Formula 1
R
GP Spanyol
06 Mei
Event berikutnya
60 hari
Selengkapnya:

Grosjean Nikmati Lonjakan Popularitas setelah Kecelakaan

Romain Grosjean melihat berkah positif dari kecelakaan yang menimpanya di GP Bahrain, 29 November 2020. Popularitas mantan pembalap Haas F1 itu menjulang.

Grosjean Nikmati Lonjakan Popularitas setelah Kecelakaan

Terjun ke Formula 1 sejak 2009, tak banyak yang mengenal pria berkebangsaan Prancis tersebut. Padahal, ia pernah memperkuat tiga tim, yakni Renault, Lotus dan Haas. Tampil 179 kali, Grosjean hanya naik podium 10 kali.

Meski beberapa kali mencatatkan waktu lap tercepat, tapi inkonsistensi menjadikan Grosjean pembalap medioker. Berdiri di peringkat ketujuh klasemen adalah pencapaian terbaik dalam kariernya di F1.

Pujian adalah hal langka di matanya. Ia lebih sering dicela karena insiden yang melibatkannya atau komentarnya yang tegas.

Namun, semua berubah ketika ia terlibat kecelakaan di Sirkuit Internasional Bahrain. Mobilnya menabrak pembatas dan terbakar. Grosjean mesti dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar di kedua punggung tangan.

Peristiwa itu menjadikannya headline di media Prancis maupun mancanegara. Perkembangan pemulihannya pun terus disorot. Tak cuma itu, ia menerima banyak permintaan wawancara.

Akun media sosialnya pun banjir permintaan pertemanan serta pengikut. Tren tersebut pun dinikmati oleh Grosjean.

“Kecelakaan telah mengubah hidup saya sekarang karena semua orang jadi kenal saya. Saya bahkan tak bisa pergi ke pasar swalayan untuk belanja. Saya biasanya punya 900 ribu subscriber dan meningkat 1,4 juta beberapa hari setelah insiden,” ujarnya kepada L’Equipe.

“Meski mereka yang membenci saya, jadi lebih tenang sedikit. Mereka berhenti bersikap negatif terhadap saya.

“Sekarang mereka memperlakukan saya seperti seseorang yang baru keluar dari api, tapi yang paling penting adalah mereka memperlakukan saya seperti pembalap yang tidak melewatkan apa pun. Setelah insiden, mereka merefleksikan determinasi ke dalam karier saya.”

Baca Juga:

Grosjean lantas mengenang situasi yang dialaminya saat insiden. Ia merasa beruntung nasibnya tidak berakhir tragis seperti para pendahulu yang tewas akibat kecelakaan mengerikan di lintasan.

“Di olahraga motor, mungkin tak ada balapan aman kecuali Formula E. Lagipula, Anda membalap 300 km/jam di trek. Sungguh disayangkan, ini adalah momen sedih bagi Prancis. Pertama, Jules Bianchi meninggal, kemudian Antoine Hubert…Saya harap periode tragedi berakhir. Saya juga bisa saja meninggal, tapi saya selamat,” ia menjelaskan.

“Pada insiden di Bahrain, di depan saya ada tiga mobil dan saya melihat gap di kanan. Saya mencoba mengambil keuntungan, tapi Daniil Kvyat di sana. Saya seharusnya tidak melakukan itu. Di sisi lain, kami tidak menganggap itu kesalahan karena saya tidak tahu dia di sana. Dia terus berada di titik buta saya. Saya mendekati lawan, kecepatan saya tinggi dan itu tampak logis. Tapi saya lupa kalau mesin Honda lebih bertenaga daripada Ferrari. Ketika saya mencoba pergi ke tempat kosong, itu tersenggol.

“Saya ingat Niki Lauda. Dia mengalami luka parah di sekujur tubuh. Tapi 37 hari kemudian ada di belakang kemudi Formula 1 lagi dan memenangi titel lain di kejuaraan pada 1984.”

Pria 39 tahun tersebut mengaku kenekatannya mengambil risiko di lintasan. Namun, ia tak pernah punya mobil kencang sehingga tidak mencelakakan pembalap lain.

“Ya, saya melakukan hal-hal bodoh dan mengambil risiko. Tapi saya tidak pernah punya mobil cepat seperti Mercedes. Saya tidak harus mengemudi secara agresif. Saya senang dengan kehangatan, tidak seperti ini sebelumnya,” ucapnya.

“Orang-orang mulai menyadari apa yang kami lakukan untuk hasrat kami. Ketika bertarung demi peringkat ke-19, saya hampir mengorbankan hidup untuk memenangi tiga tempat. Kritik kepada saya tidak menyadari bahwa kami menempatkan hidup dalam bahaya. Orang-orang mulai kehilangan respek kepada kami.”

Romain Grosjean, Haas F1 kembali ke garasi setelah kecelakaan

Romain Grosjean, Haas F1 kembali ke garasi setelah kecelakaan

Foto oleh: Haas F1 Team

Mencari Proyek Baru

Ketika berhasil lolos dari maut, Grosjean menganggap terlahir kembali. Dia ingin melihat-lihat proyek baru yang menarik bagi masa depannya.

Mengikuti balap IndyCar tampaknya bisa jadi opsi untuk mengeluarkan hasrat melaju kencang di lintasan.

“Saya ingin melanjutkan kerier balap saya dan sekarang sedang mendiskusikan detail kontrak. Dengan istri, saya tidak pernah membahas masa depan di balapan. Karena Marion tahu gairah saya terhadap balapan dan apa yang terjadi kalau saya tidak melakukannya!” katanya.

“Dengan anak-anak, situasinya lebih rumit. Sangat sulit bagi mereka mengerti bahwa olahraga motor adalah bagian dari diri saya. Saya menjadi Grosjean, terima kasih kepada balapan. Anak sulung saya, tujuh tahun, menyarankan agar melakukan hal lain, contoh bermain tenis karena kami bertetangga dan sering bercakap dengan Gael Monfils.

“Atau dia ingin saya menjadi seorang seniman. Saya jelaskan padanya bahwa saya tak bisa melukis dan terlalu tua untuk mencapai level Gael.”

 

 

dibagikan
komentar
Tes Bersama Ferrari, Mick Schumacher Siap Tantang Rival-rivalnya

Artikel sebelumnya

Tes Bersama Ferrari, Mick Schumacher Siap Tantang Rival-rivalnya

Artikel berikutnya

Berger: Hamilton Berkelas, tapi Bukan yang Terbaik di F1

Berger: Hamilton Berkelas, tapi Bukan yang Terbaik di F1
Muat komentar