Menakar Untung-Rugi bila Honda Jadi Pabrikan Konsesi

Honda sangat mungkin mendapatkan status pabrikan konsesi di Kejuaraan Dunia MotoGP 2022 jika kondisi seperti ini tidak berubah.

Menakar Untung-Rugi bila Honda Jadi Pabrikan Konsesi

Keempat pembalap Honda yang turun di MotoGP, baik tim pabrikan Repsol Honda maupun skuad satelit LCR, masih kesulitan mengendalikan RC213V terbaru.

Sampai balapan ketujuh MotoGP 2021, GP Catalunya, akhir pekan lalu, Takaaki Nakagami menjadi pembalap Honda dengan hasil finis terbaik. Ia finis P4 di GP Spanyol. Rekan setimnya, Alex Marquez, hanya mampu finis P6 di GP Prancis.

Sementara, dua pembalap skuad pabrikan, Marc Marquez dan Pol Espargaro, hingga kini belum mampu menembus enam besar. Hasil terbaik juara dunia MotoGP enam kali (2013, 2014, 2016, 2017, 2018, 2019) itu adalah P7 GP Portugal sedangkan Espargaro P8 di Qatar dan Prancis.

Hasil buruk ini membuat Honda saat ini hanya berada di peringkat kelima klasemen konstruktor (pabrikan) dan hanya unggul tujuh poin dari Aprilia sebagai juru kunci.

Pada musim 2021 ini, Aprilia menjadi satu-satunya pabrikan dengan status konsesi di MotoGP. Artinya, mereka masih bisa turun dengan sembilan unit mesin per musim, bebas melakukan pengembangan sepanjang musim, tes privat tanpa batas, dan kapasitas tangki motor 24 liter.

Takaaki Nakagami, Team LCR Honda

Takaaki Nakagami, Team LCR Honda

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Bandingkan dengan pabrikan non-konsesi yang hanya bisa turun dengan tujuh mesin semusim, tes sangat dibatasi, tidak bisa mengembangkan mesin seenaknya selama musim berlangsung, dan volume tangki motor yang cuma 22 liter.

Sistem konsesi kali pertama diterapkan di MotoGP pada 2016. Tujuannya agar pabrikan dengan “motor yang lambat” mendapat kesempatan untuk menjadi tim kompetitif dengan sederet dispensasi yang diberikan.

Sebuah pabrikan akan kehilangan hak/status konsesi jika mereka mampu merebut enam poin dalam semusim dengan rincian satu poin untuk finis podium ketiga, dua untuk P2, dan tiga untuk pemenang.       

Karena pandemi Covid-19 yang sangat mempengaruhi musim 2020, MotoGP memilih untuk menghentikan pabrikan mendapatkan konsesi, terlepas dari hasil sepanjang tahun. Meskipun, mereka saat itu masih bisa kehilangan konsesi seperti yang terjadi pada KTM.

Perubahan aturan ini menghentikan Honda “turun kasta” menjadi pabrikan konsesi untuk 2021 jika mengakhiri musim 2020 tanpa podium. Meskipun, Alex Marquez akhirnya mencetak podium kedua secara beruntun di Prancis dan Aragon.

Alex Marquez, Team LCR Honda

Alex Marquez, Team LCR Honda

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

Jika Honda mendapatkan konsesi pada MotoGP 2022, dampaknya akan signifikan pada grid. Dengan sumber daya, kemampuan, dan fasilitas yang dimiliki, status konsesi diyakini akan membuat Honda mampu membuat motor mereka kembali kompetitif sehingga Marc Marquez bisa kembali ke jalur persaingan gelar.

Lantas, apakah status konsesi akan menurunkan reputasi Honda di kelas premier (500cc/MotoGP) sebagai pabrikan dengan jumlah kemenangan (309, sampai GP Catalunya 2021) dan juara dunia konstruktor (25) terbanyak?

Jawabannya tentu tergantung bagaimana kebijakan dan strategi yang akan dilakukan pabrikan asal Jepang tersebut.

Status konsesi terbukti mampu mendongkrak performa sejumlah pabrikan. Hasil paling jelas bisa dilihat pada Suzuki dan Ducati.

Pada 2016, Suzuki menyandang status pabrikan konsesi. Saat itu, mereka mampu merebut satu kemenangan lewat Maverick Vinales dan sejumlah finis podium. Pada 2016 itu, mereka juga bebas melakukan tes dan mengembangkan mesin.

Baca Juga:

Setahun kemudian, 2017, Suzuki kehilangan konsesi. Itu berarti mereka “senasib” seperti Honda dan Yamaha, tes dibatasi dan mesin yang langsung disegel pada awal musim. Hasilnya bisa ditebak, Suzuki hancur lebur.

Hasil buruk tersebut membuat Suzuki kembali mendapatkan konsesi pada 2018 hingga tampil bagus dan kehilangan konsesi lagi pada 2019. Tetapi, saat tidak lagi memegang konsesi kali ini, Suzuki jauh lebih siap.

Pabrikan asal Hamamatsu, Jepang, tersebut mampu merebut dua kemenangan lewat Alex Rins dan satu podium. Puncak keberhasilan Suzuki pun terjadi tahun lalu, saat Joan Mir mampu juara dunia dan Suzuki menjadi tim terbaik.

Ducati memang belum pernah lagi menjadi juara dunia sejak Casey Stoner melakukannya pada 2007. Namun, skuad asal Bologna, Italia itu sudah memiliki rencana khusus menghadapi sistem konsesi pada akhir 2014.

Kini, dalam beberapa tahun terakhir, Ducati menjadi salah satu kekuatan menakutkan di MotoGP. Performa mereka sangat stabil. Andrea Dovizioso mampu menjadi runner up beruntun pada 2017, 2018, dan 2019.

Menjelang akhir MotoGP 2020 lalu, KTM dipastikan kehilangan konsesi menyusul performa impresif Brad Binder dan Miguel Oliveira yang masing-masing memenangi satu lomba serta Pol Espargaro yang rutin naik podium.

Peran pembalap penguji bagi pabrikan konsesi juga sangat penting. Maklum, pabrikan butuh masukan banyak dari mereka mengingat jumlah tes yang tidak dibatasi.

KTM memiliki pembalap penguji sarat pengalaman sekaliber Dani Pedrosa. Ducati mengandalkan Michele Pirro yang kerap turun sebagai wildcard maupun balap di Italia. Sedangkan Suzuki mempunyai test rider sekelas juara dunia Superbike, Sylvain Guintoli.  

Suka atau tidak, faktanya sistem konsesi membuat 15 atau 20 pembalap saat ini mampu dipisahkan hingga kurang dari satu detik.

  

dibagikan
komentar
Tujuh Lap Terbaik Marquez di Catalunya
Artikel sebelumnya

Tujuh Lap Terbaik Marquez di Catalunya

Artikel berikutnya

Tes MotoGP Catalunya: Yamaha 1-2, Honda Uji Fairing

Tes MotoGP Catalunya: Yamaha 1-2, Honda Uji Fairing
Muat komentar