Review Super GT 2018: NISMO

dibagikan
komentar
Review Super GT 2018: NISMO
Oleh:
23 Des 2018 13.58

NISMO kembali gagal menjadi penantang kuat Super GT 2018 setelah hanya menempati peringkat kedelapan klasemen akhir tim.

Untuk keempat kalinya, duet Tsugio Matsuda dan Ronnie Quintarelli memperkuat tim pabrikan Nissan di kelas GT500. Dengan dukungan penuh dari konstruktor, mobil Motul Autech GT-R nomor 23 kembali menjadi tumpuan skuat Yokohama.

Bayang-bayang ketidakmampuan untuk bersaing sudah terlihat di balapan pembuka Okayama, ketika Matsuda-Quintarelli hanya finis kelima. Setidaknya, Nissan masih bisa bernafas lega dengan dua perwakilan lainnya yang menyelesaikan balapan dua posisi di belakang NISMO, yakni Forum Engineering GT-R dan Craftsports Motul GT-R.

Tim besutan Yutaka Suzuki tersebut segera berbenah jelang balapan Golden Week (liburan satu pekan Jepang saat musim semi), Fuji 500 km. NISMO sukses menaklukkan trek Toyota dengan finis di depan Denso Sard LC500 dan Zent Cerum LC500.

Sayang, kemenangan itu menjadi satu-satunya hingga musim 2018 berakhir. Bahkan untuk kembali finis lima besar terasa sangat berat. Torehan finis terbaik pada paruh kedua ada di Sugo dan Motegi, masing-masing ketujuh.

Hal berbeda dibanding 2017 saat NISMO mampu menyabet tiga podium, satu diantaranya adalah kemenangan balapan pamungkas Motegi. Andai pertaruhan Quintarelli untuk memakai ban kering dalam kondisi trek basah Buriram berhasil, bukan tak mungkin mobil nomor 23 kembali mempersembahkan titel bagi Nissan.

Statistik NISMO Super GT 2018
Nomor Balapan Finis Poin
1 Okayama 5 9
2 Fuji 500 km 1 23
3 Suzuka 6 8
4 Thailand 12 2
5 Fuji 500 mil 9 6
6 Sugo 7 7
7 Autopolis 15 2
8 Motegi 7 7
Total   64

Nick Cassidy sempat memprediksi kebangkitan NISMO jelang berakhirnya musim, terlebih dengan pembaruan mesin di Sugo.

“Di balapan berikutnya [Sugo], Nissan membawa pembaruan mesin. Saya sudah berharap akan makin sulit mempertahankan posisi di klasemen. Di Motegi banyak trek lurus, Nissan punya keunggulan 10 kilometer per jam di trek lurus,” ucap pembalap Selandia Baru itu usai putaran kelima, Fuji 500 mil. Rupanya lawan tangguh mereka bukanlah juara Super GT 2014-2015, melainkan Raybrig NSX-GT.

Sudah tiga musim Nissan puasa gelar, ditambah prestasi NISMO yang kian melorot. Selain peningkatan paket mobil, rasanya mereka perlu merombak tim inti. Pembalap muda seperti Jann Mardenborough perlu diberi kesempatan untuk mengeluarkan potensi terbaiknya.

Slider
List

Tsugio Matsuda dan Ronnie Quintarelli

Tsugio Matsuda dan Ronnie Quintarelli
1/10

Foto oleh: Masahide Kamio

Tim #23 MOTUL AUTECH GT-R

Tim #23 MOTUL AUTECH GT-R
2/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
3/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
4/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
5/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
6/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
7/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
8/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
9/10

Foto oleh: Masahide Kamio

#23 MOTUL AUTECH GT-R

#23 MOTUL AUTECH GT-R
10/10

Foto oleh: Masahide Kamio

Next article
Review Super GT 2018: Denso Sard

Artikel sebelumnya

Review Super GT 2018: Denso Sard

Next article

Review Super GT 2018: ARTA

Review Super GT 2018: ARTA
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan Super GT
Pembalap Tsugio Matsuda , Ronnie Quintarelli
Tim Nissan Motorsports
Penulis Wisnu Setioko