Fabio Quartararo, dari CEV Moto3 ke Tangga Juara MotoGP

Sebelum merajai MotoGP 2021, Fabio Quartararo adalah pembalap dengan koleksi dua titel CEV Moto3 Junior World Championship. Bagaimana perjalanan kariernya?

Fabio Quartararo, dari CEV Moto3 ke Tangga Juara MotoGP

Menjelang kejuaraan dunia Moto3 2015, Team Estrella Galicia 0,0 mengumumkan pembalap baru. Fabio Quartararo namanya. Sosoknya memang masih asing untuk sebagian besar pencinta balap Grand Prix. Namun, kala itu, dia dilabeli The Next Marc Marquez.

Hal ini lantaran keberhasilan sang pembalap menjuarai feeder series FIM CEV selama dua tahun beruntun, yakni dari 2013 dan 2014. Status sebagai jawara tak pelak menjadikan Quartararo muda digadang-gadang bakal menjelma menjadi bintang di masa depan.

Debut semusim penuh di Moto3 2015 berakhir manis. Pemuda asal Prancis itu berhasil menduduki peringkat ke-10 klasemen akhir dan mengantongi 92 poin. Berkat torehan apiknya itu, Leopard Racing menawarinya kontrak untuk bergabung pada 2016.

Kendati masih dapat berada dalam 15 klasemen akhir, Quartararo kalah dari dua rekan setimnya, Joan Mir serta Andrea Locatelli. Toh, meski begitu, Pons Racing tetap menilainya sebagai pembalap yang punya potensi lebih. El Diablo pun diboyong naik kelas ke Moto2 2017.

Fabio Quartararo, Leopard Racing

Fabio Quartararo, Leopard Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Dalam penampilan perdananya sepanjang tahun itu, Quartararo memetik hasil terbaik finis keenam di Misano. Walau tanpa podium, kecepatan mengesankannya telah menarik perhatian Speed Up untuk menjadikannya sebagai rider anyar pada Moto2 2018.

Boleh dibilang, saat itu merupakan musim kebangkitan Quartararo. Usai kegagalan mendulang poin di Qatar dan Argentina, sang pembalap mulai konsisten mencetak angka setiap kali turun balapan. Kemenangan pertama akhirnya berhasil dibukukan di Catalunya 2018.

Jumlah kemenangan Quartararo sebenarnya bisa bertambah menjadi dua, andai saja tak didiskualifikasi lantaran tekanan ban dari motor Speed Up yang digebernya di bawah minimum yang dipersyaratkan. Namun, itu tak mengubah pertimbangan Petronas SRT.

Ya, tim satelit Yamaha tersebut memiliki andil besar di balik kesuksesan Quartararo menjadi juara dunia MotoGP 2019. Perjudian besar yang dilakukan Team Principal, Razlan Razali, membuahkan hasil manis. El Diablo tampil mengejutkan sepanjang debut di kelas premier.

Selain berhasil mengamankan titel Rookie of The Year, dia mencatatkan enam pole position, tujuh podium serta dua fastest lap. Kembali memperkuat Petronas SRT pada 2020, Quartararo langsung jadi penantang kuat dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP.

Sayangnya, ketidakkonsistenan kinerja mengendurkan laju kencangnya. Quartararo kedodoran selama paruh kedua musim. Hingga akhirnya dia harus menerima kenyataan hanya bertengger di peringkat kedelapan klasemen akhir. Sedangkan titel diklaim oleh Joan Mir.

Belajar dari pengalaman, dan terutama kesalahan, Quartararo bertekad bangkit untuk menghadapi MotoGP 2021. Demi mengendalikan emosinya yang kerap meledak-ledak, dia pun memutuskan untuk bekerja sama dengan psikolog olahraga. Dan rupanya berimbas positif.

Dibandingkan tahun lalu, Quartararo musim ini jauh lebih baik. Juga tentunya lebih konsisten. Pendekatan setiap akhir pekan balapan turut berubah. Penampilan yang lebih tenang ini akhirnya menghasilkan 5 kemenangan, 10 podium, 5 pole position, serta sebuah titel dunia.

World Champion Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing

World Champion Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Secara keseluruhan, strategi lama kecepatan dan konsistensi adalah kunci kesuksesan. Namun, apa yang membuat Quartararo benar-benar melangkah ke tangga juara adalah kemampuan menjaga fokus tanpa henti, menunjukkan tekad yang tenang, dan secara konsisten mencetak poin.

“Sejujurnya, tahun lalu kami berjuang untuk memiliki motor pabrikan tetapi dengan Covid-19 dan segalanya, motor 2019 terasa lebih baik. Tetapi dengan motor 2021, saya sebenarnya merasa jauh lebih baik. Feeling dengan bagian depan itulah yang membuat saya menang tahun ini,” ucapnya mengutip MotoGP.com.

Kami tahu kekuatan adalah sesuatu yang harus kami perbaiki, tetapi feeling pada pengereman untuk menyalip jauh lebih tinggi dari 2019 dan 2020. Yamaha telah bekerja keras, kami masih memiliki banyak hal untuk ditingkatkan untuk tahun depan karena kami tahu bahwa kekuatan adalah sesuatu yang penting.

“Saat ini, dengan motor yang saya kendarai, saya menikmatinya. Juga hari ini saya mengalami banyak kesulitan dengan bagian depan. Namun, saya masih sangat menikmatinya, dan itu adalah hal terpenting hari ini.”

Baca Juga:

Berikut statistik karier balap Fabio Quartararo:

Grand Prix Pertama: Moto3 Qatar 2015.
Pole Position Pertama: Moto3 Spanyol 2015.
Podium Pertama: Moto3 Amerika 2015.
Kemenangan Pertama: Moto2 Catalunya 2018.
Total Balap Grand Prix: 116 (49 di MotoGP).
Jumlah Kemenangan: 9 (8 di MotoGP).
Jumlah Podium: 24 (20 di MotoGP).
Pole position: 18 (15 di MotoGP).
Fastest Lap: 10 (9 di MotoGP).
Gelar Juara Dunia: MotoGP (2021).

Karier Kejuaraan Dunia:
2015: Moto3 – P10, Honda, 13 balapan, 92 poin.
2016: Moto3 World Championship – P13, KTM, 18 balapan, 83 poin.
2017: Moto2 World Championship – P13, Kalex, 18 balapan, 64 poin.
2018: Moto2 World Championship – P10, Speed Up, 18 balapan, 138 poin.
2019: MotoGP World Championship – P5, Yamaha, 19 balapan, 192 poin.
2020: MotoGP World Championship – P8, Yamaha, 14 balapan, 127 poin.
2021: MotoGP World Championship – P1, Yamaha, 16 balapan, 267 poin.

dibagikan
komentar
Valentino Rossi: Francesco Bagnaia Tak Mau Dengar Saran Saya
Artikel sebelumnya

Valentino Rossi: Francesco Bagnaia Tak Mau Dengar Saran Saya

Artikel berikutnya

Maverick Vinales Makin Nyaman Geber RS-GP

Maverick Vinales Makin Nyaman Geber RS-GP
Muat komentar