WSBK Masih Sulit Bertahan Lama di Asia

Kejuaraan Dunia Superbike (WSBK) masih terus mencari cara agar seri bisa digelar di banyak negara Asia dalam jangka waktu lama.

WSBK Masih Sulit Bertahan Lama di Asia

Sejak resmi digelar pada 1988, WSBK selalu ingin menyambangi negara-negara Asia. Berbagai upaya dilakukan agar balapan berbasis sepeda motor produksi massal 1.000 cc ini bisa dilangsungkan di tempat-tempat penting di dunia.

Anehnya, sampai sekarang sangat sulit bagi WSBK untuk menggelar secara permanen balapan di sebuah negara di Asia. Terakhir, mereka akhirnya gagal saat mengupayakan balapan di Sirkuit Sepang, Malaysia.

Sirkuit Sugo, Jepang, menjadi trek di Asia yang sejauh ini terlama menggelar balap WSBK, 16 kali. Tepatnya antara 1988 sampai 2003.

Sirkuit Shah Alam, Malaysia, tercatat hanya dua kali menjadi tuan rumah WSBK, 1990-1991. Fabrizio Pirovano (Yamaha) dan and Raymond Roche (Ducati) masing-masing memenangi dua race pada 1990 dan 1991.

Trek yang memiliki perbedaan elevasi dengan panjang 3,7 km dengan 14 tikungan kiri dan 10 kanan itu memang berkarakter mirip trek-trek di Eropa. Arsitek asal Belanda, John Hugenholtz, adalah perancang sirkuit ini.

Baca Juga:

Berikutnya, Sirkuit Johor juga hanya menggelar balapan WSBK pada 1992 dan 1993. Dua balapan ini disapu bersih para pembalap Ducati. Pada 1992, Roche dan Doug Poland masing-masing memenangi satu race. Setahun berikutnya, Carl Fogarty menguasai kedua race.

Saat ini trek sepanjang 3,6 km itu terbengkalai. Rencana untuk merenovasi tidak jadi dilaksanakan. Sebagai pengganti, justru dibangun trek baru, Fasttrackcity.

Setelah Johor, WSBK menyambangi Indonesia yang saat itu baru selesai membangun Sirkuit Internasional Sentul di Jawa Barat. Dibuka pada Agustus 1993, Sentul empat kali menggelar balap WSBK pada 1994 sampai 1997.

Sentul juga dua kali menjadi tuan rumah seri Kejuaraan Dunia Balap Motor, yakni pada 1996 dan 1997. Valentino Rossi memenangi kelas 125 cc (kini Moto3) pada 1997 dan waktu lap terbaik kelas tersebut di Sentul – 1:34,044 menit – masih atas namanya.

Setelah Sentul, WSBK tidak lagi menyambangi Asia sampai Sepang bersedia. Menjelang digelarnya WSBK di Sepang pada 2014, Dorna Sports selaku promotor sebetulnya mengikat kontrak yang menjanjikan dengan Sepang.

Sayangnya, jumlah penonton yang datang jauh di bawah ekspektasi. Alhasil, kontrak tiga kali menggelar WSBK, 2014-2016, pun tidak diperpanjang. Pemenang terakhir WSBK Sepang pada 2016 adalah Nicky Hayden. Setahun kemudian, ia meninggal dunia akibat kecelakaan saat bersepeda.

Sirkuit Chang di Thailand melanjutkan balap WSBK di Asia pada 2015-2019 (lima kali) sekaligus gelaran terakhir WSBK di Asia.

Asia sejatinya menjadi pangsa penting bagi ajang balap motor dunia. Namun, entah mengapa meskipun Sepang mampu menarik minat penonton datang melihat Kejuaraan Dunia Balap Motor (MotoGP), mereka tak bisa mengulanginya untuk WSBK.

Jonathan Rea, Kawasaki Racing Team, Toprak Razgatlioglu, Pata Yamaha

Jonathan Rea, Kawasaki Racing Team, Toprak Razgatlioglu, Pata Yamaha

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Secara umum, kegagalan WSBK bertahan lama di sebuah sirkuit di Asia, memiliki sejumlah penyebab yang bervariasi. Di Thailand misalnya. Sebagian besar orang hanya mampu menyaksikan sekali ajang balap motor di negara mereka.

Saat Chang sudah dipakai untuk MotoGP, mereka lebih memilih menyaksikan persaingan Marc Marquez (Repsol Honda) melawan Valentino Rossi (Yamaha) ketimbang duel antara Jonathan Rea (Kawasaki) melawan Scott Redding (Ducati) di WSBK.

Inilah yang membuat jumlah penonton WSBK di negara seperti Thailand terus menurun. Sementara, menggelar balapan di Jepang dirasa sangat mahal oleh tim-tim WSBK.

Tahun ini, Dorna mencoba mengembalikan WSBK ke Asia dengan mengikat kontrak dengan Mandalika Grand Prix Association (MGPA), promotor resmi WSBK dan MotoGP di Indonesia.

Mandalika International Street Circuit di Lombok, Nusa Tenggara Barat, rencananya akan menjadi tuan rumah pada 12 dan 13 November mendatang, alias menjadi balapan terakhir dari 13 lomba WSBK 2021.

Namun begitu, sejumlah pihak masih meragukan apakah WSBK benar-benar bisa digelar di Mandalika. Pembangunan sirkuit saat ini sudah mencapai lebih dari 70 persen. Homologasi dari FIM sendiri rencananya akan dilakukan pada Juni atau Juli nanti

Alasan yang paling membuat banyak pihak ragu adalah pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir dan dikhawatirkan bisa memengaruhi perjalanan tim-tim yang bisa saja muncul dari aturan perjalanan dari negara asal mereka.  

  

 

 

dibagikan
komentar
Laverty Rasakan Peningkatan pada BMW M1000RR

Artikel sebelumnya

Laverty Rasakan Peningkatan pada BMW M1000RR

Artikel berikutnya

Bos Barni Pede Rabat Bisa Raih Hasil Positif

Bos Barni Pede Rabat Bisa Raih Hasil Positif
Muat komentar