Tekanan Lewis Hamilton Akan Membuat George Russell Matang

George Russell yang akan menjadi rekan setim Lewis Hamilton mulai Formula 1 2022 bakal matang seiring tekanan dari juara dunia tujuh kali tersebut.

Tekanan Lewis Hamilton Akan Membuat George Russell Matang

Mercedes-AMG Petronas F1 akhirnya menarik Russell, pembalap muda binaan mereka yang sejak debut F1 pada 2019, membela Williams Racing. Pembalap asal Inggris itu ditandemkan dengan pembalap veteran sarat pengalaman, Lewis Hamilton.

Russell menggantikan Valtteri Bottas yang akan pindah ke Alfa Romeo tahun depan. Selama lima musim membela Mercedes, Bottas menjadi rekan setim “ideal” bagi Hamilton.

Pembalap Finlandia itu mampu memberikan kestabilan di tim sehingga mampu tetap memiliki empat gelar konstruktor (2017-2020) sejauh ini sekaligus menjaga hegemoni Hamilton dengan keberhasilan merebut empat gelar (2017-2020).    

Kedatangan Russell diyakini banyak pihak bakal memantik suasana panas di Mercedes. Pasalnya, sebagai pembalap muda dengan motivasi tinggi, Russell akan berhadapan dengan Hamilton, pemilik tujuh gelar F1 (2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020).

Setelah resmi menggaet Russell, bos Mercedes Toto Wolff berjanji untuk memberikan perlakuan yang sama kepada kedua pembalap. Pertanyaannya, apakah Hamilton mau menerimanya? Atau, apakah Russell bersedia berperan seperti Bottas?

Mantan pembalap Formula 1 David Coulthard memiliki analisis tersendiri soal bergabungnya Russell ke Mercedes. Menurutnya, persaingan antara Russell dengan Hamilton di Mercedes akan sangat sulit dihindari.

“Ini akan menjadi awal duel Russell melawan pembalap lintas-generasi seperti Hamilton. Namun, inilah yang akan membuat Russell menjadi juara dunia masa depan. Selama ini ia belum pernah ditekan rekan setim. Kondisinya akan berbeda bersama Hamilton,” ucapnya.

Baca Juga:

Melakukan debut F1 pada 1994 bersama Williams, David Coulthard pernah merasakan persaingan sengit dengan rekan setim di McLaren melawan Mika Hakkinen antara 1996 sampai 2001.

Bersama McLaren yang diperkuatnya sejak 1996, Coulthard tiga kali menempati peringkat ketiga (1997, 1998, 2001) dan sekali runner-up (2001). Saat itu, ia menyaksikan Hakkinen merebut gelar juara dunia hingga dua kali (1998, 1999).

Namun, berbeda dengan Russell, saat bergabung ke McLaren pada 1997, Coulthard sudah terbilang cukup matang karena mampu finis P3 di klasemen akhir F1 1993 bersama Williams.

“Pada awalnya, Russell hanya akan menjadi pembalap muda yang penuh energi. Ia akan selalu segar di setiap balapan,” tutur pemenang 13 Grand Prix, 62 podium, dan 12 pole dalam 246 start F1 antara 1994 sampai 2008 tersebut.    

“Lalu, ia akan letih menghadapi ‘kekejaman’ Hamilton. Tetapi dari kondisi seperti itulah Russell akan tumbuh dan berkembang.”

Sebelumnya, Wolff sudah menegaskan bila Russell tidak akan mengalami perseteruan sengit nan panas di Mercedes yang pernah terjadi antara Hamilton dan Nico Rosberg. Karena itulah Wolff ingin membantu Russell beradaptasi dengan situasi di Mercedes.

“Yang pasti, akan ada banyak tekanan untuknya. Ia akan memiliki rekan tim pemilik segudang rekor di F1. Jadi, penting bagi Russell untuk menyesuaikan diri dengan situasi ini nanti,” tutur Wolff.

dibagikan
komentar
Carlos Sainz Ingin Tiru Gaya Balap Charles Leclerc di Ferrari SF21

Artikel sebelumnya

Carlos Sainz Ingin Tiru Gaya Balap Charles Leclerc di Ferrari SF21

Artikel berikutnya

Alexander Albon Bisa ke Williams berkat Bantuan Media

Alexander Albon Bisa ke Williams berkat Bantuan Media
Muat komentar