12 Pembalap Terbaik yang Pernah Dimiliki Indonesia

Indonesia pernah dan masih memiliki sederet pembalap yang mampu berbicara di level internasional. Berikut 12 di antaranya versi Motorsport.com Indonesia.

12 Pembalap Terbaik yang Pernah Dimiliki Indonesia

Di Indonesia, pembalap mungkin tidak sepopuler atlet-atlet dari cabang olahraga lain seperti sepak bola ataupun bulu tangkis.

Namun, tidak sedikit pembalap Indonesia yang pernah dan bahkan masih turun di kejuaraan level dunia, baik itu roda dua maupun roda empat.

Memang, banyak di antara mereka yang tidak mampu bertahan lama karena berbagai kondisi. Tetapi, mereka sudah menunjukkan diri sebagai yang terbaik di Indonesia. Motorsport.com Indonesia mencoba memilih 12 di antaranya.

Mario Suryo Aji

Mario Suryo Aji, Honda Team Asia

Mario Suryo Aji, Honda Team Asia

Foto oleh: Astra Honda Racing Team

Berlatih balap motor sejak berusia 5 tahun dengan mini trail, Mario Suryo Aji kemudian mengikuti berbagai kejuaraan motocross di Tanah Air.

Hasilnya, runner-up kelas 50cc Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Motocross 2011 disabetnya. Pada 2012-2013, Mario Suryo Aji mampu merebut gelar juara nasional di kelas tersebut.

Setelah sukses di balap motor garuk tanah, pada 2014 Mario Suryo Aji pun mulai turun di Motoprix, Honda Dream Cup, dan menjadi murid sekolah balap milik Hendriansyah. Berbekal prestasinya, ia pun bergabung dengan Astra Honda Racing School. Kariernya mulai cemerlang saat turun di Thailand Talent Cup pada 2017. Selanjutnya, ia turun di Asia Talent Cup (ATC) dan menempati P5 klasemen akhir.

Pada 2019 sampai 2021, Mario Suryo Aji turun di balapan bergengsi FIM CEV Moto3 dan Red Bull Rookies Cup. Performa stabil membuatnya mendapatkan kursi di Honda Team Asia untuk turun di Kejuaraan Dunia Moto3 2022 nanti.

Baca Juga:

Qarrar Firhand Ali

Melihat jejak kariernya saat ini, Qarrar Firhand Ali bisa dibilang menjadi pembalap gokart terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Sejumlah gelar di dalam negeri sudah direbutnya.

Tahun lalu, pembalap kelahiran 7 Januari 2011 itu merebut gelar juara nasional kelas Cadet Rok dan Mini Rok. Sedangkan musim ini, pembalap yang akrab disapa Al itu tidak terbendung di kelas Mini Rok,

Pada tahun ini, Al berhasil naik podium utama kelas Mini Rok seri Italia. Itu menjadi kemenangan pertama Al di Italia sejak dirinya mulai berlatih dan mengikuti sejumlah kejuaraan di Italia sejak awal Mei lalu.

Qarrar Firhand Ali memang hanya menempati peringkat ke-22 pada final Mini Rok ajang ROK Cup Superfinal 2021 di South Garda Karting Circuit, Italia, pertengahan Oktober lalu. Tetapi, hasil semacam itu diyakini bakal melecutnya untuk berkembang lebih pesat di masa depan.

Emmanuel Adwitya Amandio

Drifter Indonesia, Emmanuel Adwitya Amandio, saat ambil bagian di Meikarta Drift Session 2021.

Drifter Indonesia, Emmanuel Adwitya Amandio, saat ambil bagian di Meikarta Drift Session 2021.

Foto oleh: Muhammad Pratama Supriyadillah

Adwitya Amandio bisa dikatakan masih drifter terbaik Indonesia saat ini. Sejumlah gelar kejuaraan drift baik dalam maupun luar negeri sudah direbut drifter yang akrab disapa Dio tersebut.

Sejumlah ajang berhasil dikuasai Dio, di antaranya: kampiun (2007) dan runner-up (2008) Goodyear Night Drift, runner-up (2009) dan juara (2010) Achilles Drift Battle, P3 Formula Drift Asia 2010, juara Driftbash Asia Challenge 2011, peringkat kelima qualifier Formula Drift di Amerika Serikat 2012, dan kampiun IIMS Driftwar 2012.

Terakhir, menjelang akhir bulan lalu, Dio menjadi yang terbaik pada Meikarta Drift Session putaran pertama yang berlangsung di Meikarta, Bekasi, Jawa Barat.

Muhammad Delvintor Alfarizi

Dari sisi torehan level nasional, Delvintor Alfarizi jelas masih kalah jauh dibanding legenda motocross di Indonesia seperti Irwan Ardiansyah yang juara nasional tujuh kali beruntun (1996-2002) atau Aep Dadang Supriyatna yang melanjutkan dominasi Irwan pada 2003-2006.

Namun, kroser Astra Honda Racing Team (AHRT) tersebut bisa dibilang menjadi pembalap motocross terbaik Indonesia saat ini. Dengan usia yang masih di awal 20-an, kampiun kelas MX2 Kejuaraan Nasional Motocross 2019 tersebut memiliki masa depan bagus.  

Lihat saja pencapaian kroser kelahiran Jakarta, 12 September 2001 tersebut. Pada 2018, ia menjadi juara nasional termuda dengan usia saat itu yang baru 17 tahun.

Adel, sapaan akrabnya, juga menjadi kroseri Indonesia pertama yang mampu menembus Kejuaraan Dunia Motocross Junior pada 2018. Selain itu, Adel berhasil finis di P12 kelas MX2 saat putaran Kejuaraan Dunia Motocross 2018, MXGP of Asia, digelar di Semarang.

Rio Haryanto

Rio Haryanto, saat turun di Asian GT beberapa tahun lalu.

Rio Haryanto, saat turun di Asian GT beberapa tahun lalu.

Foto oleh: Scherazade Mulia Saraswati

Pemuda asal Solo, Jawa Tengah, ini menjadi pembalap pertama Indonesia yang turun di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1 (F1). Itu terjadi pada 2016 lalu.

Sayang, Rio belum mampu mencetak poin dari 12 kali turun bersama Tim Manor Racing MRT. Kendala sponsor membuatnya tidak bisa turun penuh hingga lomba penutup (putaran ke-21) di Abu Dhabi.

Terlepas dari situasi dan kondisi yang dihadapi hingga tidak mampu melanjutkan kariernya di F1, acungan jempol patut diberikan kepada Rio Haryanto atas upayanya menembus ajang balap jet darat tersebut.  

Doni Tata Pradita

Seperti Rio, Doni Tata Pradita juga menjadi pembalap Indonesia pertama yang mampu menembus ajang tertinggi dengan turun di kelas 250 cc Kejuaraan Dunia Balap Motor pada 2008.

Dari 16 lomba yang dikuti pada musim 2008, Doni Tata mampu mencetak 1 poin, tepatnya saat finis di posisi ke-15 GP Cina.

Pembalap asal Yogyakarta itu kembali turun di balap level kedua Kejuaraan Dunia Balap Motor itu pada 2013. Bersama Tim Federal Oil Gresini, Doni Tata turun di kelas Moto2 dan kembali hanya merebut 1 poin saat finis ke-15 di GP Australia.

Sebelum turun di Moto2, Doni Tata juga sempat berlaga di Kejuaraan Dunia Supersport (WSSP), balap motor kelas 600cc yang menjadi supporting race World Superbike (WSBK).

Doni Tata mampu merebut 8 poin di ajang balap motor yang pernah dijuluki “balap resmi ala pembalap jalanan” tersebut.

Ananda Mikola

Wakil Ketua Umum Olahraga Mobil IMI Pusat, Ananda Mikola, Ketua Pelaksana Formula E Jakarta, Ahmad Sahroni bersama Co-Founder, Deputy CEO and Chief Championship Officer, Alberto Longo

Wakil Ketua Umum Olahraga Mobil IMI Pusat, Ananda Mikola, Ketua Pelaksana Formula E Jakarta, Ahmad Sahroni bersama Co-Founder, Deputy CEO and Chief Championship Officer, Alberto Longo

Foto oleh: Muhammad Pratama Supriyadillah

Setelah turun beberapa kali di kejuaraan level internasional seperti Formula Asia, Formula 3, dan Formula 3000 International, Ananda Mikola menjadi pembalap Indonesia di A1 Grand Prix pada 2005-2006.

Ananda mampu finis di peringkat ke-18 klasemen akhir lomba balap mobil formula antarnegara itu setelah merebut 16 poin. Sayang, pada musim keduanya, 2006-2007, Ananda yang didampingi sang adik, Moreno Soeprapto, hanya mampu merebut 1 poin.

Meskipun sudah lama mundur dari dunia balap, pria yang kini menduduki Wakil Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (Waketum IMI) Olahraga Mobil itu akan tetap dikenal sebagai salah satu pembalap mobil Formula dengan skill di atas rata-rata.

Rifat Sungkar

Rifat Sungkar, Xpander Rally Team

Rifat Sungkar, Xpander Rally Team

Foto oleh: I Gede Ardy Estrada

Salah satu pereli terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Terakhir, Rifat Sungkar menjadi juara nasional sprint rally 2021. Bila ditotal, ia sudah mengoleksi lebih dari lima gelar kampiun ajang ini.

Putra mendiang Helmy Sungkar, mantan promotor balap nasional, itu juga kampiun Kejurnas Reli pada 2005, 2007, dan 2008. Setelah absen pada Danau Toba Rally 2021, akhir pekan lalu, Rifat Sungkar menyatakan siap meramaikan Kejurnas Reli tahun depan.

Selain level nasional, Rifat Sungkar juga pernah bersaing selama beberapa musim di Kejuaraan Reli Asia Pasifik (APRC) dan menempati P4 klasemen akhir pada 2006 dan 2007, serta P5 pada 2009.

Selain itu, Rifat Sungkar juga pernah mengikuti Production World Rally Championship (PWRC), lomba yang pernah berstatus pendukung Kejuaraan Reli Dunia (WRC).

Rifat Sungkar juga dikenal sebagai pereli yang aktif mengikuti berbagai jenis balapan. Tidak hanya reli dan sprint rally, ia juga sempat mencoba turun di drifting dan speed offroad.

Subhan Aksa

Pada 2012, Subhan Aksa turun di kelas PWRC dan menorehkan hasil bagus. Mengandalkan Mitsubishi Evo X, Subhan yang turun di enam lomba mampu finis runner-up di Acropolis, Yunani, dan Selandia Baru, serta podium ketiga di Spanyol. Subhan pun menempati peringkat kelima klasemen akhir kelas PWRC dengan 77 poin.

Pada 2013, Subhan turun di kategori WRC2 yang hanya satu level di bawah WRC bersama Bosowa Rally Team dengan mobil Ford Fiesta.

Hasilnya, Subhan merebut 13 poin dari enam lomba yang diikuti. Tiga kali gagal finis, hasil terbaik Subhan adalah finis keempat di Spanyol.

Juara nasional reli 2019 itu kini memang tidak lagi rutin mengikuti reli. Terakhir, ia turun di Danau Toba Rally 2021 yang merupakan dua putaran seri Kejurnas Reli. 

Galang Hendra Pratama

Helm spesial Galang Hendra Pratama, Ten Kate Racing Yamaha.

Helm spesial Galang Hendra Pratama, Ten Kate Racing Yamaha.

Foto oleh: Yogie Gandanaya

Tahun ini menjadi musim kedua Galang Hendra Pratama turun di WSSP. Jika tahun lalu pembalap asal Yogyakarta itu turun bersama Tim bLU cRU WorldSSP by MS Racing, maka pada WSSP 2021 ia membela Ten Kate Racing Yamaha.

Mengandalkan Yamaha YZF-R6, Galang Hendra memang belum mampu merebut podium. Ia finis di P24 pada klasemen akhir 2020 dan ke-21 pada musim ini.

Sean Gelael

Sean Gelael, Team Jagonya Ayam, dan Ketua Umum IMI Bambang Soesatyo.

Sean Gelael, Team Jagonya Ayam, dan Ketua Umum IMI Bambang Soesatyo.

Foto oleh: I Gede Ardy Estrada

Pembalap yang satu ini kenyang pengalaman turun di ajang gokart sampai balap mobil single seater alias Formula. Mulai dari menempati P3 tim di Formula 3 Eropa pada 2014 dan kedua pada 2015, serta P6 Formula Renault 3.5 World Series 2015.

Menjelang akhir 2016, Sean Gelael mulai menjajal ajang balap ketahanan (World Endurance Championship/WEC) dengan turun di tiga race terakhir bersama tim asal Amerika Serikat, Extreme Speed Motorsport.

Lalu pada 2017, Sean turun di Formula 2 (F2), balap mobil kursi tunggal yang hanya satu level di bawah F1. Setelah empat musim bertarung di F2, Sean Gelael memutuskan turun penuh di WEC kelas LMP2 bersama Tim Jota Sport.

Dari enam putaran, Sean Gelael yang satu tim bersama Tom Blomqvist dan Stoffel Vandoorne berhasil lima kali naik podium, tiga di antaranya P2. Mereka akhirnya finis runner-up LMP2 WEC 2021 dan hanya kalah dari Team WRT. Tahun depan, Sean Gelael masih akan turun di LMP2 WEC dan akan memperkuat WRT.

Alvin Bahar

Rasanya akan sangat sulit bagi pembalap mana pun di Indonesia untuk mengalahkan rekor Alvin Bahar. Hingga saat ini, ia masih menjadi pembalap dengan rekor gelar terbanyak, delapan.

Alvin Bahar sangat berpeluang merebut trofi kesembilan jika hujan tidak mengguyur Sirkuit Internasional Sentul pada awal November lalu, yang sejatinya menjadi balapan terakhir Kejurnas Balap Mobil 2021.

Seperti ayahnya, Aswin Bahar, Alvin juga sudah memiliki penerusnya di ajang balap mobil nasional. Adalah putranya, Avila Bahar, yang pada pekan lalu mengunci gelar kampiun usai menjadi yang terbaik di kelas 1500 ITCR Rising Star Kejuaraan Nasional Balap Mobil 2021.

 

dibagikan
komentar
Tenang dan Cepat, Sean Gelael Kuasai Danau Toba Rally 2021
Artikel sebelumnya

Tenang dan Cepat, Sean Gelael Kuasai Danau Toba Rally 2021

Artikel berikutnya

Secara De Facto, Sean Gelael Kampiun Kejurnas Reli 2021

Secara De Facto, Sean Gelael Kampiun Kejurnas Reli 2021
Muat komentar