OPINI: Berkah di balik mundurnya Porsche dari LMP1

dibagikan
komentar
OPINI: Berkah di balik mundurnya Porsche dari LMP1
Jamie Klein
Oleh: Jamie Klein
Diterjemahkan oleh: Aditya Siregar
16 Des 2017 22.09

Banyaknya prospek peserta LMP1 tahun depan dan rencana aturan baru telah membuat pabrikan semangat kembali. Bagaimana bisa terjadi?

Saat Porsche mengumumkan mundur dari arena LMP1 empat bulan silam, tampak seperti bahwa kategori tengah berada di ujung tanduk.

Ditambah kemunculan dua LMP2 di podium keseluruhan Le Mans 24 Jam dan selisih tipis kemenangan ke-19 Porsche, membuat posisi LMP1 benar-benar tampak lemah. Bahkan sebelum pasukan Weissach mengumumkan niatnya pergi.

Lalu, bagaimana ceritanya bahwa WEC bahkan menuju kearah grid LMP1 paling sehat sepanjang sejarahnya pada 2018/19? 

Start of the race #1 Porsche Team Porsche 919 Hybrid: Neel Jani, Andre Lotterer, Nick Tandy leads from #7 Toyota Gazoo Racing Toyota TS050-Hybrid: Mike Conway, Kamui Kobayashi, Jose Maria Lopez
Awal balapan, #1 Porsche Team Porsche 919 Hybrid: Neel Jani, Andre Lotterer, Nick Tandy di depan #7 Toyota Gazoo Racing Toyota TS050-Hybrid: Mike Conway, Kamui Kobayashi, Jose Maria Lopez

Photo by: JEP / LAT Images

Jawaban pendeknya adalah, berita mundurnya Porsche telah memaksa seri untuk mengambil langkah penting untuk menjamin masa depan jangka pendek dan panjangnya.

Bahkan sebelum itu, Ginetta dan SMP Racing telah mengumumkan rencana menurunkan mobil di LMP1-L (sebelum kategori dibubarkan dan digabung dengan LMP1-H), menjadikan total grid di kelas puncak menjadi enam atau tujuh mobil pasca mundurnya Porsche.

Tapi sekarang, jumlah ini membengkak menjadi 11. Berkat Manor, DragonSpeed dan Rebelion yang naik kelas dari LMP2, karena ketiganya melihat peluang dapat bersinar di kelas puncak.

Salah satu penyebabnya, keseimbangan performa yang akan diberlakukan ACO dan FIA selaku regulator WEC guna membuat pertarungan antara Toyota dan tim privat menarik.

Ditambah fakta kehadiran WEC ‘superseason’ 2018/19 dengan dua ronde Le Mans membuat tim semakin tertarik. Mengingat catatan Toyota yang tidak terlalu baik dari sisi daya tahan di Le Mans.

Semakin menarik dengan rencana regulasi baru 2020/21 yang memberikan wajah mobil jalan raya, diprediksi akan mengundang lebih banyak pabrikan baru. 

#6 AMG Mercedes CLR LMGTP: Bernd Schneider, Pedro Lamy, Franck Lagorce
#6 AMG Mercedes CLR LMGTP: Bernd Schneider, Pedro Lamy, Franck Lagorce

John Brooks

Pascal Vasselon, direktur teknik Toyota di Bahrain menyiratkan bahwa berdasarkan diskusi, terdapat lebih dari dua pabrikan di kelas utama ketika regulasi diberlakukan.

Dalam kata lain, pergeseran menuju desain ala mobil jalanan dapat membawa WEC kembali ke era keemasannya antara 2014-16 ketika ada pertarungan tiga arah antara Toyota, Audi dan Porsche.

“Luar biasa jika kami bisa merebut imajinasi penggemar dan pabrikan” ucap pembalap Toyota Anthony Davidson kepada Motorsport.com.

“Selama tidak ada perubahan kecepatan dan mereka terlihat impresif dari sisi kecepatan menikung dan kelincahan, saya tidak melihat sisi negatif apa pun.”

“Inilah keunggulan balap sportscar [dibandingkan jenis lain], memiliki potensi berpenampilan mirip mobil jalan raya. Ini harus dipikirkan ketika pabrikan tengah menuju arah membuat mobil lebih seksi di masa depan.”

“Untuk membuat mobil unik dan mewakili unsur seksi sportscar, alasan kenapa GTE begitu sukses dan LMP1 hanya menyisakan satu pabrikan.”

Minggu ini Toyota menunjukkan seperti apa kira-kira wajah mobil LMP1 tahun 2020/21 melalui foto siluet GR Super Sport Concept. Model yang memiliki banyak sekali pengaruh TS050 Hybrid.

Kita takkan melihat mobil ini sampai awal tahun depan. Tetapi desain merupakan pengingat terhadap akhir 1990-an ketika GT-One bertarung melawan mesin-mesin tak kalah eksotisnya yang secara teori berbasis mobil jalan raya, tetapi sebetulnya murni mesin balap. 

#3 Toyota Motorsport Toyota GT-One: Ukyo Katayama, Keiichi Tsuchiya, Toshio Suzuki

#3 Toyota Motorsport Toyota GT-One: Ukyo Katayama, Keiichi Tsuchiya, Toshio Suzuki

Photo by: Toyota Racing

Itulah titik tertinggi keterlibatan pabrikan di Le Mans dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi masalah saat itu adalah tidak adanya kejuaraan dunia yang diselenggarakan. Sehingga investasi dilakukan pabrikan seperti tidak balik modal.

F1 mendapatkan muntahan ketika Toyota bersama BMW, Nissan dan Mercedes sama-sama mundur dan membuka jalan bagi dominasi Audi.

Situasi yang saat ini sungguh berbeda dengan WEC menyediakan platform global bagi pabrikan ingin mengecap kesuksesan di Le Sarthe.

Dan kondisi kesehatan divisi GTE, dengan kehadiran tak kurang dari lima tim pabrikan dengan datangnya BMW, membuktikan bahwa napsu tersebut masih sangatlah kuat.

Namun ironi terbesar adalah, mundurnya Porsche yang membuat semua pihak berpikir ulang, akan menerjunkan armada masif 911 RSR di kelas GTE Pro. Juga merupakan salah satu pihak terlibat dalam peraturan 2020/21.

Jika pabrikan Stuttgart kembali dengan versi modern dari 911 GT1, penggemar balap sportscar tentu akan menatap 2017 sebagai tahun ketika balap menemukan ulang jalannya menuju kesuksesan. 

Allan McNish, Laurent Aiello, Stéphane Ortelli, Porsche 911 GT1-98

Allan McNish, Laurent Aiello, Stéphane Ortelli, Porsche 911 GT1-98

Photo by: LAT Images

Artikel WEC berikutnya
DC Racing: Laurent langgar kesepakatan

Artikel sebelumnya

DC Racing: Laurent langgar kesepakatan

Next article

Mecachrome rilis detail mesin LMP1

Mecachrome rilis detail mesin LMP1

Tentang artikel ini

Kejuaraan WEC
Tim Porsche Team , Toyota Racing
Penulis Jamie Klein
Tipe artikel Komentar