F1 Batasi Kuota Tuan Rumah Balapan di Timur Tengah

CEO Formula 1, Stefano Domenicali, menegaskan bahwa maksimal empat balapan dilangsungkan di kawasan Timur Tengah.

F1 Batasi Kuota Tuan Rumah Balapan di Timur Tengah

Musim ini, ada empat tuan rumah F1 yang berasal dari kawasan tersebut. GP Bahrain di Sirkuit Sakhir sebagai pembuka, lalu tiga seri penutup GP Qatar di Sirkuit Losail, GP Arab Saudi di Sirkuit Jalan Raya Jeddah dan GP Abu Dhabi di Sirkuit Yas Marina.

Karena Qatar hanya bersifat sebagai pengganti Australia, mereka tak masuk agenda musim depan yang akan menggelar 23 lomba.

Dalam wawancara dengan Motorsport.com, mantan petinggi Ferrari itu mengemukakan pendapat soal perkembangan balapan F1 di wilayah tersebut, yang dimulai sejak 2004.

“Saya akan mengatakan bahwa saat ini, Timur Tengah memberikan perasaan menyenangkan pada kami. Ada atmosfer sangat bagus di sini dalam semua balapan dan itu sangat berarti bagi kami,” Domenicali menjelaskan.

“Ini yang kami lihat di Qatar beberapa hari lalu. Saya kira itu contoh apa yang akan terjadi di Jeddah, trek baru dan penutup musim di Abu Dhabi, di mana kami harap akan ada balapan final untuk klasemen pembalap. Itu impian yang ingin kami buat jadi nyata.”

Kendati demikian, bukan berarti ke depannya negara di Jazirah Arab bisa mengajukan diri lagi jadi penyelenggara. F1 sudah memberikan batasan kuota.

“Saya kira di Qatar, kami bisa melaksanakan Grand Prix di Doha, sama seperti di Arab Saudi. Itu komitmen yang kami miliki dengan Emir dan promotor. Kami akan melakukan evaluasi bulan depan untuk mempelajari apakah itu layak,” ucapnya.

“Sekarang, kami tidak punya dua rencana balapan di Arab Saudi. Pertama, ada Jeddah yang dirilis beberapa hari. Kami akan ada di sana untuk beberapa tahun ke depan. Itu akan jadi pengalaman luar biasa.

“Kemudian, kami akan berdiskusi dengan promotor untuk melihat seperti apa masa depan dan lokasi yang ditentukan. Tapi, jumlah balapan di Timur Tengah, maksimal empat.”

Baca Juga:

Hadirnya Arab Saudi dalam kalender F1 sempat menuai kontroversi. Para pembela Hak Asasi Manusia (HAM) bahkan mengecam usai terkuaknya kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Domenicali seolah mengabaikan isu itu dan fokus pada keseriusan Arab Saudi menggelar lomba.

“Seperti yang saya katakan, kami sangat bangga karena kami yakin bahwa Timur Tengah telah mengerti pentingnya Formula 1 dan kami telah melakukan hal serupa di sisi lain,” pria Italia itu mengungkapkan.

“Kami selalu mengatakan bahwa kami adalah olahraga internasional dengan hati nurani luar biasa, jadi jika sebuah negara berkomitmen untuk investasi pada proyek jenis ini, fokus perhatian kepada mereka akan lebih besar.

“Arab sangat berkomitmen terhadap perubahan kultur dan kami ada dalam kategori olahraga, jadi perubahan tidak bisa dilakukan dalam satu malam saja, tapi F1 membantu akselerasi prosesnya untuk masa depan negara tersebut.”

Jeddah Street Circuit overview

Jeddah Street Circuit overview

Foto oleh: Uncredited

Menunjuk sirkuit di Timur Tengah jadi tuan rumah merupakan tahap awal untuk meningkatkan animo terhadap balapan mobil. Target jangka panjang adalah menghadirkan wakil dari negara-negara kawasan tersebut, dalam balapan di berbagai jenjang.

“Federasi bekerja keras memastikan bahwa ada program yang dimulai dari karting, dan beranjak ke F4, F3 dan F2. Pendekatan itu harus mereka ambil dan kami sedang dalam pembicaraan karena pembalap adalah aset dalam olahraga ini,” katanya.

“Kami menantikan untuk melihat apa yang terjadi dengan organisasi ini. Bahrain adalah yang pertama dan itu punya arti istimewa. Timur Tengah punya peran penting untuk F1 dan impian saya adalah melihat, semoga, pembalap dari wilayah ini dapat bergabung di F1.”

dibagikan
komentar
Max Verstappen: Tak Ada Ruang untuk Kesalahan
Artikel sebelumnya

Max Verstappen: Tak Ada Ruang untuk Kesalahan

Artikel berikutnya

Damon Hill Khawatirkan Tingkat Keselamatan Sirkuit Jeddah

Damon Hill Khawatirkan Tingkat Keselamatan Sirkuit Jeddah
Muat komentar