Analisis: Vinales tepat memutuskan pindah ke Yamaha

Maverick Vinales jelas membuat pilihan tepat untuk pindah ke tim lain pada 2017, ketimbang bertahan dengan Suzuki.

Pembalap Spanyol itu, mengalami masalah elektris yang membuatnya gagal bertarung dalam perebutan posisi terdepan, meyakini Suzuki masih tertinggal di belakang pabrikan Jepang lainnya.

Vinales tampil impresif dalam kualifikasi terbaiknya, Sabtu (21/5). Tapi pada hari berikutnya, ketika dia berpindah ke gigi ketiga selepas start, mesin GSX-RR tiba-tiba kehilangan tenaga.

Seperti yang ia jelaskan kemudian, pit lane speed limiter memberi peringatan, dan pada 500 meter, semua pilihan untuk naik podium hilang begitu saja. Padahal dua pekan lalu, Vinales berhasil naik podium di Le Mans.

Ia ada di posisi ke-12 pada tikungan pertama dan, sedikit demi sedikit, menjadi agresif, Vinales mulai menyalip para rival hingga mencapai posisi keenam (Lap 9). Terlepas dari itu, ia melewati garis finis lebih lambat 8,6 detik dari sang pemenang (Jorge Lorenzo), margin terkecilnya dengan posisi pertama sejauh ini pada 2016.

Vinales telah menghabiskan beberapa bulan terakhir untuk mempertimbangkan apa yang harus dilakukan tentang masa depannya: apakah bertahan dengan Suzuki, atau pindah ke Yamaha sebagai pengganti Lorenzo.

Godaan untuk memiliki motor terbaik di grid telah memenangi segalanya, dan Yamaha akhirnya mengumumkan kedatangannya sepekan lalu.

Anda dapat berpikir bahwa dua kegagalan mesin Yamaha pada Minggu (22/5) lalu akan mendatangkan beberapa keraguan untuk Vinales, tapi apa yang terjadi di Mugello justru membuat ia lebih yakin telah membuat keputusan tepat. Vinales merasa bahwa kegagalan mesin YZR-M1 adalah hasil dari keadaan dan bukan masalah dengan mesinnya.

Grand Prix Italia jelas menggambarkan momen yang akan dilalui Suzuki: memiliki motor dengan potensi besar, tapi ketika datang pada waktu penting, tidak sebagus seperti Honda atau Yamaha.

Performa GSX-RR sepanjang tes pramusim memang luar biasa, terutama di tangan Vinales, bahkan banyak orang melihat ia ancaman untuk finis di podium. Namun, Suzuki masih kurang konsistensi dan baru satu kali berhasil finis di podium, yakni di Le Mans.

“Kami harus bekerja keras dan mencoba menghindari kesalahan,” ujar Vinales di Mugello. “Pada 15 hari ke depan kami akan datang ke Catalunya dan motor bekerja baik di sana. Tapi kami tidak boleh gagal lagi, tidak saat start atau lainnya.”

“Sudah jelas bahwa, pada Minggu [22/5], Yamaha dan Honda satu tingkat di depan tim lainnya. Suzuki tidak buruk dalam balapan, tapi bukan pada titik untuk menang,” imbuh salah satu anggota tim.

“Ducati sedikit di depan, tapi juga kesulitan dalam balapan. Lihat saja bagaimana Petrucci, Redding atau bahkan Pirro di kualifikasi, dan lalu lihat apa yang terjadi dalam balapan.”

Dengan Vinales resmi pindah ke Yamaha pada 2017, Suzuki tidak melambatkan keinginannya untuk meningkatkan konsistensi motor. Pabrikan Jepang itu terbang ke Valencia untuk menjalani tes dua hari. Di sana, Suzuki bekerja pada dua sasis berbeda dan dengan elektronik. Tim menargetkan untuk meningkatkan paket traksi.

“GSX-RR bagus dalam dalam beberapa spesifik area, seperti mudah dikendarai dan handlingpada tikungan cepat, tapi masih kurang di area lainnya,” ungkap Vinales.

Dan itu adalah penjelasan sempurna mengapa Vinales memutuskan untuk bergabung dengan Yamaha, yang memberikan dia motor untuk bertarung selepas start. 

Tulis komentar
Tampilkan komentar
Tentang artikel ini
Kejuaraan MotoGP
Event GP Italia
Trek Mugello Circuit
Pembalap Maverick Viñales
Tim Team Suzuki MotoGP , Yamaha Factory Racing
Tipe artikel Analisis