Opini: Akankah regulasi baru Kejurnas Rally 2017 berdampak positif?

Komisi Rally dan Sprint Rally Ikatan Motor Indonesia (IMI) baru saja merilis regulasi terbaru Kejurnas Rally 2017. Perubahan tersebut akan membuat Kejurnas Speed Rally maupun Sprint Rally berbeda dengan beberapa tahun terakhir.

Menurut Direktur Rally dan Sprint Rally IMI Pusat, Rifat Sungkar, perubahan ini dilakukan agar lebih mudah dipahami oleh seluruh komunitas reli, dan membuat reli semakin menyenangkan dan lebih diminati.

Pertama-tama, perubahan diterapkan ke pembagian kelas:

Mobil berpenggerak empat roda (4WD)

  1. M1: Mobil sedan/hatchback 4WD yang telah dihomologasi. Mobil yang masuk ke dalam kelas ini adalah mobil spesifikasi Group R4/NR4 (Sebelumnya Group N) yang memiliki gardan tengah aktif dan restrictor turbo sebesar 33mm. Selain itu, mobil spek R4 & R5 serta World Rally Car (WRC) turut masuk ke dalam kategori ini.

  2. M2: Mobil sedan/hatchback 4WD yang tidak dihomologasi, atau masa homologasinya telah habis. Mobil-mobil yang masuk ke kelas ini merupakan mobil yang tidak menggunakan gardan tengah aktif, dan harus memuliki mesin yang sesuai dengan merek mobil, dengan kapasitas maksimal 2.5 Liter. Sebagai kompensasi, mobil kelas M2 dapat menggunakan restrictor turbo sebesar 36mm.

Mobil berpenggerak roda depan (FWD)

  1. F1: Mobil sedan/hatchback FWD dengan kapasitas mesin maksimal 1.3L. Spesifikasi kelas baru tersebut mirip dengan N12 yang digunakan dalam beberapa tahun terakhir, hanya saja kapasitas mesin meningkat sebesar 100cc, dan tidak ada lagi batasan tahun perakitan mobil. Modifikasi mobil kelas F1 terbatas, di mana beberapa komponen seperti girboks, camshaft, dan air intake harus sesuai standar (untuk mobil injeksi)/two barrel untuk mesin karburator. Penggunaan piggyback diperbolehkan, dan exhaust manifold bebas.

  2. F2: Mobil sedan/hatchback FWD dengan kapasitas mesin maksimal 1.6L. Kelas ini merupakan gabungan antara N15 dan Group 2.1. Girboks tidak boleh menggunakan dog box, dan sistem injeksi standar/maksimal 2 barrel untuk karburator

  3. F3: Mobil Sedan/hatchback FWD dengan kapasitas mesin maksimal 1.6L turbocharged atau 2.0L normally aspirated. Kelas ini merupakan gabungan dari GR22, GR2 Open dan M2 (lama). Diperbolehkan menggunakan girboks sequential.

Mobil berpenggerak roda belakang (RWD)

  1. R1: Mobil dengan kapasitas maksimal 1.6L karburator, dengan batas produksi tahun 1990

  2. R2: Mobil dengan kapasitas maksimal 2.0L karburator, dengan batas produksi tahun 1990

  3. R3: Mobil yang tidak masuk dalam kedua kelas tersebut.

Mobil Jeep

  1. Jeep 2WD & Jeep 4WD. Modifikasi bebas, hanya saja Jeep 4WD hanya dapat menggunakan ban dengan ukuran maksimal 29 inch AT, sementara itu Jeep 2WD dapat menggunakan ban dengan ukuran maksimal 33 inch MT.

Perubahan lainnya adalah setiap kru akan mendapatkan 1 poin di setiap SS yang diikuti.

Kesan pertama saya dari perubahan regulasi ini adalah:

  1. Kelas RWD dan Jeep sudah memuaskan, dan tidak membutuhkan banyak perubahan

  2. Kelas FWD seakan hidup kembali, khususnya di kelas F1 & F2. Sebelumnya, kelas ini – Kelas N12 dan N15 – hanya mengijinkan mobil-mobil dengan tahun produksi dan/atau dipasarkan minimal 2012. Aturan tersebut membuat kelas ini sepi peminat.

Aturan tersebut dicabut, dan secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada para kru yang ingin berkompetisi dengan mobil-mobil yang berusia lebih tua, memberikan warna baru ke kedua kelas tersebut, dan juga membuat biaya mobil (konversi ke spek reli, servis dan perawatan) menurun.

Perubahan lainnya adalah kapasitas mesin maksimal di kelas F1 dan F2 dinaikkan 1000cc, memberikan kesempatan kepada lebih banyak mobil untuk turun ke kedua kelas tersebut.

  1. IMI melakukan perjudian besar dengan memasukkan mobil spek R5 dan WRC ke dalam kelas M1. Tapi saya lebih memusatkan perhatian saya ke mobil spek R5, yang notabene lebih terjangkau dibandingkan mobil spek WRC (spek 2011-2016).

Masalah baru muncul?

Apakah R5 benar-benar terjangkau bagi para pegiat reli di Indonesia?

Pertama-tama, sejak kelas R5 diluncurkan tahun 2013 silam, terdapat 5 pabrikan yang membuat mobil spek tersebut – M-Sport (Ford), Skoda, Peugeot, Citroen, Hyundai. Dari kelima pabrikan tersebut, hanya Hyundai dan Peugeot yang memiliki dealer di Indonesia, dan Hyundai jauh lebih populer dibandingkan pabrikan asal Perancis tersebut. Ford telah cabut dari Indonesia pada awal 2016 silam, dan Skoda serta Citroen bahkan tidak menjual mobilnya di Bumi Pertiwi.

Sebenarnya ada beberapa mobil R5 lainnya – Mitsubishi Mirage, Proton Iriz dan Toyota Etios. Hanya saja Mirage dan Etios tidak dihomologasi, sedangkan Iriz hanya muncul sebentar saja dan kemudian menghilang.

Toyota sendiri berminat untuk ikut serta di WRC 2, mesipun pabrikan asal Jepang tersebut belum memberikan info apapun seputar Yaris R5 - Yaris spek Eropa, bukan Indonesia.

Alasan saya menyinggung masalah penjualan mobil secara umum di Indonesia adalah marketing. Apa gunanya memakai mobil dengan merek yang tidak kita jumpai di jalanan Indonesia?

Alasan kedua adalah biaya. Sebagai perbandingan, Skoda Fabia R5 dibanderol seharga €221.000, atau lebih dari 3,1 miliyar Rupiah. Sedangkan itu, menurut mantan pembalap WRC Jari Ketomaa, Mitsubishi Mirage R5 €70.000 lebih murah dibandingkan dengan Fabia R5, dan bila dihitung, Mirage R5 dijual seharga €151.000, 1 miliyar Rupiah lebih murah. Masalah lainnya adalah suku cadang. Hampir semua mobil spek R5 berasal dari Eropa, dan otomatis suku cadang pun harus diimpor dari Eropa pula.

Beberapa faktor tersebut membuat Kejuaraan Reli Asia-Pasifik (APRC) kekurangan mobil spek R5. Dalam beberapa tahun terakhir hanya ada dua Fabia R5, dan itupun diturunkan oleh Skoda Motorsport sendiri melalui Team MRF.

Dengan ini, para pegiat reli akan dihadapkan dengan beberapa pilihan alternatif:

  • Berkompetisi dengan mobil spek R4. Ini merupakan kelas baru yang diciptakan oleh FIA untuk kejuaraan nasional dan regional. Untuk menjaga biaya tetap rendah, FIA menunjuk Oreca untuk menyuplai paket konversi R4. Paket tersebut berisi mesin 1.6L turbocharged (berbasis dari mesin PSA), transmisi, gardan, paket rem, sistem bahan bakar, komponen sasis serta buku panduan perakitan dan servis.

Paket tersebut dapat mengkonversi mobil apapun ke mobil reli R4 1.6L turbocharged. Mobil-mobil kelas R4 setingkat dibawah R5, tapi jauh di depan R3. Paket R4-kit akan tersedia di musim panas mendatang.

  • Menggunakan mobil alternatif R5 seperti Maxi Rally atau AP4. Maxi Rally merupakan kelas yang digunakan di kejuaraan-kejuaraan nasional di Amerika Selatan serta Australia. Sama seperti R4, Maxi Rally juga menggunakan mesin standar (Honda 2.4L), meskipun ada opsi untuk menggunakan mesin 1.6L turbocharged, dan juga transmisi Subaru yang dimodifikasi. Biaya perakitan mobil kelas tersebut sama dengan Group N, tapi memakan biaya operasi yang lebih sedikit.

Sedangkan AP4 merupakan kelas lanjutan dari Maxi Rally, dan diterapkan di Selandia Baru dan Australia. Kelas ini memberikan kebebasan lebih banyak untuk berkreasi di mobil pilihan masing-masing kontestan, tapi tetap menjunjung tinggi penekanan biaya. Hanya saja regulasi AP4 di Australia dan Selandia Baru berbeda-beda membuat mobil kelas tersebut diragukan dapat digunakan di APRC serta kejuaraan-kejuaraan reli nasional. Peluncuran kategori R4 juga membuat kategori AP4 kurang ideal bagi Kejurnas.

Secara keseluruhan, perubahan regulasi di Kejurnas Reli 2017 sudah cukup memuaskan, meskipun saya sedikit skeptis tentang kelas M1. Satu hal yang saya prediksikan adalah kita tetap akan melihat aksi mobil-mobil lama seperti Lancer Evo X dan Impreza dalam beberapa bulan kedepan.

Adakah yang berminat beli Mirage R5, atau membeli paket konversi R4?

Opini oleh Marv Dondokambey

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Other rally
Tipe artikel Komentar