10 Murid Valentino Rossi, Empat Sabet Podium Misano

Valentino Rossi boleh dibilang sebagai pemilik tim sekaligus mentor yang sukses. Ia berhasil mengorbitkan para pembalap muda ke kejuaraan dunia motor prestisius, antara Moto3 hingga MotoGP.

10 Murid Valentino Rossi, Empat Sabet Podium Misano

VR46 Rider Academy merupakan sekolah di mana para pembalap muda bisa mengasah skill, belajar langsung dari juara dunia MotoGP tujuh kali tersebut. Mereka menggenjot fisik di sasana, melakukan persiapan atletik, berlatih dengan motocross serta belajar Bahasa Inggris. Ahli gizi disiapkan untuk menentukan pola makan calon bintang.

Karier para pilot yang jadi bagian The Ranch, juga diatur sedemikian rupa sehingga sukses dalam petualangannya.

Menariknya, investasi tidak dibayar di awal. Berdasarkan perjanjian, ketika pembalap itu sudah menghasilkan minimal 50 ribu euro (sekira Rp836,7 juta), ia mesti memberikan 10 persen dari pendapatannya.

Sudah ada sederet pembalap yang sudah punya nama di kelasnya masing-masing. Bahkan, pekan lalu, dalam MotoGP San Marino, ada empat pembalap jebolan sekolah yang didirikan pada 2013 itu, berdiri di podium Sirkuit Misano. Mereka adalah Francesco Bagnaia, Dennis Foggia, Andrea Migno dan Niccolo Antonelli.

Seharusnya, ada lima seandainya Romano Fenati tak terjatuh dan memaksimalkan pole position yang didapatkannya.

Baca Juga:

Berikut 10 murid Rossi yang kariernya bersinar. Beberapa yang sudah melepaskan diri, mungkin bikin menyesal.

1. Francesco Bagnaia

Pembalap Ducati tersebut diterima di akademi pada 2014 atau setahun setelah merusak taman neneknya saat diam-diam menunggangi Ducati Hypermortad milik sang paman. Talenta luar biasa makin bersinar setelah menyerap ilmu dari Rossi.

Ia berhasil mempersembahkan gelar juara dunia pertama untuk tim Sky VR46, yakni Moto2 2018. Pecco memborong delapan kemenangan dan merebut gelar satu putaran lebih cepat.

Pembalap 24 tahun itu promosi ke MotoGP pada tahun berikutnya. Jalan terjal dilalui selama dua musim akhirnya menemukan titik terang. Pada 2021, Bagnaia menjadi penantang juara dunia setelah menorehkan dua kemenangan dan empat podium lain. Ia jadi kampiun di Misano sehingga memangkas gap 48 poin dengan Fabio Quartararo.

Francesco Bagnaia, Ducati Team

Francesco Bagnaia, Ducati Team

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

2. Franco Morbidelli

Franky merupakan ‘kelinci percobaan’ VR46 Rider Academy. Keluarganya bahkan rela pindah ke Romagna demi membantu putranya mengejar impian. Kemenangan di Superstock 600 Eropa jadi tiket masuk.

Murid pertama akademi Rossi itu mendapat poin perdana pada 2014, debut podium tahun berikutnya dan menyegel juara dunia Moto2 2017. Itu adalah titel perdana untuk VR46 Academy.

Pamornya berkibar musim lalu, ditandai dengan tiga kemenangan bersama Petronas SRT, di atas M1 spek-A. Sayangnya, jalan Morbidelli tersendat karena performa motor lawas kurang meyakinkan dan cedera lutut kiri parah. Musim ini, ia hanya menjejak podium MotoGP Spanyol.

Pekan lalu, debut dengan tim pabrikan Yamaha Factory Racing, berakhir dengan peringkat ke-18.

Franco Morbidelli, Yamaha Factory Racing

Franco Morbidelli, Yamaha Factory Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

3. Luca Marini

Sebagai adik satu ibu, Marini memiliki akses mudah masuk ke akademi. Pembalap tersebut mulai terjun ke Moto3 2013 sebagai wild card. Setelah itu, kembali ke CEV Moto3 tahun berikutnya.

Pada 2015, ia langsung disuruh bertarung ke Moto2 dengan Pons Racing Junior Team. Enam tahun bertualang di kelas menengah diakhiri Marini dengan predikat runner-up untuk Sky VR46, total 6 kemenangan, 15 podium dan 5 pole position.

Musim ini, pembalap 24 tahun tersebut berdebut di MotoGP bersama Sky VR46 Avintia.

Marini menunjukkan gaya balap dingin, presisi dan pekerja keras.

Berbeda dengan rekan setimnya, Enea Bastianini, yang sudah menyegel podium, performa puncak Marini di MotoGP Austria dengan torehan peringkat kelima. Jelas bahwa ia masih perlu menimba pengalaman.

Luca Marini, Esponsorama Racing

Luca Marini, Esponsorama Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

4. Marco Bezzecchi

Bezzecchi merintis kariernya sejak usia enam tahun. Pemuda Rimini tersebut menjelajahi berbagai sirkuit dengan motor mini. Sukses di berbagai level, sang ayah, Vito, pun mengizinkannya bergabung dengan skuad Rossi.

Bez tampil di Moto3 saat usia 17 tahun. Pada 2018. ia bahkan berebut peringkat pertama dengan Jorge Martin dan Fabio Di Gianntonio.

Dari peringkat ketiga, Bezzecchi direkrut Red Bull KTM Tech3 untuk Moto2. Penampilan mengecewakan membuatnya dilepas ke Sky Racing Team VR46.

Momentum tersebut jadi titik tolak dalam kariernya. Dari posisi ke-23, ia bisa naik ke peringkat keempat lalu ketiga dengan total 13 podium dan tiga kemenangan. Musim depan, Bez promosi ke tim MotoGP.

Marco Bezzecchi, Sky Racing Team VR46 race

Marco Bezzecchi, Sky Racing Team VR46 race

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

5. Celestino Vietti

Pembalap tersebut boleh dibilang punya bakat sekaligus beruntung. Vietti masuk ke Moto3 karena ketidaksengajaan. Saat itu, ia menggantikan Nicolo Bulega. Hebatnya remaja itu langsung mendapat dua poin pada debutnya di GP Jepang dan naik podium ketiga di Australia.

Sebanyak 24 poin diraupnya hanya dalam empat lomba. Jatah tiket reguler tidak disia-siakan dan dibalas dengan peringkat keenam dan poin 5,5 kali lipat.

Vietti menaklukkan dua kemenangan pada 2020. Sekarang, pemuda 19 tahun itu membela Sky Racing Team VR46 untuk Moto2. Musim debutnya, dijalani dengan prestasi biasa saja.

Celestino Vietti, Sky Racing Team VR46

Celestino Vietti, Sky Racing Team VR46

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

6. Andrea Migno

Di usia 25 tahun, Migno masih berkutat di Moto3. Total sembilan tahun, ia berkompetisi di sana dan sempat keluar dari Sky Racing Team VR46.

Pada 2018, Angel Nieto Team menampungnya dan selanjutnya, pindah ke Bester Capital Dubai. Setelah dua tahun, ia dikembalikan ke skuad dari Tavullia itu.

“Saya sangat gembira bisa gabung lagi dengan VR46. Saya suka iklim di sini karena kami semua sudah kenal lama dan kami berteman. Metode kerjanya juga saya suka…,” tuturnya.

Migno merebut podium ketiga di Misano kemarin. Itu adalah salah satu dari delapan podium. Kemenangan semata wayang diperoleh di Mugello 2017.

Andrea Migno, Rivacold Snipers Team

Andrea Migno, Rivacold Snipers Team

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

7. Niccolo Antonelli

Dibanding dengan Migno, Antonelli lebih banyak makan asam garam Moto3. Selama satu dekade di ajang tersebut, ia mengoleksi kemenangan 4 kali dan 10 podium, di mana yang terbaru dari Misano,

Musim ini, pembalap Avintia Esponsorama tersebut finis di urutan ketiga Moto3 Doha, runner-up Moto3 Inggris dan San Marino.

“Hubungan antara para pembalap VR46 Academy sangat aneh. Bisa jadi teman juga lawan. Kadang kami bertengkar, tapi selesai di sana. Kami tahu saat di lintasan, kami mengambil jalan sendiri. Di luar, kami bermain playstation dan menghabiskan sore bersama, kadang makan malam bersama,” ia menjelaskan. “Saya ingin jadi juara dunia dan promosi ke Moto2.”

Andrea Migno, Rivacold Snipers Team, Niccolo Antonelli, Reale Avintia Moto3

Andrea Migno, Rivacold Snipers Team, Niccolo Antonelli, Reale Avintia Moto3

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

8. Romano Fenati (sudah keluar)

Sebenarnya, Fenati punya potensi jadi pembalap bagus. Selama sembilan musim di Moto3, dia memborong 13 kemenangan dan 29 podium.

Pembalap asal Ascoli Piceno tersebut sangat kencang dan berbakat, hanya saja temperamental. Ia pernah menendang Niklas Ajo saat warm up Moto3 Argentina 2015, lalu mematikan motornya saat menjalani pemanasan lap.

Puncaknya, VR46 mendepak Fenati pertengahan musim 2016 karena bersitegang dengan Uccio Salucci.

Sempat dibawa Marinelli Snipers ke Moto2 2018, ia kembali didiskualifikasi dua putaran karena mengenai tuas rem Stefano Manzi. Tim tersebut lantas membatalkan kontraknya.

Rider 25 tahun tersebut memutuskan turun ke Moto3 lagi pada 2019 dan berlabuh di Sterilgarda Max Racing Team. Musim ini, mendarat pada peringkat keempat.

Romano Fenati, Max Racing Team

Romano Fenati, Max Racing Team

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

9. Lorenzo Baldassarri (sudah keluar)

Baldassarri terikat dengan akademi sejak Maret 2015 dan memutuskan hengkang empat tahun kemudian. Alasannya, ingin lebih mandiri dan mencari peluang lebih luas yang sulit didapat jika masih bernaung di sana.

Sebelum pergi, ia meninggalkan tanda mata berupa lima kemenangan Moto2 dan 11 podium. Mentalnya diuji tahun ini bersama MV Agusta Forward Racing. Baldassarri baru menggenggam tiga poin dengan empat balapan sisa.

Lorenzo Baldassarri, MV Agusta Forward Racing

Lorenzo Baldassarri, MV Agusta Forward Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

10. Dennis Foggia (sudah keluar)

Foggia memutuskan mundur dari VR46 bersama-sama dengan Baldassari dan Bulega. Pemuda 20 tahun tersebut merasa impiannya tak sejalan lagi dengan tim. Saat itu, ia mendapat panggilan Leopard Racing.

“Saya punya target tapi saya tidak bisa melaju kencang dan trek mengonfirmasi itu. Dengan akademi, kami tidak mencapai kesepakatan sehingga seperti yang lainnya, saya memutuskan pergi. Ada masalah teknis dalam tim dan seseorang di sana, yang mendorong saya pergi,” ucapnya.

“Leopard memperlakukan saya seperti pembalap profesional ketika saya masuk ke garasi. Saya langsung merasa seperti di rumah.”

Foggia tampil memukau musim ini dan sedang berebut trofi juara dunia dengan Pedro Acosta.

Dennis Foggia, Leopard Racing

Dennis Foggia, Leopard Racing

Foto oleh: Gold and Goose / Motorsport Images

dibagikan
komentar
Balapan Usai, Para Pembalap MotoGP Bersiap Tes Misano

Artikel sebelumnya

Balapan Usai, Para Pembalap MotoGP Bersiap Tes Misano

Artikel berikutnya

Alberto Puig Kagumi Daya Juang Marquez di Tengah Rasa Sakit

Alberto Puig Kagumi Daya Juang Marquez di Tengah Rasa Sakit
Muat komentar