Herlings: Saya Terlalu Berani Ambil Risiko

Jeffrey Herlings harus mengubur impian merebut gelar juara dunia MXGP 2020 setelah mengalami cedera parah pada lomba di Faenza, Italia, September tahun lalu.

Herlings: Saya Terlalu Berani Ambil Risiko

Jeffrey Herlings, kroser Red Bull KTM Factory Racing, saat ini menjadi salah satu yang terbaik di dunia. “Semua tahu betapa kuatnya Herlings. Musuh terbesar hanya dirinya sendiri,” kata Pit Beirer, Direkur Balap KTM, tentang kroser asal Belanda, 26 tahun, itu.

Herlings adalah juara dunia motocross empat kali: sekali di kelas tertinggi, MXGP (2018), dan tiga kali di kategori MX2 (2012, 2013, 2016).

Sejak debut di kelas MX2 GP Bulgaria 2010, Jeffrey Herlings sudah berhasil memenangi 90 balapan dengan rincian 29 di MXGP dan 61 MX2.

Saat menjuarai MXGP pada 2018, Herlings mampu memenangi 33 dari 40 races. Kala itu, Herlings hanya tidak mampu naik podium di Ottobiano, Italia, lomba ke-11 dari 20 MXGP musim tersebut.

Pada MXGP 2019, kiprah Herlings diwarnai sejumlah cedera di awal dan akhir musim hingga hanya berada di peringat ke-19 klasemen akhir. Puncaknya musim lalu.

Baca Juga:

Jeffrey Herlings harus mundur di Faenza, Italia, saat memimpin klasemen. Pada lomba seri ketujuh MXGP 2020 (dari total 18), 9 September, itu ia mengalami cedera tulang belakang serius sehingga tidak mampu melanjutkan musim.

Sebagai catatan, sebelum lomba MXGP of Citta di Faenza, Herlings sudah memenangi lima dari 12 races. Herlings juga menjadi yang terbaik di empat dari enam lomba yang sudah dilangsungkan saat itu. Ujungnya, kroser Tim HRC, Tim Gajser, keluar sebagai juara.     

“Dalam beberapa tahun terakhir saya kerap mengalami cedera karena terlalu berani mengambil risiko saat mengendarai motor. Sayangnya, saya mengalami cedera lagi pada 2020,” tutur Herlings.

Jeffrey Herlings menjelaskan, musim lalu sebetulnya ia tidak terlalu banyak membuat kesalahan sampai terjatuh di Faenza. Herlings juga mampu mengatur lomba sangat baik dan mampu konsisten.

Keberhasilan memenangi empat dari enam grand prix menjadi bukti. “Jika tidak menang, saya senang jika mampu finis kedua, ketiga, keempat atau kelima. Sayang itu tidak membantu karena saya mengalami cedera,” kata Herlings.

Jeffrey Herlings saat turun di MXGP Cina 2019.

Jeffrey Herlings saat turun di MXGP Cina 2019.

Herlings juga mengakui jika dirinya merasa nyaman dengan strategi, sebelum cedera. Ia tidak merasa tertekan karena unggul cukup jauh atas pesaing terdekatnya.

“Saya saat itu memimpin hingga 60 poin dari Toni Cairoli (Red Bull KTM De Carli Factory Racing). Target saya saat itu harus finis podium di setiap balapan dan itu berhasil di lima dari enam grand prix dan menghindari risiko seminim mungkin,” ucap Herlings.

Yang mengecewakan, Herlings terjatuh di Faenza bukan saat lomba melainkan di lap ketiga sesi latihan bebas. Saat itu, ia tertinggal lima sampai 10 detik dari kroser terdepan.

Jeffrey Herlings menilai, cedera kaki yang dialaminya pada Januari 2019 menjadi cedera yang paling memberinya banyak masalah. Untuk keseharian tidak ada kendala namun untuk berlomba sebaliknya.

Herlings juga merasa sakit seusai berlatih beberapa kali sepekan. Saat itu ia berpkir tidak mungkin kembali ke performa seperti di MXGP 2018, saat mampu memenangi 17 dari 19 grand prix.

“Namun, setelah operasi, saya merasa jauh lebih baik. Saya tidak tahu apakah strategi di musim 2020 bisa berujung gelar. Menurut saya, jika tidak cedera, saya pasti sudah juara MXGP 2020,” ucap Jeffrey Herlings.

dibagikan
komentar
Gajser Jagokan Roczen di Kejuaraan Dunia Supercross

Artikel sebelumnya

Gajser Jagokan Roczen di Kejuaraan Dunia Supercross

Artikel berikutnya

Tim Gajser Intensif Berlatih di Trek Berpasir

Tim Gajser Intensif Berlatih di Trek Berpasir
Muat komentar