Standar Tinggi Race Suit Selamatkan Grosjean dari Luka Bakar Parah

Kecelakaan hebat yang menimpa Romain Grosjean, pembalap Tim Haas-Ferrari, pada lap pertama balap GP Bahrain, Minggu (29/11/2020) malam, menunjukkan lagi betapa pentingnya perlengkapan keselamatan pembalap, salah satunya race suit.

Standar Tinggi Race Suit Selamatkan Grosjean dari Luka Bakar Parah

Grosjean mengalami kecelakaan saat keluar dari Tikungan 3 (T3) pada lomba seri ke-15 Kejuaraan Dunia Formula 1 2020 di Sirkuit Internasional Bahrain (Sakhir).

Saat menghantam pembatas lintasan, kecepatan Haas VF-20 yang bermesin Ferrari 065 mencapai 137 mil/jam (sekira 220,48 km/jam) dengan kekuatan tabrakan lebih dari 50 G.

Mobil Grosjean terbelah dua hingga menimbulkan ledakan besar. Grosjean pun langsung dilarikan ke RS Departemen Pertahanan Bahrain dan hanya mengalami luka bakar ringan di kedua tangannya.

Lalu, apa yang membuat pembalap asal Prancis itu hanya mengalami luka bakar tidak fatal meskipun cukup lama berusaha keluar dan sangat besar membakar habis bagian depan dan kokpit mobilnya? 

Mobil Grosjean sendiri terbelah dua usai menghantam besi pembatas. Bagian belakang masih di dalam trek dan relatif tidak terbakar seperti kokpit dan bagian depan.

Baca Juga:

Pada pertengahan November 2019 lalu, Federasi Automobil Internasional (FIA) mengeluarkan standar tertinggi yang pernah mereka buat.

Mulai 2020, FIA mengeluarkan apa yang mereka sebut sebagai Protective Clothing Standard (8856-2018) yang wajib dipakai semua pembalap di Formula 1, Formula E (musim 6), Kejuaraan Dunia Reli/WRC (untuk pereli dan navigator), dan Kejuaraan Balap Ketahanan/World Endurance Championship (musim 2020-2021).

Sementara, untuk ajang-ajang seperti Formula 2, World Rallycross, dan Piala Dunia Reli Lintas Alam (FIA World Cup for Cross Country) baru diberlakukan pada 2021.

Dengan begitu, para pembalap dan pereli hanya boleh mengenakan pakaian dan kelengkapannya – baju balap (race suit), pakaian dalam, sarung tangan, dan sepatu – yang sudah melewati rangkaian tes sesuai Protective Clothing Standard (8856-2018).

Petugas medis membantu Romain Grosjean, pembalap Tim Haas F1, setelah mengalami kecelakaan di lomba GP Bahrain. Tampak race suit Grosjean tidak ikut terbakar.

Petugas medis membantu Romain Grosjean, pembalap Tim Haas F1, setelah mengalami kecelakaan di lomba GP Bahrain. Tampak race suit Grosjean tidak ikut terbakar.

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Dulu, para pembalap harus mengenakan race suit yang tidak hanya berat namun juga tidak begitu tahan panas. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah produsen perlengkapan balap menggunakan bahan seperti Nomex, sejenis serat karbon yang sangat ringan.

Sebelum 2020, para pembalap menggunakan race suit dan perlengkapan lain dengan standar homologasi FIA 8856-2000 yang dilansir hampir dua dekade lalu.

Dengan homologasi FIA Standard 8856-2018, semua perlengkapan balap harus melalui sejumlah tes yang baru. Salah satu yang terpenting adalah peningkatan standar Heat Transfer Index (HTI) hingga 20 persen.

Nuno Costa, Head of Competitor Safety FIA, menyebut peningkatan HTI sampai 20 persen dari standar sebelumnya (8856-2000) dimaksudkan untuk melindungi pembalap dari panasnya api langsung dan luka bakar tingkat dua.

FIA mulai mewajibkan pembalap F1 menggunakan race suit pada 1963. Baru pada 1975 mereka menerapkan standar race suit harus tahan api.

Sebagai perbandingan, sesuai standar sebelumnya (8856-2000), race suit harus mampu menahan panas 600 sampai 800 derajat Celsius minimal 11 detik. Bukan hanya bahan race suit, kelengkapannya dari retsleting, sarung tangan, hingga kaus kaki, juga harus mampu menahan panas setinggi itu.

Petugas medical car menarik Romain Grosjean, pembalap Haas F1, dari kobaran api yang membakar mobilnya di GP Bahrain, Minggu (29/11/2020) malam.

Petugas medical car menarik Romain Grosjean, pembalap Haas F1, dari kobaran api yang membakar mobilnya di GP Bahrain, Minggu (29/11/2020) malam.

Foto oleh: Andy Hone / Motorsport Images

Titik kritis temperatur, 41 derajat Celsius, juga harus tidak boleh menembus masuk ke dalam overall minimal 11 detik. Biasanya, dalam semusim pembalap memiliki race suit hingga 16 buah.

Hal penting lainnya adalah race suit harus mampu “bernapas”, mampu mengeluarkan panas dari keringat pembalap agar baju balap tidak bertambah berat.

Produsen peralatan olahraga seperti Puma kabarnya mampu mendesain race suit khusus pembalap F1 dengan berat hanya 650 gram. Berat dan ringannya race suit ini juga memengaruhi gerak pembalap saat akan keluar dari kokpit karena kecelakaan.

Namun, juara dunia F1 tujuh kali (2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020), Lewis Hamilton memiliki permintaan khusus.

Pembalap Tim Mercedes-AMG Petronas itu meminta Puma untuk mendesain race suit dan semua kelengkapannya tanpa jahitan. Tujuannya agar bobot total race suit berkurang hingga 10 gram.

Kini, dengan standar FIA (8856-2018) dan HTI yang baru, race suit harus mampu menahan panas langsung dari api minimal 20 detik. Pakaian dalam, kaus kaki, dan balaclava harus tahan lima detik, dan sepatu 11 detik. Sementara, sarung tangan minimal 10 detik, seperti tahun lalu.

Dengan aturan standar race suit dan perlengkapan lainnya yang seketat itu, tidak heran bila Romain Grosjean hanya mengalami luka bakar ringan pada tangannya.

Kecelakaan Romain Grosjean diyakini akan membuat FIA memperketat lagi standar peranti keselamatan pembalap, khususnya race suit.

 

dibagikan
komentar
McLaren Kecam Masih Ada Marshal yang Ceroboh

Artikel sebelumnya

McLaren Kecam Masih Ada Marshal yang Ceroboh

Artikel berikutnya

Galeri Foto: Mobil-mobil Balap Sepanjang Karier Fernando Alonso

Galeri Foto: Mobil-mobil Balap Sepanjang Karier Fernando Alonso
Muat komentar