Hotlap GT6: Mencoba menjinakkan Lotus 97T Ayrton Senna di Monza

Pada seri artikel baru ini, tim Motorsport.com Indonesia akan menampilkan satu lap virtual dari berbagai simulator atau video game balap.

Di sini, saya akan bercerita tentang perjuangan saya menaklukan monster dari era turbo F1 1980an, Lotus 97T dari Gran Turismo 6 yang dirilis secara eksklusif untuk PlayStation 3.

Di jagat internet, Anda bisa menemukan lap time yang jauh lebih cepat dari yang saya catatkan. Oleh karena itu, artikel seperti ini dibuat untuk membawa Anda merasakan sensasi mengemudi melalui cerita dari mobil virtual.

Untuk hotlap di Monza dengan layout klasik ini, saya menggunakan Logitech Driving Force GT dengan dua pedal yang sudah saya pegang sejak 2009. Untuk perpindahan posisi gigi, saya memakai tuas shifter dengan tangan kanan.

Ya, masih banyak steering wheel controller lain yang lebih bagus dari DFGT tapi sekarang saya ingin menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa setir ini masih bisa membuat beberapa orang menemukan kebahagiaan dari balapan di dunia maya. 

Satu lap panas di Italia

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, saya suka bermain game F1 dari perspektif T-cam jika memungkinkan karena rasanya seperti sedang menonton siaran langsung F1 di TV. Dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai membiasakan diri dengan cockpit view karena ingin lebih memahami apa yang biasa dilihat pembalap di mobil sungguhan.

Semua assist termasuk traction contoh saya matikan kecuali ABS "1".

Saya memulai hotlap dengan sedikit burnout. Tujuannya? Sekedar untuk menambah adrenalin.

Di lurusan utama, bisa dilihat bagaimana saya harus menjaga setir tetap lurus. Sedikit saja setir berotasi akan membuat setir ingin "membalas" pergerakan tersebut.

Mobil mampu mencapai 353 km/jam sebelum mengerem di papan penanda 150 meter jelang chicane pertama Rettifilo. Lihatlah betapa banyaknya kerb yang saya lahap...

Khawatir roda belakang tidak bisa menahan amarahnya, chicane berikutnya saya lewati dengan gigi 4 saja untuk mengurangi sensitivitas dari pedal gas terhadap rear end - yang rasanya selalu berada di atas es jika sedang melaju pada kecepatan rendah. Dengan demikian, exit speed saya sangat tidak optimal.

Curva Grande terlihat seperti tikungan ke kanan yang sangat mudah, tapi saya hampir saja kehilangan kendali dan menginjak kerb di sisi dalam - mobil ini brutal!

Di Rogia saya sempat berada di gigi 3 tapi kemudian naik ke gigi 4 untuk beberapa saat sebelum kembali diturunkan - semua karena saya dibuat gugup oleh monster hitam tersebut.

Di Lesmo pertama dan kedua, saya masih gugup dalam menyerang apex, jadi menuju mid-corner saya juga kembali naik satu gigi . Selanjutnya, tancap gas menuju Ascari hingga 344 km/jam.

Saya lalu mengerem di dekat titik 100 meter dan bertahan di gigi 5 hingga saya merasa cukup percaya diri untuk memakai gigi 4 menuju lintasan lurus sebelum tikungan terakhir, Parabolica.

Parabolica diserang dari 341 km/jam sebelum pengereman. Di tengah-tengah tikungan, saya sempat lifting lagi karena khawatir pantat mobil akan berputar. Jika itu terjadi, artinya saya akan kehilangan hampir satu lap yang sudah susah payah saya lalui dengan penuh ketegangan.

Sayang sekali, GT6 langsung memotong replay ketika mobil melewati garis finis sehingga kita tidak bisa melihat langsung lap time terakhir dari tayangan ulang. 

Pada akhirnya, saya hanya baru mencetak 1:24,875 detik, walaupun itu sudah melebihi target 1:25,084 untuk mendapatkan trofi emas.

Sekarang, coba bayangkan bagaimana Ayrton Senna mengemudikan Lotus 97T di Estoril 1985 yang diguyur hujan lebat...

Ayrton Senna, Lotus Renault

Jadilah bagian dari sesuatu yang besar

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan Virtual , Formula 1
Event Gran Turismo 6
Tipe artikel Special feature