Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia
World Superbike Autodrom Most

Razgatlioglu Jatuh karena Ban Kempes Mendadak

Toprak Razgatlioglu kehilangan kemenangan di depan mata dalam Race 2 WSBK Ceko, Minggu (30/7/2023), karena masalah ban belakang. Pirelli pun meminta maaf.

Toprak Razgatlioglu, Pata Yamaha WorldSBK

Pertarungan mendebarkan antara Toprak Razgatlioglu dan Alvaro Bautista tersaji di Autodrome Most. Pembalap Pata Yamaha tersebut terus merespons manuver sang juara bertahan.

Duel sengit ini berakhir sebelum enam lap pamungkas ketika Razgatlioglu mengalami highside saat keluar dari Tikungan 2.

Selepas sesi yang mengecewakan itu, rider Turki menjelaskan bahwa ban kempes mendadak sebagai penyebab utama kecelakaannya.

“Ada sebuah tusukan. Ban belakang tiba-tiba kehilangan udara,” tuturnya. "Kami memeriksa bannya dan melihat ada dua kerusakan besar. Saya sudah merasakan getaran di Tikungan 18 dan 19, tapi saya pikir itu normal.

"Saya tidak pernah mengalami crash seperti ini. Saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ketika ban meledak.”

Razgatlioglu tidak habis pikir mengapa kompon SC1 tidak bisa menahan tekanan, berbeda dengan SC0.

Baca Juga:

"Tahun lalu saya mengendarai ban SC0 di sini dan jarak balapannya sama. Tidak ada masalah dalam balapan. Kali ini kami menggunakan ban SC1, yang lebih keras karena Pirelli merasa khawatir," ia melanjutkan.

Keluhan seputar ban ternyata juga diutarakan oleh rekan sesama Yamaha, Remy Gardner. Hanya saja, ia lebih beruntung karena bisa menuntaskan balapan dan memperoleh tambahan poin.

"Saya mengalami masalah yang sama dengan Toprak, tapi saya masih bisa menyelesaikan balapan. Ada lubang besar di ban belakang. Kami beruntung ban belakang tidak meledak dan kami bisa menyelesaikan balapan dengan satu lap lagi dan ban tersebut mungkin akan meledak,” ucapnya.

Pada umumnya, ban belakang mengalami banyak tekanan karena ada beberapa tikungan panjang yang harus dilalui dengan gigi empat dan lima.

"Semua orang setuju bahwa ini adalah trek tersulit kedua (untuk ban) setelah Phillip Island," kata juara Moto2 2021.

"Kami memberikan banyak tekanan pada ban, bahkan saat melakukan deselerasi dengan rem belakang. Kami menggunakan rem belakang dengan sangat intensif untuk memperlambat laju motor.

"Dengan Yamaha, Anda menggunakan garis yang mengingatkan Anda pada Moto3. Anda melaju di dinding ban dalam waktu yang sangat lama dan menikung dengan kecepatan tinggi."

Pirelli memberikan reaksi awal dua jam setelah balapan. Dilaporkan ada tiga kasus ban melepuh dengan tingkat keparahan berbeda.

"Pada balapan kedua WSBK, dengan spesifikasi ban belakang C0567 baru, kami mencatat ada tiga kasus ban melepuh: Jonathan Rea, Gardner dan Razgatlioglu. Pada dua kasus pertama, lecet yang terjadi sangat kecil dan tidak berpengaruh pada performa dan hasil balapan, sementara pada Razgatlioglu, ban mengalami dua lecet yang lebih jelas dan data telemetri menunjukkan adanya kehilangan tekanan secara tiba-tiba," pernyataan produsen ban.

"Meskipun kecepatan pembalap Yamaha sangat tinggi dan tidak ada pembalap lain yang menunjukkan tanda-tanda tekanan atau keausan, jelas insiden seperti itu tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, kami akan melakukan analisis laboratorium secara menyeluruh terhadap tiga ban yang melepuh untuk mengetahui apa penyebabnya.”

Toprack Razgatlioglu, Alvaro Bautista, Aruba.it Racing Ducati, Jonathan Rea, Kawasaki Racing Team WSBK

Toprack Razgatlioglu, Alvaro Bautista, Aruba.it Racing Ducati, Jonathan Rea, Kawasaki Racing Team WSBK

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Titel Masih Jauh

Crash di Tikungan 2 mengakhiri duel luar biasa dengan Alvaro Bautista sebelum waktunya. Di lap-lap sebelumnya, pimpinan lomba terus berubah. Juara WSBK 2022 menggunakan keunggulan kecepatan tertinggi Ducati Panigale V4 R di lintasan lurus panjang, tetapi Razgatlioglu selalu bisa mengerem untuk menyalipnya.

"Karena Ducati sangat cepat di lintasan lurus, saya harus selalu keluar dari tikungan terakhir sebagai yang terdepan. Jika tidak, saya tidak akan bisa menyalipnya di tikungan pertama," Razgatlioglu menjelaskan strateginya.

"Saya melihat Bautista mengerem dengan sangat keras dan membuka rem lagi. Saya harus menyalipnya di tikungan ini karena di tikungan lainnya sulit. Saya memberinya sedikit ruang. Rencana saya setiap saat adalah menjadi yang pertama di lintasan lurus dan yang pertama berbelok di tikungan pertama. Itu sangat penting bagi saya.

"Rencana saya berjalan dengan baik. Ketika melihat saya unggul 0,4 detik, saya melaju dengan lebih tenang dan berkonsentrasi untuk mencatatkan waktu putaran yang bagus. Saya rasa saya berkendara dengan sangat baik, tapi sayangnya balapan berakhir lebih cepat.”

Selisih di klasemen tiba-tiba bertambah dari 49 menjadi 74 poin. Razgatlioglu kembali menjauh dari puncak.

Hal itu tak membuatnya berkecil hati. "Kami masih memiliki banyak balapan yang harus dijalani," kata Razgatlioglu optimistis.

"Saya kesal, tapi bukan pada tim saya atau saya sendiri, melainkan pada ban yang menjadi masalah. Saya tidak menyalahkan Pirelli karena mereka telah menyediakan ban yang lebih keras untuk mengatasi masalah tersebut. Saya tak mengatakan apapun yang menentang Pirelli. Saya hanya kurang beruntung.”

"Saya tidak berpikir tentang kejuaraan. Saya hanya ingin memenangkan balapan. Sepertinya kejuaraan tidak semudah itu lagi. Saya akan melakukan yang terbaik setiap akhir pekan."

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Race 2 WSBK Ceko: Bautista Nikmati Sukses ke-50, Razgatlioglu Anti Klimaks
Artikel berikutnya Bobot Ringan Rugikan Bautista di WSBK Ceko

Top Comments

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak menulis sesuatu?

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia