Buntut Tragedi Dean Berta Vinales, Michel Fabrizio Kritik Keras FIM

Pembalap World Supersport (WSSP) Michel Fabrizio, melancarkan protes kepada Federasi Balap Motor Internasional (FIM) dengan menolak turun berlomba pada Minggu (26/9/2021).

Buntut Tragedi Dean Berta Vinales, Michel Fabrizio Kritik Keras FIM

Paddock kejuaraan dunia balap motor dikejutkan lagi atas insiden kecelakaan yang merenggut nyawa Dean Berta Vinales dalam Race 1 World Supersport 300 Spanyol di Jerez, Sabtu (25/9/2021).

Meski telah dievakuasi ke rumah sakit dan mendapat perawatan medis, Vinales tidak dapat diselamatkan lantaran cedera parah di bagian kepala dan dada. Dia meninggal dunia pada usia yang begitu muda, 15 tahun.

Tragedi yang menewskan Vinales merupakan yang ketiga sejak insiden kecelakaan Jason Dupasquier (Moto3) di Mugello, serta Hugo Millan (European Talent Cup) di Aragon.

Kabar kepergian Vinales rupanya memukul berat Michel Fabrizio. Pembalap G.A.P. Motozoo Racing by Puccetti itu mengaku muak, dan merasa bahwa ini waktu yang tepat baginya untuk gantung helm.

Melalui tulisan panjang yang diunggah di akun media sosial Instagram, Fabrizio mengkritik keras kinerja FIM, sembari mempertanyakan banyak peserta minim pengalaman tapi sudah berkompetisi di trek balap.

Dean Berta Vinales

Dean Berta Vinales

Foto oleh: Dorna

Berikut petikannya:

“Besok (Minggu) saya akan menolak untuk balapan karena rasa hormat terhadap kehidupan manusia. Dan saya akan pensiun. Sudah waktunya untuk mengatakan cukup sudah.

“Hari ini saya menyaksikan hari yang buruk, kehilangan seorang pembalap yang baru berusia 15 tahun. Saya telah melihat begitu banyak balapan seperti ini dalam kategori ini, dan setiap kali balapan berakhir, ada napas lega karena berjalan dengan baik. Tapi sayangnya itu tidak selalu berjalan dengan baik dan hari ini hal yang tidak terduga terjadi atau mungkin apa yang Anda tahu bisa terjadi.

“Saya berbaring di tempat tidur hotel saya selama lebih dari 5 jam melihat langit-langit, memikirkan kembali saat-saat indah yang telah diberikan olahraga ini kepada saya. Tapi kembali setelah 6 tahun, saya melihat dunia ini berubah.

“Saya melihat ketidakpedulian dari pihak Federasi Internasional: menurunkan 42 anak di Yamaha Cup (untungnya semuanya berjalan lancar, pada 2021) dan 42 lainnya di World (Supersport) 300.

“Terlalu banyak, terlalu banyak pembalap dengan sedikit atau tanpa pengalaman, dan ini tidak hanya terjadi di kejuaraan dunia, tetapi juga di kejuaraan nasional, di mana semuanya diambil, hingga tempat terakhir yang tersedia.

Baca Juga:

“Valentino Rossi bertahun-tahun lalu, ketika (Marc) Marquez memasuki MotoGP, mengkritik, mengatakan bahwa dia mengeluh tentang manuver Marquez yang "salah". Seseorang harus memberinya alasan. Marc telah menjadi titik referensi: anak-anak muda ini meniru perbuatannya, menyalip terlalu banyak di batas, bersandar pada lawan mereka mempertaruhkan setiap inci.

“Mari tambahkan bahwa saya pensiun dari dunia balap untuk mengirim pesan protes yang kuat! Sehingga aturan berubah untuk melindungi kehidupan manusia. Masalahnya ada di Moto3, di Talent Cup dan di kejuaraan nasional! Selain itu, trek juga harus ditinjau dan harus menyediakan run off area yang lebih baik!

“Ini semua karena FIM yang tidak memainkan peran pengamanan, tetapi lebih memilih bisnis! Sudah waktunya bagi politik masing-masing negara untuk campur tangan!

“Yang pertama melontarkan pesan kuat adalah Ayrton Senna, yang mengatakan bahwa beberapa trek berbahaya, dan hanya setelah kematiannya mereka turun tangan. Hari ini di Formula1 ada lebih sedikit kematian, tetapi di (balap) motor akhir-akhir ini ada pembantaian!”

 
dibagikan
komentar
Toprak Razgatlioglu Ingin Jadi Pembalap Turki Pertama Peraih Gelar WSBK

Artikel sebelumnya

Toprak Razgatlioglu Ingin Jadi Pembalap Turki Pertama Peraih Gelar WSBK

Artikel berikutnya

Bakal Uji YZR-M1, Toprak Razgatlioglu Dipandang Cocok ke MotoGP

Bakal Uji YZR-M1, Toprak Razgatlioglu Dipandang Cocok ke MotoGP
Muat komentar