Mantan Jagoan WSSP300 Kritik Cara Rekrut Pembalap di WSSP

Scott Deroue menyebut untuk bisa turun di Kejuaraan Dunia Supersport (WSSP), pembalap harus memiliki dukungan finansial besar.

Mantan Jagoan WSSP300 Kritik Cara Rekrut Pembalap di WSSP

Sejak kali pertama digelar pada 2017, Kejuaraan Dunia Supersport 300 (Supersport 300 World Championship/WSSP300) sudah banyak memunculkan pembalap muda berbakat.

Kendati begitu, tidak semua pembalap hebat di ajang balap motor berbasis produksi massal dengan kapasitas mesin 300 cc-500 cc itu untuk naik ke kelas Supersport World Championship (WSSP).

Sejak 2017, juara WSSP300 yang mampu naik ke WSSP pada tahun berikutnya baru Manuel Gonzalez. Pembalap asal Spanyol itu menjadi juara WSSP300 pada 2019 dan terbilang sukses pada musim pertamanya di WSSP bersama Kawasaki ParkinGO Team.

Dalam 15 race WSSP 2020, pembalap 18 tahun itu selalu mampu finis 10 besar dengan hasil terbaik tiga kali finis P6. Gonzalez pun menempati peringkat keenam pada musim pertamanya di ajang balap motor produksi massal berkapasitas mesin 600 cc-750 cc tersebut.

Baca Juga:

Kendati belum pernah juara, Scott Deroue (kanan pada foto utama) bisa dibilang salah satu pembalap hebat di WSSP300 berkat performanya yang tidak pernah finis di luar tiga besar klasemen akhir.

Total, pembalap asal Belanda tersebut enam kali menang dan 20 podium. Pembalap 25 tahun itu finis di P3 klasemen akhir pada 2017 dan 2018, serta runner-up pada 2019 dan 2020.

Namun, Jumat (5/3/2021) pekan lalu, Deroue menyatakan mundur dari balapan. Saat itu ia beralasan tidak ada tawaran untuk turun plus motivasi yang sudah berkurang. Belakangan, ia mengungkapkan alasan sesungguhnya meninggalkan balapan.

“Saya ingin turun di Supersport (WSSP). Tetapi ajang itu terlalu mahal buat saya,” tutur Deroue yang selalu menggeber Kawasaki Ninja 400 di WSSP300 dengan membela Tim MTM HS Kawasaki pada 2017 dan tiga musim berikutnya bersama Kawasaki Motoport.

Scott Deroue saat turun dengan Kawasaki Ninja 400 milik Tim MTM Kawasaki Motoport di WSSP300 2020 lalu.

Scott Deroue saat turun dengan Kawasaki Ninja 400 milik Tim MTM Kawasaki Motoport di WSSP300 2020 lalu.

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Musim lalu, Deroue menjadi rekan setim Jeffrey Buis (kiri pada foto utama) di MTM Kawasaki Motoport. Buis yang akhirnya menjadi juara WSSP300 2020, akan bertahan di kategori ini pada 2021.

Sebagai rekan setim, sahabat, sekaligus rival, Deroue berharap Buis sukses di masa depan. Menurut Deroue, selain banyak hal penting yang harus dicermati, balap juga butuh keberuntungan.

“Saya senang tim (MTM Kawasaki) mulai melatih Buis dengan motor 600 cc. Sebagai juara bertahan, Buis harus menunjukkan hasil fantastis lagi musim ini. Jika tidak, ia takkan mendapatkan posisi di WSSP. Akan jauh lebih sulit jika ia hanya finis P5,” kata Deroue.

Lebih jauh Deroue menilai mungkin masih terlalu dini jika Buis musim ini ke WSSP. Selain masih muda, level WSSP juga sangat tinggi. Banyak pembalap hebat di ajang itu.

“Saya juga akan terkejut jika Buis naik (ke WSSP) tahun ini. Pasalnya, butuh bujet besar untuk turun di WSSP dan itu butuh waktu untuk mengumpulkannya,” ucap Deroue.

“Salah satu alasan saya mundur dari balap adalah karena semua itu (WSSP) akhirnya soal uang, bukan seberapa hebat Anda di lintasan,” tutur Scott Deroue.

Untuk satu musim, tim-tim di WSSP biasanya meminta uang dua atau tiga kali lipat dari yang dikeluarkan di WSSP300. Menurut Scott Deroue, saat ini sulit menemukan tim di WSSP yang mau menerima di bawah 100 ribu euro (sekira Rp1,71 miliar) untuk balap satu musim.      

 

dibagikan
komentar
Rabat Bakal Mampu Finis Podium

Artikel sebelumnya

Rabat Bakal Mampu Finis Podium

Artikel berikutnya

Bayliss Lihat Potensi Besar pada Diri Putranya

Bayliss Lihat Potensi Besar pada Diri Putranya
Muat komentar