Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia
Special feature

6 Pembalap Perempuan Indonesia yang Sudah Teruji di Lintasan

Olahraga balap mungkin menjadi panggung para laki-laki, tetapi bukan berarti minus kaum perempuan. Di Indonesia, beberapa telah membuktikan mereka mampu bersaing secara kompetitif di lintasan.

Pembalap perempuan Indonesia, Alinka Hardianti

Pada umumnya, disiplin motorsport didominasi laki-laki. Faktanya memang seperti itu. Meski demikian, dari waktu ke waktu telah bermunculan peremuan yang berani bersaing di dalamnya.

Fenomena ini pun terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Setiap masanya selalu lahir sosok perempuan tangguh dan berbakat yang tidak gentar adu adrenalin dengan laki-laki dalam balapan.

Bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada Selasa, 8 Maret 2022, Motorsport.com Indonesia merangkum sejumlah srikandi yang sanggup melaju sangat cepat dengan kendaraannya dan tentunya berprestasi.

Diandra Gautama

Pembalap perempuan Indonesia, Diandra Gautama

Pembalap perempuan Indonesia, Diandra Gautama

Foto oleh: Diandra Gautama (Instagram)

Diandra Gautama sudah masuk klub mobil saat masih di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), tetapi sudah akrab dengan otomotif sejak kecil. Ayahnya, Chandra Gautama, adalah mantan pembalap nasional.

Diandra sering tampil meramaikan Indonesian Sentul Series of Motorsport (ISSOM) di kelas Mercedes-Benz 3.200cc. Meski bersaing dengan rival yang mayoritas laki-laki, ia membuktikan mampu kompetitif.

Sebagai bukti, tidak butuh waktu lama bagi Diandra untuk menunjukkan kepiawaiannya dari balik kemudi. Pertama kali turun dalam ajang ISSOM pada 2012, ia berhasil keluar sebagai juara setahun kemudian.

Perempuan kelahiran 28 Januari 1990 itu juga pernah didapuk menjadi mentor di Nissan GT Academy 2016, di mana ia turut andil membantu wakil Indonesia meraih posisi kedua di Sirkuit Silverstone, Inggris.

Sheva Ardiansyah

Pembalap perempuan Indonesia, Sheva Ardiansyah

Pembalap perempuan Indonesia, Sheva Ardiansyah

Foto oleh: Sheva Ardiansyah (Instagram)

Pilihan tak lazim diambil Sheva Ardiansyah ketika mantap menggeluti motocross. Namun jika melihat latar belakang perempuan 16 tahun tersebut, menjadi kroser bukan sesuatu yang aneh.

Sheva merupakan putri dari salah satu legenda motocross Indonesia, Irwan Ardiansyah. Tak sekadar asal mengikuti jejak sang ayah, ia telah membuktikan mampu berprestasi dalam cabang balap ekstrem itu.   

Sheva sudah belajar balap dari umur 6 tahun, dimentori langsung oleh ayahnya. Kroser muda ini memiliki mimpi besar untuk bisa berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia Women Motocross (WMX).

Demi mewujudkannya, pada 2018 ia rela jauh-jauh datang ke Amerika Serikat (AS) untuk menimba ilmu di Jim Holley Motocross Training Camp. Dan prestasi sudah ditorehkan Sheva di sana.

Pada November 2021, ia mengikuti Kejuaraan Mini Major di State Fair untuk kali pertama dan langsung juara di kelas Girls 85/Supermini 12-16 tahun dan P12 di kategori 3 Open melawan banyak kroser laki-laki.

Sheva pun mampu tampil kompetitif di SwapMoto Amsoil Fall Classic, California. Dalam kelas Women Open 125/250F, ia keluar sebagai juara, sedangkan di kategori School Boy menempati P3 keseluruhan.

Sebelum itu, ia telah unjuk gigi di berbagai ajang Tanah Air termasuk meraih P2 kelas 65cc Novice Kejurnas Motocross di Cibinong. Sheva juga sempat dapat wildcard MXGP Indonesia 2017, tetapi batal tampil karena usianya masih sangat mudah dan tidak ada kelas untuk berlomba.

Sabrina Sameh

Sabrina Sameh, Toyota Team Indonesia

Sabrina Sameh, Toyota Team Indonesia

Foto oleh: Scherazade Mulia Saraswati

Sabrina Sameh punya ketertarikan dengan dunia balap motor sejak belia dan pada usia 18 tahun memilih terjun dalam kategori drag bike. Pada 2013 ia menjadi rider utama Anker Sport Drag Bike Team.

Selama menjadi pembalap roda dua, Sabrina mampu menorehkan sejumlah prestasi. Di antaranya meraih peringkat ketiga Trendipromo Mandiri kelas 155cc di Sirkuit Sentul dan P5 kelas matic TU-155cc Suzuki Mega Campa Drag Bike di Brigif.  

Tidak hanya level domestik, pencapaian impresif juga ditorehkan di luar negeri dengan menyabet posisi kedua event Ngo Internasional Drag Bike Party 2017 di Thailand untuk kelas super matic 200cc.

Selain disiplin roda dua, Sabrina merambah ke balap mobil. Ia direkrut sebagai salah satu driver Toyota Team Indonesia (TTI) untuk musim 2019. Di luar balapan, ia juga menggeluti modeling dan seni peran.    

Aurellia Anjanie Permata Wangi

Pembalap perempuan Indonesia, Aurellia Anjanie Permata Wangi

Pembalap perempuan Indonesia, Aurellia Anjanie Permata Wangi

Foto oleh: Aurellia Anjanie Permata Wangi (Instagram)

Aurellia Anjanie Permata Wangi mungkin baru berusia 14 tahun, tetapi ia adalah pembalap perempuan potensial Tanah Air. Pada 2021, Aurel, sapaannya, ada dalam daftar 19 wakil Indonesia untuk ATC 2022.

Hebatnya lagi, ia menjadi satu-satunya perempuan dari seluruh pendaftar yang lolos praseleksi. Asia Talent Cup (ATC) bukan ajang balap sembarangan. Itu merupakan batu loncatan bagi para rider Asia untuk bisa menembus MotoGP.    

Aurel juga menjadi satu-satunya pembalap perempuan yang tampil di kelas rookie ajang Oneprix 2021. Ini bukti bahwa ia bukan bukan asal ikut. Talenta balapnya sudah terendus sejak usia 6 tahun, ketika menjajal motocross.

Setelah bergabung dengan Benteng Racing Team, Aurel diarahkan ke balapan road race di kelas mini GP. Peralihan itu tepat karena bakatnya kian terasah. Ia kompetitif bersaing dengan para laki-laki yang jadi rival di trek.

Meski belum meraih kemenangan, bocah Tangerang itu rutin menembus tiga besar. Seiring progres yang diperlihatkannya, Aurel, yang kini menimba ilmu di 43 Racing School, naik kelas dari matic hingg 250cc.

Yang pasti, ia memiliki mimpi besar, yakni bisa menjadi perempuan Indonesia pertama yang tampil di MotoGP. Meski tak mudah siap berjuang mengejar cita-citanya dan bersaing dengan pembalap laki-laki.

Alinka Hardianti

Pembalap perempuan Indonesia, Alinka Hardianti

Pembalap perempuan Indonesia, Alinka Hardianti

Foto oleh: Alinka Hardianti (Instagram)

Mengawali karier sebagai pembalap pada 2005, Alinka Hardianti telah meraih segudang prestasi, baik di dalam dan luar negeri. Ia dikenal sebagai sosok serba bisa di balik kemudi.

Perempuan kelahiran 21 Juni 1992 ini mampu turun dalam empat kategori: slalom, drifting, touring dan offroad, yang tentu memiliki tantangan dan kesulitannya masing-masing.

Alinka sudah aktif balapan sejak berusia 13 tahun, memulai kariernya dengan mengikuti ajang Slalom One Make Race. Seiring waktu kemampuannya makin terasah hingga kesempatan besar datang.

Ia mendapat kontrak bergabung dengan Toyota Team Indonesia (TTI) pada 2008. Banyak pencapaian diraih, di antaranya menjuarai Kejurnas Slalom kelas FFA di Bandung dan Lampung.

Alinka mencetak sejarah dengan menjadi perempuan pertama yang berhasil lolos kualifikasi Formula Drift Asia 2011. Ia juga sempat mengikuti balap touring di Jepang bersama TTI.

Sempat vakum untuk fokus mengurus keluarga, putri dari mantan pembalap Didi Hardianto itu melakukan comeback dengan ambil bagian dalam Kejurnas Auto Gymkhana (Slalom) pada 2021 dan mampu jadi juara di kelas wanita.

Alexandra Asmasoebrata

Pembalap perempuan Indonesia, Alexandra Asmasoebrata

Pembalap perempuan Indonesia, Alexandra Asmasoebrata

Foto oleh: Alexandra Asmasoebrata (Instagram)

Darah balap Alexandra Asmasoebrata mengalir dari ayahnya, almarhum Alex Asmasoebrata. Kariernya pun dimulai di arena gokart saat berumur 12 tahun. Prestasi kerap diukirnya di kelas kadet 60cc.

Andra kemudian naik ke kelas 125cc. Kepiawaiannya mengemudi  terus terasah hingga berhasil membawa perempuan kelahiran Jakarta tersebut bersaing dalam event balap hingga tingkat Asia Tenggara.

Grafik performa yang menanjak membuat Andra dapat kesempatan untuk melebarkan kariernya ke level internasional, termasuk mengikuti kualifikasi Formula BMW Scholarship di Spanyol, Februari 2004.

Ini pintu gerbang Andra memasuki dunia balap mobil Formula. Pada 2005, ia meraih pole position Formula Campus di Beijing Cina dan didapuk sebagai juara umum. Di tahun yang sama ia menempati P13 World Championship Junior rotax max dan menjadi juara National Kart Championship pada 2002 dan 2005.

Pada 2007, selain kejuaraan gokart, Andra juga mengikuti ajang Formula Renault Asia. Di tahun yang sama, ia menerima penghargaan MURI atas prestasinya sebagai pembalap perempuan Indonesia di kancah internasional.

Sekarang Andra sudah pensiun, meski begitu namanya akan selalu tercatat sebagai salah satu pembalap perempuan terbaik yang dimiliki Indonesia, bahkan Asia.

Baca Juga:

 

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Meski Capai Target, Mario Aji Masih Harus Kerja Keras
Artikel berikutnya Susah Mencari Pembalap seperti Mario Suryo Aji

Top Comments

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia