Opini: Menebak rencana jangka panjang Class One

dibagikan
komentar
Opini: Menebak rencana jangka panjang Class One
Oleh: Wisnu Setioko
10 Jul 2018 04.34

Setelah melalui berbagai proses dan polemik panjang, regulasi Class One Super GT dan DTM resmi disahkan. Apa yang bisa dihasilkan regulasi tersebut kedepannya?

Class One akhirnya menemui titik terang setelah serangkaian pembicaraan sejak 2014, serta adanya silaturahmi antara mobil-mobil DTM ke Jepang, begitu pula sebaliknya, akhir 2017 lalu. Berbagai masalah sempat mendera dalam penyusunan aturan tersebut, salah satunya adalah penolakan dari Mercedes.

Pabrikan bermarkas di Stuttgart tersebut bersikukuh supaya DTM tetap menggunakan mesin V8. Hal tersebut berbeda dengan aturan Class One yang mengharuskan pabrikan menggunakan mesin empat silinder. Dengan hengkangnya Mercedes, tidak ada lagi penghalang bagi DTM untuk menyelaraskan diri dengan regulasi gabungan.

Super GT dan DTM memiliki beberapa kemiripan. Selain tiga pabrikan yang bertarung (DTM tengah mencari pengganti Mercedes), keduanya juga mengadopsi aturan siluet, yaitu konsep mobil balap yang dibangun menyerupai bentuk mobil komersial pabrikan.

Berbeda dengan TCR maupun GT3, siluet tidak lahir dari konversi mobil showroom menjadi mesin balap. Bagian sasis siluet sebagian besar berbeda dengan versi jalanannya. Bisa dibilang, bentuknya cukup ringkas, dengan celah modifikasi untuk menyesuaikan regulasi.

Sasis standar siluet diberi ‘wajah’ berupa bodi mobil menyerupai versi pabrikan. Hadirnya wajah-wajah familiar di arena balap terkemuka seperti Super GT dan DTM cukup berpotensi mendatangkan keuntungan bagi pabrikan peserta.

Salah satu tujuan regulasi gabungan DTM dan Super GT adalah hadirnya event gabungan skala internasional. Cita-cita tersebut akan dimulai musim depan dengan dua balap eksibisi di kawasan Eropa dan Asia.

Bila berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin hal lainnya akan tercapai, seperti pertukaran pabrikan antar kedua negara, peleburan ADAC GT Masters dan DTM, serta bergabungnya kejuaraan mobil siluet lainnya ke dalam Class One.

Slider
List

Super GT and DTM demo run

Super GT and DTM demo run
1/5

Foto oleh: Alexander Trienitz

Super GT and DTM demo run

Super GT and DTM demo run
2/5

Foto oleh: Alexander Trienitz

DTM and Super GT cars in the starting grid

DTM and Super GT cars in the starting grid
3/5

Foto oleh: Alexander Trienitz

Super GT and DTM cars test

Super GT and DTM cars test
4/5

Audi RS5 DTM, BMW M4 DTM, Honda NSX-GT, Lexus LC500, Mercedes-AMG C 63 DTM, Nismo GT-R

Audi RS5 DTM, BMW M4 DTM, Honda NSX-GT, Lexus LC500, Mercedes-AMG C 63 DTM, Nismo GT-R
5/5

Foto oleh: ITR eV

Pertukaran pabrikan Jepang-Jerman

Sejak pertama kali dihelat dengan nama Deutsche Tourenwagen Meisterschaft, balap turing Jerman tersebut tidak pernah menghadirkan konstruktor dari luar Eropa. Paling banter, pabrikan partisipan berasal dari negara tetangga seperti Alfa Romeo dan Volvo.

Hal tersebut berbeda dengan kelas tertinggi JGTC (nama sebelum Super GT) yang sempat menghadirkan mobil-mobil Eropa, seperti McLaren F1 GTR, Lamborghini Murcielago RG-1, dan Ferrari 550 GTS.

Dengan adanya Class One, bukan tidak mungkin kita bisa melihat Lexus berlaga sepenuhnya di DTM, ataupun aksi Audi menaklukkan pabrikan tuan rumah selama satu musim penuh di Super GT, terlebih dengan adanya sejumlah penekanan biaya sejak awal perumusan aturan.

Salah satu hal yang patut dipertimbangkan adalah biaya untuk bolak-balik Jepang dan Jerman, mengingat sebagian besar tim peserta hanya bermain kandang dan negara-negara di sekitarnya.

Slider
List

Aksi start: #77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz

Aksi start: #77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz
1/5

#77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz

#77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz
2/5

#77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz

#77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz
3/5

#17 KÜS Team75 Bernhard Porsche 911 GT3 R: Timo Bernhard, Kévin Estre

#17 KÜS Team75 Bernhard Porsche 911 GT3 R: Timo Bernhard, Kévin Estre
4/5

Foto oleh: Alexander Trienitz

#77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz

#77 Callaway Competition, Corvette C7 GT3-R: Jules Gounon, Daniel Keilwitz
5/5

Peleburan DTM dan ADAC GT Masters

Balap eksibisi 2019 akan menggunakan format balapan DTM, dua kali sprint race tanpa adanya pergantian pembalap dan isi ulang bahan bakar. Untuk tim-tim Super GT, strategi yang mungkin dilakukan adalah menggunakan satu pembalap di tiap balapan, mirip dengan ronde spesial Fuji sebelum 2014.

Alih-alih GT500 berdiri sendiri dan menerapkan format balapan DTM, kemungkinan lebih besar terjadi adalah peleburan ADAC GT Masters, balap GT3 Jerman, dengan DTM ke dalam satu payung kejuaraan.

Akan ada kesulitan bila DTM dan ADAC GT balapan dalam satu waktu yang sama seperti Super GT. DTM menggunakan format satu pembalap satu mobil, sedangkan ADAC GT Masters menurunkan dua pembalap dalam satu mobil secara bergantian, layaknya balap GT pada umumnya. Pembicaraan lebih lanjut terkait perbedaan mendasar kedua disiplin balap perlu dilakukan.

Jika masih tidak memungkinkan, satu-satunya opsi adalah menggelar ‘kelas DTM’ (versi tandingan GT500) dan ‘kelas ADAC GT Masters’ (versi tandingan GT300) secara bergantian pada akhir pekan yang sama.

Slider
List

Thiago Camilo dan Daniel Serra

Thiago Camilo dan Daniel Serra
1/6

Ricardo Maurício

Ricardo Maurício
2/6

Rubens Barrichello dan Cesar Ramos

Rubens Barrichello dan Cesar Ramos
3/6

Richie Stanaway, Prodrive Racing Australia Ford, Alexandre Prémat, Team Penske Ford

Richie Stanaway, Prodrive Racing Australia Ford, Alexandre Prémat, Team Penske Ford
4/6

Chaz Mostert, Tickford Racing Ford

Chaz Mostert, Tickford Racing Ford
5/6

Foto oleh: Dirk Klynsmith / LAT Images

Fabian Coulthard, DJR Team Penske Ford

Fabian Coulthard, DJR Team Penske Ford
6/6

Foto oleh: Dirk Klynsmith / LAT Images

Bergabungnya VASC dan Stock Car Brasil

Kemungkinan lain dengan hadirnya Class One adalah semakin eksisnya kejuaraan balap mobil berbasis siluet. Seperti dijelaskan di awal tulisan, Super GT dan DTM sama-sama mengadopsi aturan mobil balap siluet. Tidak heran bila ada yang menyebut Class One sebagai langkah awal menyatukan ajang balap pengguna mobil bayangan lainnya.

Di kawasan Australia, kita mengenal Australian Supercars, atau dulu dikenal dengan nama V8 Supercars Championship. Sama seperti DTM dan Super GT, tim-tim peserta bisa memilih satu dari tiga mobil untuk berlaga: Holden Commodore ZB, Nissan Altima, dan Ford Falcon FG X.

Balap siluet dengan format turing ini juga menghadirkan ronde khusus, seperti Sydney Supernight dan balap ketahanan Bathrust 1000.

Bila nantinya menyatakan diri bergabung, Supercars harus merombak total desain mobilnya, karena bentuk mobil dari ketiga pabrikan VASC sangat berbeda dengan model peserta Super GT dan DTM.

Brasil memiliki ajang Stock Car, dengan Chevrolet Cruze Stock Car sebagai satu-satunya pilihan tim-tim peserta. Sama seperti DTM, Stock Car Brasil harus mampu menggaet dua pabrikan lagi untuk memenuhi jumlah minimal pabrikan peserta kejuaraan.

Faktor lain yang patut diperhatikan adalah perbedaan jarak antara keempat negara tersebut. Meski jauh, koordinasi Jepang dan Jerman tidak menjadi masalah mengingat hanya ada dua negara. Namun, bila nanti ada lebih banyak ajang bergabung dengan Class One, akan ada kendala berupa logistik terutama dalam event gabungan. Sekali lagi, tim-tim peserta setiap kejuaraan lebih sering bermain kandang.

Ketiga rencana tersebut mungkin terjadi selama penerapan pertama musim depan berjalan lancar. Kita tentu menantikan aksi mobil-mobil Super GT dan DTM bertarung dalam event eksibisi 2019.

Artikel Super GT berikutnya
Kovalainen takjub bisa pimpin klasemen

Artikel sebelumnya

Kovalainen takjub bisa pimpin klasemen

Next article

Button was-was hasil ronde kedua terulang

Button was-was hasil ronde kedua terulang
Load comments

Tentang artikel ini

Kejuaraan DTM , Super GT
Penulis Wisnu Setioko
Tipe artikel Special feature