Pasang surut tim privat LMP1

dibagikan
komentar
Pasang surut tim privat LMP1
Oleh: Aditya Siregar
31 Des 2017 10.30

Mencermati perjalanan kiprah tim privat LMP1 sepanjang lima tahun sejarah FIA World Endurance Championship.

#4 ByKolles Racing CLM P1/01: Simon Trummer, Pierre Kaffer, Oliver Webb

#4 ByKolles Racing CLM P1/01: Simon Trummer, Pierre Kaffer, Oliver Webb

Foto oleh: Vision Sport Agency

Mundurnya Porsche di akhir musim 2017 sungguh merupakan pukulan telak bagi FIA dan ACO selaku penyelenggara WEC. Lebih parah, Peugeot yang ditunggu-tunggu kedatangannya ternyata memilih Rallycross dibandingkan balap ketahanan.

Dengan menyisakan Toyota sebagai satu-satunya pabrikan tidak menyatakan mundur, perhatian FIA dan ACO pun terpusat kepada kehadiran tim privat. Gayung pun bersambut, diumumkannya program tim privat LMP1 dari SMP Racing, DragonSpeed, dan Manor, serta kembalinya Rebellion dan ByKolles  mampu mencegah punahnya LMP1.

Ironis mengingat sejak 2014, FIA dan ACO tidak memberikan perhatian khusus kepada tim privat. Mundurnya satu persatu privateer LMP1 dianggap bagaikan angin lalu.

FIA dan ACO seperti terlena akan perang teknologi pabrikan. Apalagi pada 2015, kategori diikuti empat pabrikan dengan bergabungnya Nissan. Pertempuran tiga pihak antara Toyota, Porsche dan Audi pun meluncur tidak terkendali. Selisih performa antara LMP1 hybrid dengan tim privat semakin melebar.

Keduanya seperti lupa belajar sejarah. Bagaimana kehadiran tim privat merupakan komponen penting dalam kisah balap ketahanan, khususnya Le Mans 24 Hours. Pasca punahnya Grup C pada akhir 1993, bisa dibilang eksistensi Le Mans terselamatkan berkat kehadiran tim-tim privat dari kategori LMP / WSC dan GT.

Pun ketika sejarah berulang pada 1999, ketika tim pabrikan seperti BMW, Toyota, Nissan dan Mercedes ramai-ramai mundur dari balap ketahanan. Berkat Audi dan tim-tim privat seperti Courage, Pescaralo dan lain-lain, Le Mans tetap diramaikan peserta.

Saat WEC diselenggarakan perdana 2012, terdapat tujuh tim privat LMP1 dari Rebellion, Pescarolo, OAK Racing, Strakka Racing dan JRM. Menggunakan lima jenis sasis berbeda dari Lola, Pescarolo, Dome dan HPD.

Setahun berikutnya, tinggal Rebellion dengan dua Lola B12/60 dan satu mobil HPD dari Strakka. Tahun 2014-2016, Rebellion ditemani Lotus CLM P1/01 yang kemudian berganti nama menjadi ByKolles.

Rebellion akhirnya menyerah di akhir 2016, sementara ByKolles hanya bertahan sampai paruh musim 2017.

Selisih waktu dengan LMP1 pabrikan semakin melebar, seperti dicontohkan dengan catatan kualifikasi Le Mans 24 Jam. Di tahun 2012, catatan kualifikasi terbaik LMP1 privat terpaut 5,835 detik dari peraih pole. Melonjak menjadi 7,974 detik di tahun 2014 dan naik ke angka 9,987 detik setahun kemudian.  

Dengan adanya delapan LMP1 pabrikan, peluang bagi tim privat untuk meraih hal optimal gelar umum bisa dibilang mendekati nol persen.

Akan tetapi, semua ini berubah dengan mundurnya Audi dan Porsche dari arena. Dengan hanya dua Toyota, setidaknya satu posisi podium LMP1 WEC dan Le Mans akan ditempati tim privat. Dan apa terjadi dengan Toyota di Le Mans 2016 dan 2017, membuat peluang bagi Manor, Rebellion, SMP, ByKolles atau DragonSpeed dalam merebut juara menjadi sangat terbuka.

FIA dan ACO merespons dengan sangat baik ancaman kepunahan LMP1 dengan regulasi baru superseason yang menjamin kesetaraan performa antara mesin hybrid dengan non-hybrid.

Sejauh ini sebanyak tujuh mobil LMP1 privat telah dikonfirmasi kehadirannya. Telah menyamai jumlah peserta musim inaugurasi WEC. Dengan masih adanya potensi tambahan peserta andai Manor jadi menurunkan dua mobil, atau munculnya pengumuman baru menjelang dimulainya superseason April mendatang.

Menarik untuk melihat reaksi penyelenggara WEC andai regulasi baru 2021 mendapatkan respons positif berupa bergabungnya dua atau tiga pabrikan baru. Semoga, tidak mengulangi sejarah dengan mengabaikan tim privat di kategori puncak.

Slider
List

#16 Pescarolo Team Pescarolo 03 Judd: Emmanuel Collard, Stuart Hall

#16 Pescarolo Team Pescarolo 03 Judd: Emmanuel Collard, Stuart Hall
1/10

Foto oleh: Eric Gilbert

#15 Oak Racing Oak Pescarolo Judd: Franck Montagny, Bertrand Baguette, Dominik Kraihamer

#15 Oak Racing Oak Pescarolo Judd: Franck Montagny, Bertrand Baguette, Dominik Kraihamer
2/10

Foto oleh: Eric Gilbert

#17 Pescarolo Team Dome Judd: Nicolas Minassian, Seiji Ara, Sébastien Bourdais

#17 Pescarolo Team Dome Judd: Nicolas Minassian, Seiji Ara, Sébastien Bourdais
3/10

Foto oleh: Eric Gilbert

#12 Rebellion Racing Lola B12/60 Coupé - Toyota: Nicolas Prost, Neel Jani

#12 Rebellion Racing Lola B12/60 Coupé - Toyota: Nicolas Prost, Neel Jani
4/10

#21 Strakka Racing HPD ARX 03a Honda: Nick Leventis, Danny Watts, Jonny Kane

#21 Strakka Racing HPD ARX 03a Honda: Nick Leventis, Danny Watts, Jonny Kane
5/10

Foto oleh: Eric Gilbert

#13 Rebellion Racing Rebellion R-One AER: Matheo Tuscher, Dominik Kraihamer, Alexandre Imperatori

#13 Rebellion Racing Rebellion R-One AER: Matheo Tuscher, Dominik Kraihamer, Alexandre Imperatori
6/10

#9 Lotus CLM P1/01 - AER: Christophe Bouchut, James Rossiter, Pierre Kaffer

#9 Lotus CLM P1/01 - AER: Christophe Bouchut, James Rossiter, Pierre Kaffer
7/10

#4 ByKolles Racing CLM P1/01: Oliver Webb, Dominik Kraihamer, Marco Bonanomi

#4 ByKolles Racing CLM P1/01: Oliver Webb, Dominik Kraihamer, Marco Bonanomi
8/10

Foto oleh: Marc Fleury

SMP Racing Dallara BR1 LMP1 testing

SMP Racing Dallara BR1 LMP1 testing
9/10

Ginetta LMP1

Ginetta LMP1
10/10
Artikel WEC berikutnya
Timo Bernhard: WEC butuh mobil cepat dan “seksi”

Artikel sebelumnya

Timo Bernhard: WEC butuh mobil cepat dan “seksi”

Next article

Audi belum berencana buat mesin LMP1

Audi belum berencana buat mesin LMP1
Load comments

Tentang artikel ini

Kejuaraan WEC
Penulis Aditya Siregar
Tipe artikel Special feature