Mika Hakkinen: Advantage Lewis Hamilton

Juara dunia F1 dua kali Mika Hakkinen melihat Lewis Hamilton saat ini di atas angin untuk memenangi duel melawan Max Verstappen.

Mika Hakkinen: Advantage Lewis Hamilton

Seusai memenangi Formula 1 Grand Prix Meksiko – balapan pertama dari triple header – Max Verstappen (Red Bull Racing Honda) terlihat nyaman di puncak klasemen. Ia unggul hingga 19 poin atas Lewis Hamilton (Mercedes-AMG Petronas F1) di posisi kedua.

Namun, semua berbalik di GP Brasil dan GP Qatar. Hamilton – juara dunia tujuh kali (2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020) – mampu memenangi balapan di Interlagos dan Losail untuk memperkecil gap menjadi tinggal delapan poin.

Kendati masih berada di peringkat kedua, banyak yang menilai bila Hamilton kini berada di atas angin menjelang dua balapan tersisa, GP Arab Saudi (5 Desember) dan GP Abu Dhabi (12 Desember).

Pergantian Internal Combustion Engine (ICE) di GP Brasil memang berpengaruh signifikan terhadap performa Mercedes F1 W12 geberan Hamilton. Tetapi ia mendapatkan penalti lima grid karena hal tersebut.

Belum lagi protes Red Bull Racing terkait Drag Reduction System (DRS) sayap belakang W12 milik Hamilton yang membuka terlalu lebar (dari batas 85 mm) saat diaktifkan. Alhasil, Hamilton start paling buncit di Sprint Race GP Brasil.

Berhasil finis P5 di Sprint Race, Hamilton seharusnya start dari grid kelima pada lomba utama. Tetapi karena dipenalti lima grid, ia pun harus start dari grid ke-10 saat start balapan utama.

Selain performa mobil dan strategi, tentu hanya dengan skill dan kematangan mental, Hamilton mampu menang di GP Brasil. Performa impresif di Interlagos tersebut pun berlanjut di GP Qatar. Hamilton kembali menang telak atas Verstappen.

Mika Hakkinen

Mika Hakkinen

Foto oleh: Mark Sutton / Motorsport Images

Melihat pengalaman Hamilton dan kondisi mobilnya saat ini, juara dunia F1 1998 dan 1999 Mika Hakkinen pun menyebut posisi pembalap asal Inggris tersebut saat ini lebih bagus dibanding Verstappen.

Mantan pembalap asal Finlandia itu pun memakai istilah dalam olahraga tenis untuk menggambarkan keunggulan Hamilton saat ini atas pembalap Belanda yang baru berusia 24 tahun itu.

“Jika Formula 1 diibaratkan permainan tenis, bisa saya bilang situasi saat ini adalah advantage Hamilton setelah dominasinya di Brasil dan Qatar,” kata Hakkinen dalam kolomnya di Unibet.

“Meskipun Max Verstappen masih memimpin klasemen dengan delapan poin, Mercedes merespons dengan menurunkan mobil yang mampu membantunya bertarung sangat ketat untuk mempertahankan gelarnya.”

Di Qatar, Hamilton benar-benar mengontrol penuh akhir pekan dengan tampil sangat kuat di kualifikasi. Di lintasan lurus Losail, kecepatan Mercedes F1 W12 geberan Hamilton memang tidak sebaik di Brasil.

Baca Juga:

“Tetapi, tikungan-tikungan cepat di Losail membuat mobil Hamilton jauh lebih baik daripada rivalnya di Red Bull Racing,” kata Hakkinen, mantan pembalap Lotus dan McLaren di F1 antara 1991 sampai 2001.

Pemenang 20 Grand Prix, 51 podium, dan 26 pole position dalam 161 start itu juga tertarik melihat kiprah Pierre Gasly (AlphaTauri) yang berusaha membantu Verstappen di Qatar.

“Menarik melihat Pierre Gasly membantu Max merebut posisi yang lebih baik (setelah start dari posisi ketujuh karena penalti grid),” tutur pria 53 tahun itu.

“Kadang banyak yang lupa bila Red Bull memiliki dua tim di F1 dan itu bisa dimanfaatkan saat persaingan ketat seperti ini.

“Jadi, tidak mengejutkan bila Red Bull Racing dan AlphaTauri bekerja sama saat diperlukan. Vestappen memang sudah berusaha sangat keras tetapi Hamilton sudah 4 detik di depan saat pembalap Red Bull itu naik ke posisi kedua,” tutur Hakkinen.

 

dibagikan
komentar
Mercedes Tak Bisa Jelaskan soal Gap Hamilton-Verstappen di Qatar
Artikel sebelumnya

Mercedes Tak Bisa Jelaskan soal Gap Hamilton-Verstappen di Qatar

Artikel berikutnya

McLaren Sulit Tandingi Ferrari dalam Perburuan P3 Konstruktor

McLaren Sulit Tandingi Ferrari dalam Perburuan P3 Konstruktor
Muat komentar