Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia

Mengenal Lebih Dekat Presley Martono

Presley Martono menceritakan awal kariernya sebagai seorang pembalap single-seater hingga menjadi salah satu pendiri JMX Phantom.

Presley Martono

Presley Martono lahir di Jakarta, 15 Juni 2001, yang merupakan putra dari seorang pembalap gokart, Perry Martono.

Nama Presley sempat menghebohkan dunia balap Indonesia setelah berhasil menjadi juara Formula 4 South East Asia musim 2016/17.

Sayang, kariernya meredup karena masalah finansial dan tidak mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia.

Namun, Presley tidak menyesal dirinya gagal melanjutkan karier balapnya dan memiliki lebih banyak waktu untuk mengelola JMX Phantom, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang eSports melalui sim racing.

Semua berita mengenai perjalanan karier Presley Martono diceritakan dalam wawancara bersama Motorsport.com Indonesia.

Apa kesibukan saat ini?

Sekarang saya sedang sibuk membangun bisnis keuangan dan juga perusahaan start up JMX Phantom. Walau saya suka balap, tapi saya juga memiliki gairah di dunia bisnis, makanya sekarang saya gabungkan balap dan bisnis.

Aktif di balap dari tahun berapa?

Aktif di balap dari 2008, saat itu usia saya delapan tahun dimulai dari gokart. Awalnya papa yang balap gokart, tapi akhirnya saya ikut karena penasaran ingin mencoba. Jadi, saya 2008-2015 di gokart, 2016 turun di F4, 2017 di Formula Renault dan sempat di Formula 3.

Torehan apa aja?

Pencapaian saya paling banyak itu ada di gokart karena cukup lama berada di sana. Saya juga menjadi pegokart Asia pertama yang memenangi World Series Karting (WSK) pada 2014.

Lalu menjadi runner-up European Championship, itu Kejuaraan FIA European Karting pada 2015, saya hanya kalah beberapa poin dari Christian Lundgaard.

Momen paling tidak terlupakan di balap?

Momen yang paling tak terlupakan itu saat menang di Inggris. Saya sangat terharu saat itu lagu Indonesia Raya bisa berkumandang di sana. Penggemar di sana juga sangat cinta dengan balap, penonton sangat banyak saat itu. Itu jadi salah satu kenangan yang manis.

 

Terakhir turun di balap apa?

Terakhir kali balap itu di Formula 3 pada 2018. Saat itu sempat mengikuti di F3 Asia, tapi hanya ikut satu seri saja. Kalau terakhir kali turun semusim penuh itu di Formula Renault musim 2017.

Perbedaan rival antara Asia dan Eropa?

Perbedaan terbesar itu ada di etos kerja mereka. Sebenarnya pembalap Asia itu bertalenta tapi tidak seperti di Eropa. Kalau pembalap Eropa itu balap benar-benar menjadi kehidupan mereka. Untuk latihan saja mereka melakukannya dua kali dalam sehari.

Sedangkan di Asia itu balap seperti ekstra kulikuler. Jadi kalau ke Eropa kita agak tertinggal, dan kepercayaan dirinya lebih tinggi. Sangat penting untuk membangun mentalitas.

Jika kita sudah seserius mereka dalam hal balap, saat kita ke sana maka sudah siap untuk menghadapi pembalap Eropa.

Apa mimpi yang belum terwujud di dunia balap?

Dulu mimpi saya ingin masuk Formula 1, tapi untuk saat ini bukan itu tujuan utama saya. Sekarang saya lebih senang karena memiliki banyak waktu untuk mengerjakan sesuatu yang lain.

Tapi jika berbicara tentang mimpi, mungkin suatu hari bisa membangun trek sendiri sepertinya akan menarik. Tapi kita lihat bagaimana ke depannya.

Baca Juga:

Sesulit apa mencari sponsor?

Ya, lumayan sulit karena di Indonesia tidak ada banyak produk yang siap dipromosikan ke pasar dunia. Untuk saat ini hanya ada Pertamina, Indofood, dan GT Radial. Jadi untuk mencari sponsor dari Indonesia memang sangat sulit karena kita tidak berbicara jutaan tapi miliaran rupiah.

Mungkin ke depannya akan lebih baik karena sekarang sudah ada Sirkuit Mandalika. Industri otomotif juga sudah mulai berkembang sejak 2016. Tapi sayangnya beberapa talenta Indonesia di masa lalu, termasuk saya, saat itu benar-benar sulit mencari sponsor.

Gambaran saja, misalnya kita balap di Eropa membutuhkan biaya Rp10 miliar, tapi kita membutuhkan dua kali lipatnya, yaitu Rp20 miliar. Itu dibutuhkan untuk biaya latihan agar tidak kalah dengan pembalap Eropa. Jadi biaya jadi hal yang sangat sulit di dunia balap.

Sangat sulit untuk menembus F1 karena kita masih harus keluarin biaya sendiri sampai Formula 2. Dan jangan salah, pembalap di F1 juga masih ada yang membiayai balapnya sendiri.

Bagaimana Anda melihat gokart Indonesia saat ini, khususnya kejurnas dan pembibitan?

Gokart di Indonesia dari dulu itu naik-turun. Saya pikir yang terbaru itu adalah dunia balap digital. Tapi untuk mendapatkan pengalaman berharga gokart bisa memberikan sesuatu yang tak terlupakan.

Menurut saya, pembibitan di Indonesia belum terlalu bagus, jadi mereka yang ingin serius harus cepat-cepat ke Eropa dan belajar di sana. Papa juga pernah mengatakan, ‘Lebih baik saya bayar lebih daripada di Asia, khususnya selalu di Indonesia’.

Tapi, untuk saat ini mencari talenta lebih besar itu ada di dunia balap digital karena di gokart tidak ada banyak bakatnya. Mungkin untuk menemukan bintang Indonesia di dunia motorsport bisa dari eSports.

Pembalap go-kart muda Indonesia, Qarrar Firhand Ali

Pembalap go-kart muda Indonesia, Qarrar Firhand Ali

Foto oleh: Qarrar Firhand Ali / Instagram @qarrar_firhand

Pendapat Anda soal Qarrar Firhand, pembalap gokart yang kini ke Eropa?

Saya mengenal Qarrar dengan sangat baik, saya juga kenal dekat dengan keluarganya. Dia seorang pekerja keras. Memang untuk serius di dunia gokart harus berada di level yang saat ini dijalani oleh dia.

Jadi memiliki komitmen dan memiliki program yang jelas, bukannya balapan hanya untuk gengsi dan main-main, tapi benar-benar ada ambisi. Pastinya Qarrar sudah berada di jalur yang tepat dan dia akan belajar banyak di Eropa. Semoga dia bisa melakukan hal bagus.

Ada masukan untuk pembalap-pembalap muda yang punya bakat dan potensi bagus, agar bisa maju, karena balap di Indonesia sepertinya tidak berkembang.

Saran saya yang pertama itu banyak-banyak nonton video balapan, sekarang sangat mudah untuk mengakses itu dibandingkan dengan di masa lalu. Melalui itu, kita bisa belajar banyak tentang gaya balap mereka dan sebagainya.

Nomor dua adalah perbanyak latihan, bukan hanya di trek karena kita tidak bisa hanya di akhir pekan. Jadi kita bisa latihan fisik seperti kardio, dan jika tidak punya pelatih kita bisa melihat di YouTube.

Tapi jangan berharap banyak dulu, tujuan utamanya adalah belajar dan berkembang. Pasti hasilnya akan datang.

Ada keinginan balap lagi?

Untuk saat ini fokus saya di eSports, tapi ada keinginan untuk balap lagi jika mendapatkan sponsor. Jadi untuk saat ini saya lebih fokus di eSports, terutama sim racing.

Presley Martono

Presley Martono

Foto oleh: MRF Racing

Berlanjut di bagian kedua...

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Presley Martono, Juara Formula 4 SEA yang Tunggu Sponsor Besar
Artikel berikutnya Pernah Tes di Portimao, Mario Aji Bidik Poin Moto3 Portugal

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia