Kembangkan mesin F1, Honda terinspirasi teknologi jet

dibagikan
komentar
Kembangkan mesin F1, Honda terinspirasi teknologi jet
Oleh:
25 Jun 2019 13.28

Honda mengambil inspirasi dari proyek mesin jet mereka untuk kemudian diterapkan pada pengembangan Formula 1 yang kini mulai dinikmati Red Bull.

Pabrikan Jepang tersebut memperkenalkan ‘Spek 3’ pada perhelatan GP Prancis pekan lalu, membawa sejumlah pembaruan yang meliputi turbocharger dan mesin pembakaran dalam.

Divisi penelitian dan pengembangan Honda F1 diperkuat personel-personel yang pernah bekerja dalam proyek mesin jet selama dua tahun. Kolaborasi inilah yang memuluskan jalan mereka untuk membuat kemajuan reliabilitas pada ‘Spek 3’ yang diperkenalkan penghujung tahun lalu.

Dalam sebuah pertemuan dengan para petinggi Honda, Yasuaki Asaki yang memimpin operasional F1 Honda di Sakura (markas Honda di Jepang), mengisyaratkan bahwa kolaborasi dalam pengembangan teknologi turbin juga akan membuahkan hasil.

“Mesin jet memang berbeda [dari mesin F1]. Tetapi turbocharger dan MGU-H memiliki peran yang mirip seperti turbin di dalam jet,” ucap direktur teknis Honda F1, Toyoharu Tanabe, kepada Motorsport.com.

“Itu melibatkan perputaran dengan kecepatan yang tinggi, dan turbin membutuhkan pengembangan desain aero.

“Jadi ada kemiripan teknologi di sana.”

Mesin Jet Turbofan HF120

Mesin Jet Turbofan HF120

Foto oleh: Honda

Motorsport.com meyakini Honda mengambil desain bilah turbin mesin jet Honda HF120 sebagai bagian dari inspirasi mereka.

“Jika Anda hanya bekerja di F1, maka fokus Anda terbatas di sini saja,” kata bos Honda F1, Masashi Yamamoto, kepada Motorsport.com.

“Kita bisa memiliki sudut pandang yang berbeda dari area atau orang lain, dan meminta saran mereka.

“Kali ini, inspirasi itu berasal dari area aerodinamika turbin.

“Pandangan yang baru bisa memberi kami sejumlah peningkatan.”

Mengapa mesin jet relevan untuk F1

Mesin Jet Turbofan HF120

Mesin Jet Turbofan HF120

Foto oleh: Honda

HF120, mesin yang memberi tenaga untuk HondaJet HA-420, pesawat jet kecil dengan enam kursi, beroperasi dalam kondisi ekstrem di ketinggian yang tinggi.

Mesin itu terdiri dari dua turbin, bagian kecil yang bertekanan tinggi mengusung bilah kristal untuk menghasilkan pembakaran bahan bakar yang lebih rendah. Sementara bagian lebih besar yang bertekanan rendah, berputar ke arah berlawanan, menawarkan bobot yang lebih ringan.

Mesin F1 turbohibrida V6 pada umumnya dilengkapi turbocharger dan MGU-H yang dapat berputar sampai 125.000 rpm (rotasi per menit).

Honda sebelumnya kesulitan membuat kedua komponen tersebut bekerja secara reliabel dalam kondisi intens seperti itu.

Selain menjadi risiko reliabilitas, hal itu juga membuat performa mesin secara keseluruhan berkurang dan kualitas pemulihan energi menjadi terbatas.

Turbo membuat kinerja mesin pembakaran menjadi lebih efisien. Udara yang terkompresi kemudian disalurkan ke ruang pembakaran. Proses ini menambah jumlah oksigen yang masuk serta memperbanyak jumlah bahan bakar yang mengalami pembakaran sempurna.

Meski itu menjadi interaksi vital dalam performa mesin tradisional V6, turbo juga memiliki hubungan dua arah yang krusial dengan MGU-H.

MGU-H mengubah energi panas dari gas buang menjadi energi listrik, yang kemudian memberi tenaga pada MGU-K, tetapi bisa juga disimpan. Berbeda dari MGU-K, jumlah energi per lap yang tersimpan di MGU-H tidak dibatasi saat balapan.

Semua ini memainkan peran penting dalam performa sistem pemulihan energi di mesin, yang berkontribusi atas 20 persen keseluruhan tenaga.

MGU-H juga bisa berfungsi untuk mengendalikan kecepatan turbo. Ini berarti MGU-H dapat membuat kompresor bekerja lebih cepat dan menghilangkan lag atau jeda respon dari turbo saat melakukan akselerasi.

Ini adalah elemen penting dalam pengendalian mesin.

Manfaat untuk Red Bull

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15

Foto oleh: Zak Mauger / LAT Images

Red Bull dan Honda sama-sama mengakui bahwa peningkatan lebih lanjut dibutuhkan untuk bisa bersaing dengan Mercedes dalam perebutan kemenangan dan gelar F1.

Dengan memperkenalkan mesin Spek 3 pada balapan kedelapan tahun ini, kedua pihak juga sadar, pengembangan berikutnya akan membawa mereka lebih dekat dengan penalti grid.

Walau demikian, Tanabe berkata bahwa pengenalan Spek 3 yang dilakukan lebih awal dari biasanya “masih sesuai dengan rencana”.

Tetapi ia juga mengakui bahwa hal ini ikut dipengaruhi oleh kolaborasi “jangka panjang” dengan tim penelitian dan pengembangan proyek mesin jet mereka.

“Ini membutuhkan waktu yang lama,” ujarnya. “Sedikit sulit untuk mengatakan ‘bulan depan [akan siap]’.

“Dari sisi Honda kami merasa siap, dan kemudian berdiskusi dengan tim untuk menentukan timing yang tepat, dan akhirnya diputuskan untuk menerapkannya [di Prancis].”

Honda sebelumnya telah menjelaskan bahwa spesifikasi terbaru mesin mereka tidak akan menghasilkan tambahan performa yang signifikan. Meski hasil pengujian di dyno menunjukkan sedikit penambahan tenaga.

Namun demikian, Honda merasa puas dengan reliabilitas dan kalibrasi pembaruan mesin mereka di Prancis, lantaran hal ini bisa dijadikan sebagai fondasi untuk menambah tenaga dengan pembaruan-pembaruan berikutnya.

“Jika Anda memiliki turbocharger dengan efisiensi tinggi, maka Anda bisa membagikan manfaat itu ke sisi ICE dan juga MGU-H,” ujar Tanabe.

“Terutama dengan pengembangan Spek 3 ini, kami memiliki turbocharger dengan efisiensi tinggi.

“Kemudian kita dapat mengoptimalkan keseimbangan total performa mesin.

“Anda bisa mendapat energi yang lebih efisien dari turbocarger, dan dalam hal manajemen energi, kami bisa membagikannya di seluruh bagian mesin.”

Slider
Daftar

Masashi Yamamoto, General Manager, Honda Motorsport, Toyoharu Tanabe, Direktur Teknis F1, Honda

Masashi Yamamoto, General Manager, Honda Motorsport, Toyoharu Tanabe, Direktur Teknis F1, Honda
1/10

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15
2/10

Foto oleh: Glenn Dunbar / LAT Images

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15
3/10

Foto oleh: Zak Mauger / LAT Images

Max Verstappen, Red Bull Racing RB15

Max Verstappen, Red Bull Racing RB15
4/10

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Toyoharu Tanabe, Direktur Teknis F1, Honda

Toyoharu Tanabe, Direktur Teknis F1, Honda
5/10

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Toyoharu Tanabe, Direktur Teknis F1, Honda

Toyoharu Tanabe, Direktur Teknis F1, Honda
6/10

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15
7/10

Foto oleh: Jerry Andre / Sutton Images

Max Verstappen, Red Bull Racing RB15

Max Verstappen, Red Bull Racing RB15
8/10

Foto oleh: Steven Tee / LAT Images

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15

Pierre Gasly, Red Bull Racing RB15
9/10

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Christian Horner, Team Principal, Red Bull Racing

Christian Horner, Team Principal, Red Bull Racing
10/10

Foto oleh: Andy Hone / LAT Images

Artikel berikutnya
Paddy Lowe resmi tinggalkan Williams

Artikel sebelumnya

Paddy Lowe resmi tinggalkan Williams

Artikel berikutnya

Ferrari siap korbankan kecepatan demi downforce

Ferrari siap korbankan kecepatan demi downforce
Muat komentar

Tentang artikel ini

Kejuaraan Formula 1
Tim Red Bull Racing Belanja
Tag berita f1
Penulis Scott Mitchell
Jadilah yang pertama untuk mendapatkan
berita terbaru