Sulit Menjaga Margin di Triple-Header WSBK

World Superbike (WSBK) akan memasuki fase paling sulit musim ini dengan digelarnya triple-header yang sangat menentukan perebutan gelar juara dunia.

Sulit Menjaga Margin di Triple-Header WSBK

WSBK 2021 akan memasuki fase krusial dengan digelarnya tiga balapan beruntun dalam tiga pekan. Triple-header ini akan dimulai dengan WSBK Catalunya, putaran kesembilan, pada akhir pekan ini (17-19/9/2021).

Sepekan kemudian (24-26/9/2021), para pembalap akan turun di WSBK Spanyol. Lima hari kemudian, mereka akan menjalani putaran ke-11, WSBK Portugal, pada 1-3 Oktober.

Balapan back-to-back hingga tiga ini di WSBK sebenarnya bukan hal baru. Hanya, memang triple-header ini tidak biasa dilakukan. Sejarah mencatat, sebelumnya hanya pernah digelar tiga triple-header dalam tiga musim.

Pada musim perdana WSBK, 1988, tiga balapan beruntun dalam tiga pekan digelar di Sugo (Jepang), Le Mans (Prancis), dan Estoril (Portugal).

Dua tahun kemudian, 1990, WSBK menggelar triple-header melintasi lautan dengan balapan di Sha Alam (Malaysia), Phillip Island (Australia), dan Manfeild (New Zealand).

Pada akhir dekade tersebut, 1999, tiga putaran juga digelar secara beruntun di tiga sirkuit di Eropa masing-masing di Spielberg (Austria), Assen (Belanda), dan Hockenheim (Jerman). Praktis, triple-header WSBK tahun ini menjadi yang pertama di abad ke-21.

Baca Juga:

Pandemi Covid-19 telah membuat awal WSBK 2021 mundur menjadi akhir Mei. Kalender balap juga ditekan sedemikian rupa sehingga menjadi tantangan tidak biasa bagi pembalap.

Di kejuaraan dunia lain seperti MotoGP, triple-header juga sudah menjadi hal biasa sejak Covid-19 melanda dunia. Namun, di MotoGP dan seri-seri pendukungnya (Moto2 dan Moto3), balapan hanya dilakukan sekali setiap akhir pekan.

Sebaliknya di WSBK dan kedua seri pendukungnya. Jika para pembalap World Supersport (WSSP) dan WSSP300 hanya akan menjalani dua balapan setiap akhir pekan, di WSBK para pembalap harus menjalani tiga lomba (Race 1-2 dan Superpole Race) setiap pekan.

Dengan begitu, pada triple-header di Catalunya, Jerez, dan Algarve nanti, para pembalap kategori WSBK akan menjalani sembilan balapan hanya dalam 16 hari.

Dua pembalap WSBK, Alvaro Bautista (Team HRC) dan Scott Redding (Aruba.it Racing - Ducati), yang pernah melakukan triple-header saat berkarier di MotoGP, berbagi pengalaman seperti apa rasanya menjalani tiga balapan secara beruntun.

Alvaro Bautista, Team HRC

Alvaro Bautista, Team HRC

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

“Yang patut dicermati, ini tiga balapan beruntun dengan tiga balapan di setiap pekannya. Anda harus sangat fokus dan dipastikan akan sangat sulit untuk rileks dalam tiga pekan tersebut,” ucap Bautista seperti dikutip laman resmi World Superbike.

Pembalap asal Spanyol tersebut menegaskan, para pembalap mungkin bisa mengurangi stres saat jeda di antara balapan. Tetapi, mereka harus mampu langsung kembali berkonsentrasi ke balapan.

“Ini balapan yang menuntut Anda untuk tidak membuat kesalahan karena terjatuh atau hal lain yang bisa merusak balapan berikutnya. Inilah puncak paling penting dari seluruh kejuaraan,” tutur runner-up WSBK 2019 tersebut.

Jika triple-header ini sudah membuat kepala para pembalap pening, bagaimana dengan mereka yang tengah bertarung memperebutkan gelar juara dunia seperti Jonathan Rea (Kawasaki Racing Team) dan Toprak Razgatlioglu (Pata Yamaha with Brixx WorldSBK)?

Menjelang triple-header, Razgatlioglu masih memimpin klasemen. Namun, ia hanya unggul tujuh poin dari Jonny Rea, kampiun WSBK enam musim terakhir (2015-2020).

“Akan sangat sulit menjaga margin ketika Anda harus selalu mengeluarkan kemampuan sampai batas. Khususnya jika Anda bertarung untuk sesuatu yang penting di kejuaraan,” kata pembalap yang akan kembali ke Ducati mulai WSBK tahun depan.  

“Bila Anda sedang bersaing untuk gelar, sulit untuk tidak turun menekan. Namun pada saat yang sama, Anda pasti akan memikirkan risiko cedera yang akan membuat situasi memburuk.

“Jadi, Anda harus mencoba memastikan mampu mengeluarkan kemampuan terbaik namun masih di dalam limit. Dua hal ini memang sulit diseimbangkan.

“Tetapi, mungkin yang terpenting Anda bisa merebut poin signifikan di semua balapan daripada merebut banyak di satu race namun nol di balapan lainnya.”

Scott Redding, Aruba.It Racing - Ducati

Scott Redding, Aruba.It Racing - Ducati

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Secara matematis, Redding yang kini berada di peringkat ketiga masih berpeluang bersaing merebut gelar. Namun, runner-up WSBK 2020 lalu itu memiliki pandangan lebih pragmatis soal triple-header.

“Kami akan menjalani tiga putaran secara beruntun. Tidak mudah memang. Namun ini bukanlah awal sebuah era atau akhir dari dunia. Kami harus bersaing, melakukan pekerjaan,” kata pembalap asal Inggris tersebut.

“Ada tiga balapan setiap pekan dalam tiga minggu beruntun. Saya kira, sangat penting bagi pembalap untuk bisa beristirahat di antara putaran.”

Meskipun belum pernah menjalani triple-header sepanjang kariernya, Rea sepertinya terlihat tenang menghadapi bulan tersibuk pada September ini. Ia bahkan sudah menyiapkan rencana untuk triple-header ini.

“Secara mentalitas masih sama. Kami akan menjalani race demi race. Mungkin saya akan lebih banyak beristirahat di antara putaran. Mungkin tidak akan ada latihan, hanya istirahat di antara putaran tersebut,” katanya.

“Akhir pekan lomba tidak hanya akan menguras fisik tetapi juta mentalitas dan emosi. Akan sulit karena selain trek kami juga harus memperhitungkan set-up, strategi, dan pengambilan keputusan.”

Toprak Razgatlioglu, PATA Yamaha WorldSBK Team, Jonathan Rea, Kawasaki Racing Team WorldSBK

Toprak Razgatlioglu, PATA Yamaha WorldSBK Team, Jonathan Rea, Kawasaki Racing Team WorldSBK

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Toprak Razgatlioglu Sulit Diredam, Ini Penjelasannya

Artikel sebelumnya

Toprak Razgatlioglu Sulit Diredam, Ini Penjelasannya

Artikel berikutnya

Scott Redding Bantah Gabung BMW Sebuah Langkah Mundur

Scott Redding Bantah Gabung BMW Sebuah Langkah Mundur
Muat komentar