Mengenal perbedaan GTE dan GT3

Walau terlihat sama dan memiliki performa beda tipis, sebetulnya terdapat perbedaan mendasar antara GTE dan GT3.

Secara fisik, ketika ditempatkan bersebelahan, akan sangat sulit membedakan mana mobil balap GTE atau GT3. Padahal ketika menilik konsep maupun filosofi dasarnya, kedua kategori ini merupakan dua spesies berbeda. Walau belakangan ini, beberapa produsen telah menghadirkan paket konversi GT3 ke GTE dan sebaliknya.

Kategori GT3 digunakan oleh hampir semua penyelenggara balap ketahanan atau sports car dunia. Sebut saja seri Blancpain, kejuaraan GT lokal Inggris, Italia, Jerman, Australia dan lainnya, Super GT Jepang, hingga kategori GTD IMSA WeatherTech Sports Car Championship.

Sementara, GTE hanya legal dipakai di WEC, ELMS dan kategori GTLM IMSA.

GT3

Pada prinsipnya, GT3 adalah mobil balap berbasis model jalan raya. Pabrikan tinggal menghadirkan satu model turunan, untuk disesuaikan dengan regulasi dan keselamatan balap. Tidak ada pembatasan dimensi, hingga kapasitas dan tenaga mesin.

Semua spesifikasi teknis diserahkan kepada pabrikan. Meski ada beberapa pembatasan. Seperti tidak diizjinkannya sistem gerak empat roda dan hybrid. Membuat versi GT3 dari sports car AWD seperti Audi R8, Lamborghini Huracan dan Nissan GT-R hadir berpenggerak belakang. Atau Acura / Honda NSX GT3 yang kehilangan sistem hybrid-nya.

Untuk menjaga tidak adanya unsur dominasi, dilakukan pemerataan performa antara setiap mobil GT3. FIA memberlakukan penyeimbangan performa dengan membatasi tenaga mesin, hingga memberikan bobot ekstra.

Untuk mencegah terjadinya perang senjata, pabrikan dilarang samasekali berpartisipasi. Hanya boleh diikuti tim privat.

Konsep GT3 mulai diperkenalkan 2005 oleh Stephane Ratel (SRO). Saat ini, hampir semua merek sports car ada di pasar memiliki versi GT3.

GTE, Grand Touring Endurance

Inilah kategori GT diizinkan berlaga di WEC dan Le Mans. Juga dinamai GTLM untuk seri kejuaraan IMSA.  Meski sepintas sama, GTE menganut prinsip dasar berbeda dengan kategori GT3. Pada GTE, penyelenggara memberlakukan regulasi ketat dengan spesifikasi teknis tertentu (dimensi, kapasitas mesin, dan lain-lain). Inilah mengapa GTE dijadikan arena bermain pabrikan. Bagaimana mempertajam performa dalam keterbatasan regulasi.

Akibatnya, harga per unitnya pun lebih mahal dari GT3. Sebagai contoh, Porsche 911 GT3 R dihargai 429 ribu euro, sementara konon 911 RSR dihargai hampir dua kali lipat.

Guna menjaga performa tetap unggul atas GT3, FIA dan ACO merevisi regulasi GTE sejak musim silam. Revisi regulasi difokuskan pada area aerodinamika. Bagian depan boleh diimbuhi splitter, sementara diffuser diperbolehkan di belakang. Hasilnya, penampilan mobil lebih agresif. Mengingatkan kita pada era kejayaan GT1 dengan segala kecanggihan peranti aerodinamikanya.

Walau berbeda konsep, belakangan ini pabrikan mulai membuat mobil bisa berfungsi sebagai GTE dan GT3. BMW, misalnya, meminta homologasi khusus kepada IMSA untuk mengonversi M6 GT3 menjadi M6 GT LM.

Sementara, Ferrari menghadirkan versi balap 488 yang dapat “berubah” menjadi GTE dan GT3 dengan mudah. Bentuknya pun sangat mirip, meski performanya masih berbeda. Pada sesi latihan keempat Sebring 12 Hours 2017, catatan waktu Ferrari 488 GTE unggul empat detik atas 488 GT3.

Rencana Unifikasi?

Dulu sempat ada wacana melakukan unifikasi GTE dengan GT3. Namun, perbedaan kepentingan antara SRO, FIA, ACO, hingga pabrikan membuat hal ini mustahil dilakukan.

Walau GT3 unggul dari sisi pabrikan, bukan berarti hal ini menyurutkan minat menghadirkan GTE. Saat ini, GTE diikuti oleh Ferrari, Porsche, Aston Martin, Ford dan Chevrolet. Menyusul BMW tahun depan.

Bahkan, ancaman bubarnya LMP1 menjadikan GTE dilirik banyak pihak sebagai magnet penarik atensi penggemar balap ketahanan. 

Jadi, rasanya kita akan melihat GT3 dan GTE berjalan berdampingan untuk beberapa watu kedepan.

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan WEC , IMSA , Blancpain Endurance
Tipe artikel Special feature