Dominique Aegerter Frustrasi Gelarnya Tak Laku di Mata Tim WSBK

Jadi juara World Supersport (WSSP) 2021, tak lantas membuat Dominique Aegerter bisa melenggang ke World Superbike (WSBK). Sepinya tawaran membuatnya kecewa.

Dominique Aegerter Frustrasi Gelarnya Tak Laku di Mata Tim WSBK

Aegerter sangat sibuk musim ini karena harus tampil dalam dua kompetisi berbeda. Kendati demikian, ia mampu menorehkan prestasi di MotoE dan WSSP yang memiliki motor dengan spesifikasi berbeda.

Pembalap Swiss tersebut memperkuat Dynavolt Intact GP dalam MotoE dan mampu memperpanjang duel juara hingga putaran akhir. Sayangnya, Jordi Torres lebih tangguh di Sirkuit Misano.

Setelah perjuangan berakhir di ajang balap motor listrik, ia dapat fokus ke WSSP dengan Ten Kate Racing. Aegerter memastikan juara di Argentina atau satu putaran lebih cepat usai memborong 10 kemenangan.

Pencapaian tersebut jadi bukti betapa tangguhnya rider 31 tahun itu. Ironisnya, prestasi mentereng tak cukup untuk membuat tim WSBK menyodorkan tawaran promosi.

Baca Juga:

Padahal, beberapa tim, salah satunya Honda, sempat mencari pembalap baru. Sedangkan, Luca Bernardi, yang duduk di peringkat ketujuh WSSP, diikat Barni Racing untuk WSBK 2022. Philipp Oettl juga promosi bersama Go Eleven Ducati.

Jadi musim depan, rekan setim Galang Hendra Pratama itu masih bertarung di kelas menengah. Ia berharap melihat titik terang tentang kans ke WSBK akhir musim depan.

“Saya sedikit kecewa karena beberapa pekan silam, Anda bisa melihat bahwa saya berpotensi jadi juara dunia, juga dengan 10 kemenangan. Setiap pembalap ingin naik kelas, apakah itu di MotoGP atau Superbike,” ujarnya kepada Motorsport.com.

“Saya mencoba segalanya tapi tak punya kesempatan untuk promosi. Saya tidak tahu apakah itu karena saya orang Swiss atau berusia 31 tahun. Musim depan, saya akan bertahan di SSP dengan tim yang sama dan saya harap kami bisa naik bersama ke World Superbike dengan motor pabrikan (pada 2023).

Aegerter memiliki pengalaman panjang dalam balap motor. Ia pernah tampil di kelas 125cc dan Moto2 dalam kurun waktu 2006-2019. Pembalap senior itu pernah menang di Moto2 Jerman 2014 dan serta enam podium lain dalam ajang tersebut.

Prestasi terbaik di grand prix adalah peringkat kelima klasemen Moto2 2013 dan 2014. Berada di posisi akhir musim 2019, MV Agusta Idealavoro Forward pun mendepaknya.

Rider, yang memulai karier di motocross tersebut, tak perlu menganggur lama karena Dynavolt mengajaknya berpartisipasi di MotoE. Tanpa pikir panjang, ia menyanggupi dan mempersembahkan peringkat ketiga musim 2020.

 

Di sela itu, empat kali, Aegerter dipanggil NTS RW Racing GP untuk turun dalam Moto2. Melihat lagi perjuangannya di belakang, ia mengaku sangat berat.

“Sangat emosional karena banyak orang berpikir itu mudah, tapi sebenarnya pekerjaan sulit. Saya berlatih setiap hari untuk mencapai momen ini dan ada banyak orang yang mendukung saya, sponsor, tim serta keluarga,” katanya.

“Musim ini, kami dapat menggabungkannya bersama. Saya mencapai impian jadi juara dunia. Kami melewati tahun-tahun sulit dan olahraga ini sangat berbahaya dengan (peluang) cedera dan seperti ini. Menjadi juara dunia adalah sesuatu yang sangat besar. Sulit dipercaya.”

Orelac Kawasaki dan Pedercini Kawasaki masih punya kursi kosong untuk musim depan. Mungkin manajer Aegerter bisa mencarikan pekerjaan dalam skuad tersebut.

dibagikan
komentar
Motul Indonesia Cari Sobat Road To WSBK Mandalika
Artikel sebelumnya

Motul Indonesia Cari Sobat Road To WSBK Mandalika

Artikel berikutnya

James Toseland Senang Honda Lakukan Peremajaan pada WSBK 2022

James Toseland Senang Honda Lakukan Peremajaan pada WSBK 2022
Muat komentar