau setidaknya saya pikir itu lelucon – bahwa dia menginginkan saya dalam timnya suatu hari nanti,” tutur Folger.

“Akhirnya hal itu datang dan kami mulai berbicara pada awal 2016. Saya tidak pernah menganggap begitu serius, karena tidak pernah ada pembicaraan serius. Tapi pada akhirnya, dia menanggapi serius dan saya terkejut.”

Selama tes pramusim, Folger muncul sebagai kejutan besar. Ia mengalahkan Zarco dan menempati posisi ketujuh dalam tes pramusim terakhir di Qatar.

“Hari terakhir di Valencia, saya mencetak catatan waktu yang baik. Saya terkejut. Dan lalu ketika kami pergi ke Sepang, saya mampu beradaptasi cukup cepat,” ujarnya.

“Itu adalah momen ketika saya menyadari – bahkan pada trek berbeda, pada hari pertama saya bisa mencetak catatan waktu cukup baik. Saya juga bisa merasakan motor sangat kencang. Itulah momen saya menyadari Yamaha sangat cocok dengan saya.”

Terlalu berhati-hati di Qatar

Tes adalah satu hal, dan balapan juga satu hal yang lain. Folger mendapat pelajaran berat selama seri pembuka Qatar lalu.

Start dari posisi kedelapan, pembalap Jerman itu melorot turun pada lap pertama. Ia mengakui terlalu berhati-hati balapan dalam kondisi sulit dan dengan cuaca di Sirkuit Losail. Folger pun akhirnya finis ke-10.

“Terutama dalam lap pertama, saya kehilangan banyak posisi, yang mana itu disayangkan karena kami memiliki kecepatan begitu baik. Pada akhir balapan, saya berpikir kami memiliki kecepatan seperti pembalap di lima besar,” terangnya.

“Saya pikir, saya terlalu berhati-hati (pada lap pembuka) karena (cuaca) sedikit hujan dan start ditunda. Jadi, saya tidak yakin berapa banyak risiko yang harus diambil.

“Saya mungkin mengambil tidak cukup banyak. Saya terlalu berhati-hati dan semua pembalap menyalip saya, terutama pada lap-lap awal.”

Pembalap top dibuat terkesan

Kendati hanya finis ke-10, penampilan Folger tetap saja mengundang kekaguman dari sejumlah pembalap top yang telah berpengalaman.

“Folger mengejutkan (saat tes). Kami tahu dari Moto2 bahwa dia bagus, tapi bukan juara dunia seperti Zarco,” kata Valentino Rossi.

“Motor yang mereka miliki mungkin sedikit lebih mudah dikendarai dan pada level yang sangat tinggi. Yamaha adalah motor MotoGP yang hebat dan mudah dikendarai pembalap.

“Dalam balapan, dengan tekanan, mereka perlu waktu dan pengalaman – tapi mereka telah melakukan pekerjaan hebat.”

Ditanya bagaimana rasanya mendapat pujian seperti itu, Folger pun menjawab: “Itu menyenangkan! Vale dan semua pembalap adalah idola saya. Ketika saya masih kecil, saya memperhatikan mereka.

“Sekarang mereka memuji saya, dan itu membuat saya bangga. Itu menyenangkan dan saya merasa senang untuk berada di MotoGP.”

Start sempurna dilakukan Folger pada awal musim baru, lalu bagaimana dengan masa depan di MotoGP?

Dengan Rossi yang kini telah berusia 38 tahun, dan kontrak berakhir pada akhir 2018, tentu terbuka peluang bagi salah satu pembalap Tech 3 mendapatkan kursi di Yamaha.

Dan apa yang terjadi pada musim ini, juga dapat menentukan siapa saja pembalap yang berpeluang ditawari kontrak pabrikan pada 2019 nanti.

“Itu adalah mimpi saya,” tukas Folger, ketika disinggung perihal pabrikan Yamaha.

“Tapi pertama, saya harus menunjukkan hasil. Menunjukkan bahwa saya konsisten dan mampu bertarung saat balapan. Jalan masih panjang untuk dilalui.”

Laporan tambahan oleh Lena Buffa

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan MotoGP
Pembalap Jonas Folger
Tim Tech 3
Tipe artikel Interview
Tag jonas folger, motogp, rookie, wawancara eksklusif, yamaha tech 3