Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia
Special feature

Ritual Rider WSBK, Mulai dari Kiri hingga Menyimpan Azimat

Ritual dan takhayul merupakan salah satu sisi lain dari dunia olahraga yang menarik untuk diulas. Lalu seperti apa kebiasaan sebelum balapan para rider World Superbike (WSBK)?

Jonathan Rea, Kawasaki Racing Team WorldSBK

Sebagian pembalap melakukan ritual hanya sekadar meningkatkan kepercayaan diri dan lebih beruntung di lintasan. Keyakinan dan ketenangan kadang dibutuhkan dalam olahraga yang sangat berisiko tersebut.

Hal itu bisa didapatkan hanya dengan cara sederhana, misal memakai sarung tangan atau sepatu selalu dengan urutan sama. Ritual ini dilakukan juara dunia WSBK enam tahun, Jonathan Rea.

“Saya tidak terlalu percaya takhayul, hanya sebuah kebiasaan sekarang. Saya selalu memakai sarung tangan dan sepatu bot dari sebelah kiri lalu kanan,” ujarnya dikutip dari situs resmi WSBK.

“Tahun demi tahun ritual juga berubah. Selama satu tahun, pada 2015,saya pernah makan McDonald’s setiap Rabu sebelum putaran lomba karena ketika saya melakukannya sebelum dua balapan pertama, hasilnya bagus. Tapi sekarang, hanya sebelah kiri sebelum kanan, tidak terlalu rumit.”

Chaz Davies, yang tumbuh di negara kuno penuh kisah dongeng, sangat percaya dengan takhayul. Dia membawa batu bertuah dan azimat.

Koin perak yang diberikan seorang penggemar dari Amerika Serikat, yang berbuah kemenangan ganda di Laguna Secca, jadi benda berharga.

“Saya dulu punya beberapa (benda) takhayul, tapi kemudian saya membuangnya satu persatu, bahkan ada beberapa yang aneh,” kata mantan rider GoEleven itu.

Davies menyimpan mainan lunak dan pernak-pernik pemberian para fan dalam kulkas mini di kabin pribadinya pada truk Aruba.it.

“Saya punya banyak mantra keberuntungan. Saya beruntung selama beberapa tahun ini karena orang-orang memberi sedikit hadiah. Saya mendapat patung Buddha mini, gantungan kunci berbentuk cabai, orang Australia memberikan clip-on Koala.

“Jadi barang-barang seperti itu…Saya tidak akan membuangnya! Tapi, saya tidak merasa bahwa mereka memberi keberuntungan atau seperti itu, tapi mereka merupakan kenang-kenangan kecil yang indah. Saya punya banyak.”

Baca Juga:

Angka 57 juga sangat berarti bagi pembalap yang memutuskan pensiun di usia 35 tahun tersebut.

“Saya mengancingkan helm lewat 57 detik jam berapa pun, selalu berhubungan dengan nomor saya. Tapi, saya mencoret itu semua sekarang. Sekarang, saya hanya rutin memasang sarung tangan sebelah kiri lebih dulu, sepatu bot kiri, naik motor dari sisi kiri,” ujarnya.

“Itu dimulai dari sesuatu yang nyaman, tapi sekarang hanya bagian dari proses. Di bawah sadar, mereka sangat kuat, dan saya tahu bahwa itu terdengar aneh karena itu tak berarti apa pun, tapi jika Anda merasa punya rutinitas terputus dan rutinitas Anda konsisten, ada banyak yang dikatakan tentang itu.

“Ketika Anda naik motor, itu seperti Anda telah mencentang setiap kotak. Kalau Anda tidak menjalankannya, lebih sporadic, kemudian Anda tidak punya rasa puas dan mengatakan, ‘Saya telah menjalani rutinitas saya’ dan seperti itu.”

Mantan rider BMW, Tom Sykes, memilih memasang pemutar MP3 dan kacamata di grid. Alasannya sederhana karena tidak mau mendengar kebisingan di sekitarnya.

Lagu yang dipilihnya Rihanna, Guns N’ Roses, Metallica atau Eminem. Namun, juara WSBK 2013 itu menegaskan yang dilakukannya tidak berhubungan dengan takhayul.

“Bagi saya, hanya agar tidak terlalu mendengar apa yang terjadi di sekitar. Bagi saya tidak ada yang menonjol. Kami berada di permainan yang salah untuk jadi percaya dengan takhayul,” ucapnya.

“Saya selalu berjanji kepada diri sendiri agar tak percaya takhayul karena dalam dunia balap, dengan pola pikir seperti itu, Anda tidak akan melakukan sesuatu dengan tepat dan melangkah ke motor. Kalau Anda yakin dengan takhayul, itu akan mulai melawan Anda."

Tom Sykes, BMW Motorrad WorldSBK Team

Tom Sykes, BMW Motorrad WorldSBK Team

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Eugene Laverty mengklaim sekarang tidak percaya takhayul, seperti saat masih remaja. Menariknya, ia menganggap keberuntungan Irlandia tidak berlaku dengannya. Jadi pembalap Bonovo Action BMW itu menolak memakai simbol apa pun, seperti daun semanggi.

“Rutinitas adalah kunci untuk mencegah rasa gugup masuk. Saya datang ke box 10 menit sebelum naik motor, membahas rencana dengan kepala kru dan insinyur elektronik selama beberapa menit, kemudian memasang pelindung telinga lima menit sebelum pergi,” ia mengungkapkan.

“Sarung tangan kiri dipakai sebelum yang kanan tapi kemudian, itu hanya rutinitas, bukan takhayul. Saya bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke motor seperti autopilot, tanpa sedikit pun rasa gugup. Itu kekuatan pikiran bawah sadar.”

Be part of Motorsport community

Join the conversation
Artikel sebelumnya Althea Racing Siap Kembalikan DNA Balap di WSSP 2022
Artikel berikutnya Leon Haslam Kembali Berlabuh ke British Superbike

Top Comments

Sign up for free

  • Get quick access to your favorite articles

  • Manage alerts on breaking news and favorite drivers

  • Make your voice heard with article commenting.

Motorsport prime

Discover premium content
Berlangganan

Edisi

Indonesia Indonesia