Torehan Toyota di Reli Safari Ulang Sejarah 29 Tahun Lalu

Tidak banyak pabrikan yang mampu menempatkan perelinya finis empat besar di sebuah reli. Toyota mampu melakukannya hingga dua kali di ajang yang sama, Reli Safari Kenya.

Torehan Toyota di Reli Safari Ulang Sejarah 29 Tahun Lalu

Mungkin hanya satu kata yang tepat menggambarkan pencapaian Toyota pada Reli Safari Kenya, akhir pekan lalu (23-26/6/2022), fantastis. Menyapu bersih podium dalam satu lomba di Kejuaraan Dunia Reli (WRC) saja sudah susah.

Namun, Toyota mampu melakukannya tidak hanya tiga posisi teratas melainkan peringkat 1-2-3-4! Dalam sejarah WRC, hampir tidak pernah terdengar empat pereli satu pabrikan mampu merebut empat besar.

Meskipun begitu, Citroen mampu melakukannya di Reli Bulgaria 2010. Tetapi sebelum pabrikan asal Prancis itu, Toyota sudah lebih dulu melakukannya 29 tahun lalu.

Hebatnya, Toyota melakukannya dua kali di ajang yang sama seperti saat Kalle Rovanpera, Elfyn Evans, dan Sebastien Ogier finis 1-2-4 untuk Toyota Gazoo Racing World Rally Team (WRT) serta Takamoto Katsuta untuk Toyota Next Generation finis P3, Reli Safari Kenya.

Pada 1993, seluruh empat pereli Toyota turun dengan bendera yang sama, Toyota Castrol Team. Saat itu, Juha Kankkunen menjadi satu-satunya pereli reguler tim Toyota yang pergi ke Afrika setelah Didier Auriol absen.

Di Kenya, Kankkunen didampingi tiga pereli non-reguler Toyota, yakni Markku Alen, legenda Reli Safari Ian Duncan, dan Yasuhiro Iwase.

Keempatnya mengandalkan mobil terkuat di WRC saat itu, Toyota Celica Turbo 4WD ST185. Mobil ini dipakai Carlos Sainz merebut gelar WRC pada 1992, setahun sebelumnya.

Juha Kankkunen, Denis Giraudet, Toyota Celica Turbo 4WD, saat turun di Reli Finlandia 1993.

Juha Kankkunen, Denis Giraudet, Toyota Celica Turbo 4WD, saat turun di Reli Finlandia 1993.

Foto oleh: Motorsport Images

Satu-satunya pereli tim pabrikan (A8 M) yang menjadi rival Toyota di Reli Safari Kenya 1993 itu praktis hanya Kenjiro Shinozuka, yang menggeber Mitsubishi Lancer Evo I.     

Subaru saat itu menurunkan beberapa Vivio Sedan 4WD spesifikasi kelas A5 M yang salah satu di antaranya digeber Colin McRae.

Sementara, para pereli Lancia seperti Carlos Sainz dan Andrea Aghini serta Ford yang diperkuat Miki Biasion dan Francois Delecour, tidak turun. Mitsubishi Ralliart Europe juga hanya menurunkan Shinozuka dan mengistirahatkan pereli reguler: Armin Schwarz dan Kenneth Eriksson.  

Itulah mengapa saat Mitsubishi Lancer Evo I geberan Shinozuka mengalami kerusakan mesin, Toyota tidak tertahankan lagi.

Terlepas dari banyaknya pereli top yang absen di Reli Safari 1993 itu, Toyota tentu takkan mampu menempatkan keempat Celica 4WD ST185 di empat besar jika para pereli mereka melakukan kesalahan.

Juha Kankkunen akhirnya memenangi Reli Safari 1993, sukses ketiga dan terakhir di Kenya. Ia unggul sembilan menit atas Alen di P2. Sementara, Duncan yang tertinggal 1,5 jam dari Kankkunen mampu memaksa Iwase untuk finis P4 di Reli Safari 1993.

Reli Safari menjadi kemenangan pertama Kankkunen pada musim tersebut sebagai jalan untuk merebut gelar kampiun WRC 1993, trofi keempat dan terakhirnya setelah 1986, 1987, dan 1991.

Kalle Rovanpera, Jonne Halttunen, Toyota Gazoo Racing WRT Toyota GR Yaris Rally1, Elfyn Evans, Scott Martin, Toyota Gazoo Racing WRT Toyota GR Yaris Rally1, Takamoto Katsuta, Aaron Johnston, Toyota Gazoo Racing WRT NG Toyota GR Yaris Rally1

Kalle Rovanpera, Jonne Halttunen, Toyota Gazoo Racing WRT Toyota GR Yaris Rally1, Elfyn Evans, Scott Martin, Toyota Gazoo Racing WRT Toyota GR Yaris Rally1, Takamoto Katsuta, Aaron Johnston, Toyota Gazoo Racing WRT NG Toyota GR Yaris Rally1

Foto oleh: Toyota Racing

Pemenang Reli Safari 2022, Rovanpera, juga berasal dari Finlandia seperti Kankkunen. Seusai memenangi Reli Safari, pereli yang baru berusia 21 tahun itu makin kokoh di puncak klasemen dengan unggul hingga 65 poin atas rival terdekat Thierry Neuville (Hyundai Shell Mobis WRT).

Menarik untuk dilihat apakah Rovanpera juga mampu mengulang apa yang dilakukan Kankkunen. Membandingkan torehan Toyota antara musim 1993 dengan 2022 jelas mustahil mengingat besarnya perbedaan di Reli Safari serta WRC secara umum.

Kendati begitu, keberhasilan mengulang finis empat besar di salah satu reli bersejarah dalam WRC, jelas sesuatu yang membanggakan bagi mantan pereli yang kini menjadi Prinsipal Tim Toyota, Jari-Matti Latvala.

“Hasil (Reli Safari) ini sungguh luar biasa. Hampir 30 tahun lalu, tepatnya 1993, Toyota mampu melakukan hal yang sama di Reli Safari. Ini momen yang sangat jarang terjadi,” kata Latvala.

“Saya berterima kasih kepada tim dan para driver serta kru lain atas pekerjaan fantastis yang sudah mereka lakukan.”

Baca Juga:

 

 

 

 

dibagikan
komentar
FIA Akui Ada Salah Prosedur dalam Insiden Gus Greensmith
Artikel sebelumnya

FIA Akui Ada Salah Prosedur dalam Insiden Gus Greensmith

Artikel berikutnya

Elfyn Evans Terpaksa Aktifkan Mode Bertahan di Kenya

Elfyn Evans Terpaksa Aktifkan Mode Bertahan di Kenya