12 Mobil Formula 1 Terbaik

Sejak digelar kali pertama pada 1950, Formula 1 mampu melahirkan mobil-mobil balap fantastis. Berikut 12 di antaranya versi Motorsport.com Indonesia.

12 Mobil Formula 1 Terbaik

Persaingan sengit antara Max Verstappen dengan Lewis Hamilton pada Kejuaraan Dunia Formula 1 2021, tidak mungkin terjadi tanpa mobil balap sarat teknologi canggih.

Verstappen yang akhirnya menjadi juara dunia setelah memenangi balapan terakhir di Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi, Minggu (12/12/2021) malam, mengandalkan Red Bull Racing RB16B dengan power unit (PU) dari Honda.

Adapun juara dunia tujuh kali (2008, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020), Hamilton, memakai Mercedes F1 W12.

Baca Juga:

Red Bull RB16B sepanjang musim 2021 memiliki kecepatan bagus untuk one lap. Namun, bukan berarti kecepatan long run mobil Verstappen ini tidak bagus.

Di sisi lain, Mercedes W12 memiliki kecepatan sangat stabil untuk lomba. Tetapi, PU milik Hamilton dan Valtteri Bottas kali ini sedikit lebih lemah dari sisi daya tahan dibanding Honda.

Baik Red Bull RB16B maupun Mercedes F1 W12 hanyalah sedikit dari banyak mobil Formula 1 berperforma luar biasa yang tidak hanya mampu mendominasi musim namun juga memastikan gelar juara dunia pembalap dan konstruktor.

Motorsport.com Indonesia mencoba memilih 12 mobil F1 terhebat yang pernah diciptakan oleh para tim-tim.

McLaren MP4/2 (1984-1986)

Alain Prost, McLaren MP4/2, saat turun di GP Jerman 1984.

Alain Prost, McLaren MP4/2, saat turun di GP Jerman 1984.

Foto oleh: Sutton Images

MP4/2 hasil karya McLaren ini menjadi satu-satunya mobil yang mampu dipakai lebih dari satu musim. Sasis ini selalu berhasil memberikan gelar juara dunia pembalap untuk McLaren setiap tahun antara 1984 sampai 1986.

Niki Lauda memenangi gelar pada 1984, sementara Alain “The Professor” Prost merebutnya pada 1985 dan 1986.

Mobil ini salah satu yang memakai rem karbon, yang memberikan keuntungan pada balapan-balapan jarak jauh. McLaren MP4/2 juga memiliki tangki lebih besar daripada para rivalnya. Inovasi teknologi ini membuat McLaren mendominsai F1 1984.

Mereka membuat rekor kemenangan terbanyak dalam semusim pada 1984, 12, yang membuat duel Lauda dan Prost berakhir dengan kemenangan untuk Lauda dengan hanya 0,5 poin yang menjadi gap terkecil dalamm sejarah F1.

Sasis McLaren MP4/2 ini masih menjadi yang tersukses di F1 dengan memenangi total 22 Grand Prix dan mencetak 327,5 poin dalam tiga musim kejuaraan dunia.

McLaren MP4/4 (1988)

Ayrton Senna, McLaren MP4/4, ketika berlomba di GP Inggris 1988.

Ayrton Senna, McLaren MP4/4, ketika berlomba di GP Inggris 1988.

Foto oleh: Sutton Images

Setelah dominasi Prost dan Lauda pada pertengahan 1980-an, Ayrton Senna bergabung ke McLaren pada 1988, dan langsung merebut gelar juara dunia pembalap pada tahun pertamanya bersama tim asal Woking, Surrey, Inggris, tersebut.

McLaren MP4/4 berhasil memenangi 15 dari 16 balapan pada F1 1988 tersebut dengan Senna menguasai delapan berbanding Prost tujuh.

McLaren saat itu mengoleksi 199 poin untuk menjadi juara dunia konstruktor. Jumlah itu tiga kali lebih besar dibanding tim peringkat kedua. Hingga saat ini, McLaren MP4/4 masih menjadi mobil paling dominan dalam satu musim yang pernah terjadi di Formula 1.

McLaren MP4/6 (1991)

Ayrton Senna, McLaren MP4/6, di GP San Marino 1991.

Ayrton Senna, McLaren MP4/6, di GP San Marino 1991.

Foto oleh: Sutton Images

Pada 1991, Senna berhasil merebut gelar beruntun kedua kali atau ketiga secara keseluruhan. Saat itu, McLaren MP4/6 berhasil merebut kemenangan di empat balapan awal, yakni Amerika Serikat, Brasil, San Marino, dan Monako, sebelum Williams memberikan perlawanan sengit pada tengah musim.

Senna memastikan gelar di GP Jepang, satu lomba sebelum balapan terakhir. McLaren MP4/6 pun menjadi mobil F1 terakhir yang mampu memenangi gelar juara dunia dengan transmisi manual dan mesin V12.

Williams FW14B (1992)

Nigel Mansell, Williams FW14B ketika turun di GP Meksiko 1992.

Nigel Mansell, Williams FW14B ketika turun di GP Meksiko 1992.

Foto oleh: Sutton Images

Tim asal Grove, Inggris, tersebut membuat sasis luar biasa ini untuk F1 musim 1992, FW14B.  Adrian Newey (kini di Red Bull) menjadi otak di balik desain mobil yang di grid F1 saat itu dinilai paling canggih dari sisi teknis.

Williams FW14B saat itu dilengkapi gearbox dan peranti aerodinamika rumit, transmisi semiotomatis 6-percepatan, kontrol traksi, dan suspensi aktif (active suspension).

Suspensi aktif ini cocok dengan gaya balap agresif Nigel Mansell. Terbukti, pembalap Inggris itu mampu memenangi sembilan balapan F1 1992 dengan Williams FW14B.

Sementara, Riccardo Patrese yang lebih menyukai suspensi pasif hanya sekali menang, tepatnya di GP Jepang. Torehan keduanya membuat Williams merebut gelar kostruktor pada 1992.

Total, Williams FW14 dan FW14B berhasil menang 17 kali, 38 podium, 21 pole, dan 19 fastest lap dari 32 balapan.

Benetton B195 (1995)

Michael Schumacher, Benetton B195 Renault, melesat di Sirkuit Silverstone pada lomba GP Inggris 1995.

Michael Schumacher, Benetton B195 Renault, melesat di Sirkuit Silverstone pada lomba GP Inggris 1995.

Foto oleh: Motorsport Images

Michael Schumacher memenangi gelar kedua, dari total tujuh yang akhirnya dikoleksinya, di atas Benetton B195. Sasis ini berhasil memenangi 11 dari total 17 balapan yang digelar pada musim 1995, dengan meredam pesaing utamanya, Damon Hill (Williams).

Benetton B195 merupakan salah satu model mobil F1 di awal era modern. B195 hanya dipakai semusim. Tetapi, Schumacher dan rekan setimnya, Johnny Herbert, berhasil mendominasi musim dengan mobil tersebut.

Ferrari F2001 (2001)

Michael Schumacher, Ferrari F2001, beraksi di GP Malaysia 2001.

Michael Schumacher, Ferrari F2001, beraksi di GP Malaysia 2001.

Foto oleh: Ercole Colombo

Schumacher merebut gelar juara dunia keempatnya dengan Ferrari F2001, sekaligus menandai dominasi Tim Kuda Jingkrak di F1 pada awal era 2000-an.

Ia berhasil memenangi sembilan dari 20 balapan F1 2001, yang tidak mampu ditandingi dua tim rival terberat mereka saat itu, McLaren dan Williams.

Ferrari F2001 didesain seiring dengan sejumah perubahan regulasi teknis, semisal kontrol traksi dan launch control yang saat itu mulai dipakai. Ferrari F2001 sempat tiga kali dipakai Schumacher pada tiga balapan awal musim 2002 dan berhasil sekali menang dan dua lainnya P3.

Ferrari F2002 (2002)

Michael Schumacher, Ferrari F2002, di GP Belgia 2002.

Michael Schumacher, Ferrari F2002, di GP Belgia 2002.

Foto oleh: Motorsport Images

Setelah dominasi F2001, Ferrari F2002 berhasil melanjutkan keperkasaan pendahulunya itu, juga masih lewat Schumacher. Pembalap asal Jerman itu berhasil memastikan gelar lebih cepat dibanding pembalap lain dalam sejarah F1, masih menyisakan enam balapan.

Dari 15 balapan F1 2002, Ferrari F2002 berhasil memenangi 14 sebelum kemudian menambah satu lagi dari empat balapan awal musim 2003 dengan nama F2002B.

Brawn BGP 001 (2009)

Jenson Button, Brawn BGP 001 Mercedes, melesat di GP Bahrain 2009.

Jenson Button, Brawn BGP 001 Mercedes, melesat di GP Bahrain 2009.

Foto oleh: Rainer W. Schlegelmilch / Motorsport Images

Brawn BGP 001 bisa dibilang “mobil ajaib” dalam sejarah F1. Inilah satu-satunya mobil yang pernah dibuat Brawn GP Formula 1 Team yang setahun kemudian berganti nama menjadi Mercedes F1 Team.

Mengambil alih tim pabrikan Honda setelah pabrikan asal Jepang itu meninggalkan F1 pada akhir musim 2008, Ross Brawn menghadapi sederet problem serius demi mencocokan sasis dengan power unit dari Mercedes.

Salah satu caranya, mereka memotong bagian belakang mobil hingga enam inci (15,24 cm). Tetapi, inovasi paling kontroversial tentu desain double diffuser yang membuat sasis Brawn BGP 001 memiliki gaya tekan (downforce) lebih besar dibanding para rivalnya.

Meskipun mendapat protes keras dari para rival, Jenson Button berhasil memenangi enam dari tujuh balapan awal F1 2009. Ia dan Rubens Barrichello berhasil finis 1-2 pada debut Brawn BGP 001 di GP Australia. Itulah kali pertama sejak 1954, sebuah mobil milik tim baru mampu finis 1-2 pada balapan pertama.

Pada akhir musim 2009, Button dinobatkan sebagai juara dunia dan Barrichello P3. Brawn BGP 001 berhasil memenangi delapan balapan (Button enam, Barrichello dua) dari total 17 lomba. Brawn GP juga menguasai gelar juara dunia konstruktor F1 2009.

Red Bull Racing RB7 (2011)

Sebastian Vettel, Red Bull Racing RB7, saat melibas Sirkuit Jalan Raya Marina Bay di GP Singapura 2011.

Sebastian Vettel, Red Bull Racing RB7, saat melibas Sirkuit Jalan Raya Marina Bay di GP Singapura 2011.

Foto oleh: Motorsport Images

Sebastian Vettel merebut gelar keduanya secara beruntun dengan Red Bull RB7, untuk menjadi pembalap termuda yang berhasil merebut dua trofi juara dunia F1.

Dari total 19 balapan F1 2011, Red Bull RB7 berhasil 12 kali menang lewat Vettel (11) dan Mark Webber (1). Yang mencengangkan, Red Bull juga hanya sekali tidak mampu merebut pole position sepanjang musim tersebut. Total, dari 19 balapan, Red Bull mampu 27 kali finis podium.

F1 2011 juga untuk kali pertama Drag Reduction System (DRS) – sayap belakang dengan flap untuk menambah kecepatan – diperkenalkan.

Red Bull mengakhiri musim 2011 dengan merebut gelar konstruktor usai mengemas 650 poin, atau 150 lebih banyak daripada McLaren. Vettel juga membuat rekor gap hingga 122 poin pada klasemen akhir pembalap.

Red Bull Racing RB9 (2013)

Sebastian Vettel, Red Bull Racing RB9, melibas tikungan Sirkuit Monza di GP Italia 2013.

Sebastian Vettel, Red Bull Racing RB9, melibas tikungan Sirkuit Monza di GP Italia 2013.

Foto oleh: Sutton Images

Dua tahun kemudian, Sebastian Vettel memenangi gelar keempatnya secara beruntun, kali ini lewat Red Bull RB9. Jika pada 2011 Red Bull mampu mendominasi, pada 2013 mereka menghadapi tantangan berbeda.

Pada pertengahan musim, Vettel mendapatkan perlawanan sengit dari Fernando Alonso (Ferrari). Tetapi, Vettel berhasil memenangi sembilan balapan akhir, yang kemudian menjadi rekor di F1.

Rekor lain yang dipecahkan pembalap yang kini membela Aston Martin itu adalah gap poin dengan lawannya di klasemen akhir 2011. Pada 2013, Vettel unggul hingga 155 poin atas Alonso, sedangkan Red Bull memenangi gelar konstruktor dengan gap sampai 236 poin atas Mercedes.

Mercedes F1 W05 Hybrid (2014)

Nico Rosberg, Mercedes F1 W05 Hybrid, berada di depan Lewis Hamilton, Mercedes F1 W05, pada lomba GP Monako 2014.

Nico Rosberg, Mercedes F1 W05 Hybrid, berada di depan Lewis Hamilton, Mercedes F1 W05, pada lomba GP Monako 2014.

Foto oleh: Steve Etherington / Motorsport Images

Tim pabrikan Jerman itu langsung mendominasi F1 2014, saat kali pertama mesin turbo hybrid resmi digunakan. Di tangan pembalap sekelas Lewis Hamilton dan Nico Rosberg, mobil ini mampu memenangi 16 balapan, 31 podium, 18 pole, dan 12 fastest lap dalam 19 start.

Jika tidak mengalami masalah mekanis dan tabrakan kedua pembalap di Spa-Francorchamps, W05 Hybrid diyakini mampu mencetak lebih dari 16 balapan. Saat itu, Mercedes merebut gelar konstruktor dan Hamilton mengamankan trofi pembalap untuk kali kedua.

Mercedes F1 W07 Hybrid (2016)

Nico Rosberg, Mercedes-Benz F1 W07 Hybrid dan Lewis Hamilton, Mercedes-Benz F1 W07 Hybrid bersenggolan di lap terakhir GP Austria 2016.

Nico Rosberg, Mercedes-Benz F1 W07 Hybrid dan Lewis Hamilton, Mercedes-Benz F1 W07 Hybrid bersenggolan di lap terakhir GP Austria 2016.

Foto oleh: Sutton Images

Inilah mobil paling dominan di F1 dan hanya kalah dari McLaren MP4/4 yang sudah disebutkan di atas. W07 merupakan mobil F1 pertama Mercedes yang mampu mengintegrasikan power unit hybrid sebagai tenaga mobil.

Kehebatan mobil ini terlihat dari sengitnya persaingan di antara kedua pembalap Mercedes saat itu, Nico Rosberg dan Lewis Hamilton. Rosberg merebut gelar setelah unggul hanya lima poin atas Hamilton di klasemen akhir.

Dominasi lainnya ditunjukan Mercedes dengan merebut gelar konstruktor dan unggul hingga 297 poin atas Red Bull di P2. Pada F1 2016 itu, Mercedes W07 Hybrid mampu memenangi 19 dari 21 balapan dan mampu 33 kali finis podium.

 

dibagikan
komentar
Klasemen Akhir Formula 1 2021: Mercedes Segel Titel Konstruktor
Artikel sebelumnya

Klasemen Akhir Formula 1 2021: Mercedes Segel Titel Konstruktor

Artikel berikutnya

Max Verstappen Akui Cukup Beruntung dan Terbantu Sergio Perez

Max Verstappen Akui Cukup Beruntung dan Terbantu Sergio Perez
Muat komentar